Nasution
pernah meneliti bahwa ayat-ayat bertema sosial lebih banyak diketemukan dalam literatur klasik kuno timur tengah. Dan
silaturahmi, umumnya seringkali difahami sebagai langkah untuk menghubungkan
nilai-nilai persaudaraan. Nilai-nilai persaudaraan yang dibumbui dengan hasrat
kasih sayang yang sudah tertanam semenjak dini, bahkan semenjak dalam
kandungan, kasih sayang sudah semestinya
selalu dirawat, ditanam, dipupuk, hingga dituai hasilnya untuk keberlangsungan
hidup antar generasi. Seperti halnya sebuah tanaman, silaturahmi semakin tumbuh,
meluas, dan mengakar. Dia senantiasa menyentuh ruang kesadaran antar individu,
kelompok, hingga dinamika lubuk hati yang terus-menerus tidak stagnan. Ia
dinamis, adaptif, dan selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan alam atau
seringkali disebut ilustrasi fenomena sosial dan ilustrasi fenomena alam.
Sunaryo,
dalam tribun, menyebutnya ini sebagai
tantangan dan sebuah bangunan visi dan misi kependidikan yang senantiasa harus
terus dimanifestasikan dan dikonsolidasikan sedemikian rupa hingga membentuk
konfigurasi dan bangunan nilai-nilai kebangsaan yang kuat, kokoh, dan berfikir
global, sebagai sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindarkan, yang dapat jelas
terdeteksi melalui bangunan informasi hingga nilai-nilai inklusif terbuka yang
lalu-lalang berseliberan menyentuh tatanan nilai hingga pola pikir paradigm melalui berbagai wacana, media,
hingga produk-produk lintas geografis hingga lintas ideologis. Kekayaan dan
kenyataan ini seringkali dijadikan sebuah referensi dalam upaya membangun sebuah
peradaban yang natural bermetamorfosa dan senantiasa beralih tangan sesuai
dengan tatanan, kekuatan, kecerdasan, dan daya partisipasi ikut serta komponen
bangsa tersebut dalam mengusung dan mendukung idealism yang bukan hanya terbukti hasilnya namun kaya dengan
gagasan yang terukur dan daya kekuatan infrastruktur
maupun human power untuk
merealisasikan gagasan-gagasan tersebut.
Pemetaan
dimanapun bukan semata hanya untuk mengetahui alur aktivitas, kondisi sosial,
alam, hingga kebiasaan aktivitas sosial secara keseluruhan, namun pemetaan
adalah sebuah keharusan dan sebuah strategi untuk membangun, menguatkan, dan
menghubungkan hal-hal yang bersifat mendesak tadi hingga hal-hal yang dianggap
biasa dan relative mudah untuk diselesaikan. Silaturahmi, selain didasarkan
pada kesadaran diri dan kesadaran global dalam menata diri dan menata bangunan human power dan infrastruktur power, silaturahmi adalah aktivitas yang sudah biasa.
Karena kebiasaannya tersebut pada umumnya system
maupun non system mengangapnya sebagai
hal yang wajar dan bukan hal yang
dianggap aneh. Satu hal pasti, nilai-nilai silaturahmi ibarat sebuah pepatah
kuno. Alon-alon, asal kelakon. Kurang
lebih perlahan-lahan, namun pekerjaan apapun sebaiknya dapat diselesaikan dengan
sebaik-baiknya. Atau munjung ka Indung, muja ka Bapa. Agungkanlah Ibumu, pujalah Bapakmu. Lebih
jauh Raden Ajeng Kartini mempopulerkannya, habis
gelap terbitlah terang. [AF]