Statistik Blog

Sabtu, 10 Mei 2014

Melihat dengan Telinga, Mendengar dengan Mata


 
            Sejak berkerumun, sekadar berfose dan membahas tentang hakekat berkomunikasi, aktivitas berpolitik sebenarnya tidak sedang bermulai sejak waktu itu. Berbagai teori dan figurisasi dengan melewati berbagai kurun waktu, tidak hanya saja menyimpan dokumentasi untuk menciptakan karakteristik perpolitikan pribumisasi, namun secara lambat laun namun pasti generalisasi yang sering disebut globalisasi, tidak hanya sekedar ‘membangunkan’ para petualang dan para pesilat lidah yang diam-diam selalu menyembunyikan dirinya karena tidak jauh berbeda dengan sudut pandang para profesionalisme di dunia employer yang lebih memilih menjadi warga asing karena appreciate yang lebih tinggi dibandingkan menjadi penduduk pribumi, atau lebih mapan aman sebagai pengamat saja, dunia politik dan dunia employer pada akhirnya juga mesti berurusan dengan dunia sastra. Kleden (2000), dalam Sastra Indonesia dalam 6 Pertanyaan, menyederhanakannya ibarat ‘pelukan terakrab’ yang serta merta atau mau tidak mau mereka harus memerankannya secara adil dan cerdas. Untuk memperluas dan memperkokoh identitas dan karier dua dunia tersebut, jikalau saja mereka terperangkap dalam logika kastaisasi, mereka dapat beralih profesi atau memperkokoh profesinya tersebut menjadi seorang sastrawan yang handal. Republika mereferensikannya, jikalau karier politik jatuh, mereka sebenarnya berpotensi dan bisa saja berperan atau langsung saja menjadi seorang penulis lintas geografis.

            Aktivitas politik sebenarnya bukan hanya sekadar mereformasi atau mereposisi berbagai kepentingan yang kompleks hitam putih atau berwarna pelangi. Tingkatan kebutuhan dari berbagai strata sosial, ekonomis, genetitas sudah semestinya dikelola sedemikian rupa hingga nilai-nilai keamanan, pemerataan, dan kesejahteraan dapat benar-benar terkoordinasi dan dirasakan benar oleh mereka yang sudah sejak dini tercatat sebagai warga Negara. Meskipun Plato dalam Republika memandangnya bahwa kedudukan individu dalam sebuah masyarakat dan Negara masih terus dalam tataran dialektika hingga menemukannya dalam sebuah penempatan cerdas yang dikenal sebagai the right man on the right place,  kedudukan individu hingga pemangku jabatan sejak dulu selalu bersifat fleksibel tidak kaku, namun proaktif dinamis dan terus intensif lurus berupaya menemukan keunggulan jati dirinya masing-masing. Freud seringkali menilainya sebagai sebuah lompatan identitas suara hati yang bersifat normal. Berbeda dengan Darwin, evolusi bukan saja sebuah bahasa yang sensual, namun sebuah missing link yang seringkali dianalogikan para filsuf-filsuf kuno semisal effendi. Simak saja tentang perilakunya dalam mencari sesuatu di tempat yang terang, padahal barang yang hilang tersebut berada di tempat yang gelap. Dan effendi secara bijak menjawab, “Kenapa harus mencari barang hilang di kegelapan, di tempat terang kan, semua akan terlihat jelas”.

            Hingar-bingar aktivitas politik, sejak dulu, sebenarnya tidak hanya dibingungkan oleh kemahaluasan hingga pengkerdilan wacana, teoritika, dan realitas yang wah, akan tetapi aktivitas politik sebenarnya sebuah ikhtiar kebijakan untuk menemukan kesemestaan nilai-nilai teokrasi, humanism, dan alam beserta isinya yang tunduk pada system absolute dan ikhtiar system yang dikehendaki. Tidak hanya sekadar menyadarkan kembali epistemology system ilmu pengetahuan egoism yang terkadang Sumbang melantunkannya sebagai sesuatu yang juga ada nilai baiknya, akan tetapi egoism adalah sebuah langkah-langkah perkasa, untuk sekadar sebentar melihat ke dalam, untuk ikut bersama-sama kembali menata ulang komposisi geografis yang seringkali tampak anggun, gagah dan terlanjur didefinisikan sebagai sebuah konfigurasi papan catur.  [AF]