Statistik Blog

Sabtu, 03 Mei 2014

Ih




            Dia adalah seorang sahabat. Usia saat itu sekitar lima tahun. Wajahnya sekilas seperti seorang aktor ternama luar dan dalam negeri, bedanya dia tidak berkumis. Selain karena nasib dan entah, tak banyak bicara adalah salah satu kelebihannya. Akan tetapi kalau bermain bola, berenang di lantai dengan air seadanya, atau menarik layangan, sepertinya tak ada duanya. Misterius, hati-hati, dan sorot matanya tajam. Dia juga sangat gemar berfose dan berfoto-foto. Di alam bebas, sejuk, dan sedikit dingin, adalah latar yang sangat baik dan menyimpan konfigurasi yang sangat bersejarah. Dia terbentuk oleh lingkungan alam, system genetitas, dan formasi tradisi.
            Wajahnya oval, potongan rambutnya rapih, persis seperti seorang serdadu. Kalau berfose, wajahnya serius, berdiri tegap, tak ada senyuman, seakan tak mudah diganggu oleh siapapun termasuk kerabatnya sendiri. Di ruang-ruang kelas atau ruang-ruang sepermainan, sikapnya tak jauh berbeda. Bermain congklak, sorodot gaplok, tali karet, perang-perangan dengan pistol terbuat dari kayu berpeluru tanah liat dan kacang hijau, atau menyelam di kolam berlumpur, biasanya aktivitas tambahan di waktu sore. Kalau bermain layangan hingga waktu maghrib, biasanya orang tua turun tangan. Tak peduli usai shubuh, kalau sudah ada yang bermain layangan, biasanya lekas meniru, dan orang tua lagi-lagi turun tangan. Dia sangat baik. Tidak pernah mencontek, berurusan dengan penjaga sekolah, atau seorang guru sekalipun. Dia pun sangat pandai membaca situasi. Akan tetapi sayangnya seorang manajer sepak bola saat itu sepertinya kurang cerdas membaca formasi dan kelebihan para pemain. Yang menonjol dan intensif bermain, biasanya yang sering dipilih manajer untuk menyerang atau bertahan. Padahal dia sangat cerdas dan pandai membaca situasi. Dia juga sepertinya menyukai musik dan menonton film layar tancap.
            Berjongkok, berjalan perlahan, atau menjawab sedikit pertanyaan, adalah kegemarannya. Sikapnya luwes, tidak kaku, dan pandai menempatkan diri. Sedikit dipoles dan berteman dengan seorang pengamat bola, arsitektur, atau seorang komponis arrangement, sudah dipastikan kekuatan managerial intern eksternnya akan lebih unggul. Sepertinya dia tidak ada soal dan urusan dengan budgeting angka-angka nominal atau persoalan regenerasi. Hidup sudah diatur dari sononya, terima apa adanya, system biar berjalan seadanya, biarlah teman-teman berdiri tegap kokoh di atas kakinya sendiri dengan sejumlah programnya, laporan cukup setahun sekali atau tak terduga, tak ada ikatan memberatkan, cukup seperti warung kopi, datang, sebentar muncul bercakap, lalu pergi lagi untuk kembali dengan sejumlah persoalan atau mengikuti perputaran waktu yang bisa diubah-ubah sesukanya. Hidup pun harus sederhana. Di persoalan banyak, menjadi penerang adalah sebuah bentuk kedewasaan dan sebuah bentuk pencerdasan diri dan pencerdasan di luar dirinya yang rentan aktif dinamis non stagnan. [AF]