Statistik Blog

Rabu, 14 Mei 2014

Berlomba-lomba dalam Kebaikan



            Tuhan yang menggratiskan, manusialah sebenarnya yang menarik ongkosnya. Ungkapan sederhana ini pernah beredar di media massa sekitar tahun 2000-an sekadar untuk memperkuat halaman tajuk yang sering disebut sebagai jantungnya sebuah berita. Dan disela-sela sebuah perkuliahan, seorang dosen pernah mengingatkan bahwa kenyataan memang sebenarnya tidak ada yang gratis. Semua harus berurusan dengan logika angka-angka, meskipun untuk mencapai kesepakatan sebuah nilai atau angka, semua bisa tawar-menawar dan dikompromikan untuk menemukan sebuah kesepakatan, kesepahaman, dan saling menyenangkan . Al-Ghazali dalam ihya ‘ulumuddin menerangkan bahwa inti dari jual beli itu sebenarnya sederhana. Suka sama suka, baligh (berakal), dan tertulis.
            Akan tetapi kehidupan memang bukan hanya urusan jual beli semata. Dalam proses kehidupan memberi dan saling menerima pada akhirnya memiliki nilai kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa diukur dan dijangkau dengan logika angka-angka sederhana begitu saja. Memberi karena harta yang dimiliki sudah sewajarnya dan cukup untuk diberikan, dan menerima karena harta yang dimiliki merasa sudah tidak mencukupi lagi untuk menjalankan sebuah aktivitas. Ungkapan maaf, terima kasih, dan pertolongan, adalah sebuah harta kekayaan yang sejak dulu sangat berharga hingga kini meskipun itu semua seperti sebuah mata uang yang saling bersebelahan dengan harta berbentuk barang atau nominal. Dan kebijaksanaan selalu menemukan ruang-ruang untuk menemukan sebuah kebenaran meskipun untuk melaluinya harus berhadapan dengan sejumlah argumentasi dan pemahaman yang luar biasa yang terkadang tidak mudah untuk difahami. Tuhan sangat mengetahui benar kebutuhan hamba-hambaNya. Dan Tuhan hanya membuat sebuah skenario, manusia sebenarnya jangan terlalu susah-susah, perankan saja, dan lihat kembali kesudahannya.
            Sebuah akhir selalu menghendaki kebaikan. Dan kebaikan hanya diperoleh melalui proses yang normal, wajar, dan panjang, berdasarkan pada nilai-nilai luhur yang diyakini kebenarannya. Meskipun sebuah nilai rentan terhadap sebuah perubahan, akan tetapi sebuah usaha dan kesabaran selalu berdampingan dengan kenyataan. Jujun (1992), dalam Filsafat Ilmu menjelaskan, bahwa ada beberapa tipe tentang pengetahuan. Ada orang yang tahu di tahunya, ada orang tahu di tidak tahunya, ada orang yang tidak tahu di tahunya, dan ada orang yang tidak tahu di tidak tahunya. Mereka memiliki nilai tersendiri dan memiliki kesadarannya masing-masing. [AF]