Dia
adalah seorang sahabat. Usia saat itu sekitar lima tahun. Wajahnya sekilas
seperti seorang aktor ternama luar dan dalam negeri, bedanya dia tidak
berkumis. Selain karena nasib dan entah, tak banyak bicara adalah salah
satu kelebihannya. Akan tetapi kalau bermain bola, berenang di lantai dengan
air seadanya, atau menarik layangan, sepertinya tak ada duanya. Misterius,
hati-hati, dan sorot matanya tajam. Dia juga sangat gemar berfose dan berfoto-foto.
Di alam bebas, sejuk, dan sedikit dingin, adalah latar yang sangat baik dan
menyimpan konfigurasi yang sangat bersejarah. Dia terbentuk oleh lingkungan alam,
system genetitas, dan formasi tradisi.
Wajahnya
oval, potongan rambutnya rapih, persis seperti seorang serdadu. Kalau berfose, wajahnya
serius, berdiri tegap, tak ada senyuman, seakan tak mudah diganggu oleh
siapapun termasuk kerabatnya sendiri. Di ruang-ruang kelas atau ruang-ruang sepermainan,
sikapnya tak jauh berbeda. Bermain congklak,
sorodot gaplok, tali karet, perang-perangan dengan pistol terbuat dari kayu
berpeluru tanah liat dan kacang hijau, atau menyelam di kolam berlumpur,
biasanya aktivitas tambahan di waktu sore. Kalau bermain layangan hingga waktu maghrib, biasanya orang tua turun
tangan. Tak peduli usai shubuh, kalau
sudah ada yang bermain layangan, biasanya lekas meniru, dan orang tua lagi-lagi
turun tangan. Dia sangat baik. Tidak pernah mencontek, berurusan dengan penjaga
sekolah, atau seorang guru sekalipun. Dia pun sangat pandai membaca situasi.
Akan tetapi sayangnya seorang manajer sepak bola saat itu sepertinya kurang
cerdas membaca formasi dan kelebihan para pemain. Yang menonjol dan intensif
bermain, biasanya yang sering dipilih manajer untuk menyerang atau bertahan.
Padahal dia sangat cerdas dan pandai membaca situasi. Dia juga sepertinya
menyukai musik dan menonton film layar tancap.
Berjongkok,
berjalan perlahan, atau menjawab sedikit pertanyaan, adalah kegemarannya. Sikapnya
luwes, tidak kaku, dan pandai menempatkan diri. Sedikit dipoles dan berteman
dengan seorang pengamat bola, arsitektur, atau seorang komponis arrangement, sudah dipastikan kekuatan managerial
intern eksternnya akan lebih unggul. Sepertinya dia tidak ada soal dan urusan
dengan budgeting angka-angka nominal atau
persoalan regenerasi. Hidup sudah diatur dari sononya, terima apa
adanya, system biar berjalan
seadanya, biarlah teman-teman berdiri tegap kokoh di atas kakinya sendiri dengan sejumlah
programnya, laporan cukup setahun sekali atau tak terduga, tak ada ikatan
memberatkan, cukup seperti warung kopi, datang, sebentar muncul
bercakap, lalu pergi lagi
untuk kembali dengan sejumlah persoalan atau mengikuti perputaran waktu yang
bisa diubah-ubah sesukanya. Hidup pun harus sederhana. Di persoalan banyak, menjadi
penerang adalah sebuah bentuk kedewasaan dan sebuah bentuk pencerdasan diri dan pencerdasan di
luar dirinya yang rentan aktif dinamis non stagnan. [AF]