Sejak
berkerumun, sekadar berfose dan membahas tentang hakekat berkomunikasi,
aktivitas berpolitik sebenarnya tidak sedang bermulai sejak waktu itu. Berbagai
teori dan figurisasi dengan melewati berbagai kurun waktu, tidak hanya saja
menyimpan dokumentasi untuk menciptakan karakteristik perpolitikan pribumisasi,
namun secara lambat laun namun pasti generalisasi
yang sering disebut globalisasi,
tidak hanya sekedar ‘membangunkan’ para petualang dan para pesilat lidah yang
diam-diam selalu menyembunyikan dirinya karena tidak jauh berbeda dengan sudut
pandang para profesionalisme di dunia employer
yang lebih memilih menjadi warga asing karena appreciate yang lebih tinggi dibandingkan menjadi penduduk pribumi,
atau lebih mapan aman sebagai pengamat saja, dunia politik dan dunia employer pada akhirnya juga mesti
berurusan dengan dunia sastra. Kleden (2000), dalam Sastra Indonesia dalam 6 Pertanyaan, menyederhanakannya ibarat
‘pelukan terakrab’ yang serta merta atau mau tidak mau mereka harus
memerankannya secara adil dan cerdas. Untuk memperluas dan memperkokoh
identitas dan karier dua dunia tersebut, jikalau saja mereka terperangkap dalam
logika kastaisasi, mereka dapat
beralih profesi atau memperkokoh profesinya tersebut menjadi seorang sastrawan
yang handal. Republika
mereferensikannya, jikalau karier politik jatuh, mereka sebenarnya berpotensi dan
bisa saja berperan atau langsung saja menjadi seorang penulis lintas geografis.
Aktivitas
politik sebenarnya bukan hanya sekadar mereformasi atau mereposisi berbagai
kepentingan yang kompleks hitam putih atau berwarna pelangi. Tingkatan
kebutuhan dari berbagai strata sosial, ekonomis, genetitas sudah semestinya
dikelola sedemikian rupa hingga nilai-nilai keamanan, pemerataan, dan
kesejahteraan dapat benar-benar terkoordinasi dan dirasakan benar oleh mereka
yang sudah sejak dini tercatat sebagai warga Negara. Meskipun Plato dalam Republika memandangnya bahwa kedudukan
individu dalam sebuah masyarakat dan Negara masih terus dalam tataran dialektika hingga menemukannya dalam
sebuah penempatan cerdas yang dikenal sebagai the right man on the right place, kedudukan individu hingga pemangku jabatan sejak
dulu selalu bersifat fleksibel tidak kaku, namun proaktif dinamis dan terus intensif
lurus berupaya menemukan keunggulan jati dirinya masing-masing. Freud seringkali
menilainya sebagai sebuah lompatan identitas suara hati yang bersifat normal.
Berbeda dengan Darwin, evolusi bukan saja sebuah bahasa yang sensual, namun sebuah missing link yang seringkali
dianalogikan para filsuf-filsuf kuno semisal effendi. Simak saja tentang
perilakunya dalam mencari sesuatu di tempat yang terang, padahal barang yang
hilang tersebut berada di tempat yang gelap. Dan effendi secara bijak menjawab,
“Kenapa harus mencari barang hilang di kegelapan, di tempat terang kan, semua
akan terlihat jelas”.
Hingar-bingar
aktivitas politik, sejak dulu, sebenarnya tidak hanya dibingungkan oleh kemahaluasan
hingga pengkerdilan wacana, teoritika, dan realitas yang wah, akan tetapi
aktivitas politik sebenarnya sebuah ikhtiar kebijakan untuk menemukan kesemestaan
nilai-nilai teokrasi, humanism, dan alam beserta isinya yang tunduk pada system absolute dan ikhtiar system yang
dikehendaki. Tidak hanya sekadar menyadarkan kembali epistemology system ilmu pengetahuan egoism yang terkadang Sumbang melantunkannya sebagai sesuatu yang
juga ada nilai baiknya, akan tetapi egoism adalah sebuah langkah-langkah
perkasa, untuk sekadar sebentar melihat ke dalam, untuk ikut bersama-sama kembali
menata ulang komposisi geografis yang seringkali tampak anggun, gagah dan terlanjur
didefinisikan sebagai sebuah konfigurasi papan catur. [AF]