Tuhan
yang menggratiskan, manusialah sebenarnya yang menarik ongkosnya. Ungkapan
sederhana ini pernah beredar di media massa sekitar tahun 2000-an sekadar untuk
memperkuat halaman tajuk yang sering disebut sebagai jantungnya sebuah berita.
Dan disela-sela sebuah perkuliahan, seorang dosen pernah mengingatkan bahwa
kenyataan memang sebenarnya tidak ada yang gratis. Semua harus berurusan dengan
logika angka-angka, meskipun untuk mencapai kesepakatan sebuah nilai atau
angka, semua bisa tawar-menawar dan dikompromikan untuk menemukan sebuah
kesepakatan, kesepahaman, dan saling menyenangkan . Al-Ghazali dalam ihya ‘ulumuddin menerangkan bahwa inti
dari jual beli itu sebenarnya sederhana. Suka sama suka, baligh (berakal), dan
tertulis.
Akan
tetapi kehidupan memang bukan hanya urusan jual beli semata. Dalam proses kehidupan
memberi dan saling menerima pada akhirnya memiliki nilai kebahagiaan tersendiri
yang tidak bisa diukur dan dijangkau dengan logika angka-angka sederhana begitu
saja. Memberi karena harta yang dimiliki sudah sewajarnya dan cukup untuk
diberikan, dan menerima karena harta yang dimiliki merasa sudah tidak mencukupi
lagi untuk menjalankan sebuah aktivitas. Ungkapan maaf, terima kasih, dan pertolongan,
adalah sebuah harta kekayaan yang sejak dulu sangat berharga hingga kini
meskipun itu semua seperti sebuah mata uang yang saling bersebelahan dengan
harta berbentuk barang atau nominal. Dan kebijaksanaan selalu menemukan
ruang-ruang untuk menemukan sebuah kebenaran meskipun untuk melaluinya harus
berhadapan dengan sejumlah argumentasi dan pemahaman yang luar biasa yang
terkadang tidak mudah untuk difahami. Tuhan sangat mengetahui benar kebutuhan
hamba-hambaNya. Dan Tuhan hanya membuat sebuah skenario, manusia sebenarnya
jangan terlalu susah-susah, perankan saja, dan lihat kembali kesudahannya.
Sebuah
akhir selalu menghendaki kebaikan. Dan kebaikan hanya diperoleh melalui proses
yang normal, wajar, dan panjang, berdasarkan pada nilai-nilai luhur yang
diyakini kebenarannya. Meskipun sebuah nilai rentan terhadap sebuah perubahan,
akan tetapi sebuah usaha dan kesabaran selalu berdampingan dengan kenyataan. Jujun
(1992), dalam Filsafat Ilmu
menjelaskan, bahwa ada beberapa tipe tentang pengetahuan. Ada orang yang tahu
di tahunya, ada orang tahu di tidak tahunya, ada orang yang tidak tahu di
tahunya, dan ada orang yang tidak tahu di tidak tahunya. Mereka memiliki nilai
tersendiri dan memiliki kesadarannya masing-masing. [AF]