Aktivitas, pada
tataran apapun menghendaki kesungguhan. Ia tidak mengenal berapa banyak harta
kekayaan yang dimiliki, seberapa tinggi kekuasaan yang diperankan, sejauh mana
mata memandangi spektrum fatamorgana alam makrokosmos, sebagai product intelligence on God statement.
Aktivitas pun lintas usia. Seberapa besar aktivitas, waktu, kemampuan statistik
system biologis yang terukur, dan
komitmen terhadap aktivitas tersebut, seyakinnya akan menentukan konfigurasi kualitas
yang terbentuk. Seperti halnya perjalanan waktu, aktivitas pun rentan terhadap
pergerakan, namun sebenarnya mereka tetap berputar-putar pada tempat yang
serupa, dengan imajinasi dan perkembangan paradigm yang terbentuk, apalagi seandainya
mereka terlihat dari tempat tertinggi.
Konfigurasi kotak
monopoly, sebenarnya tidak sekadar mengaktivkan intelegensi para players, akan
tetapi menghendaki rule of the game
yang cerdas, visi yang jelas, dan kemampuan memilih dan menempatkan sesuatu
pada tempatnya. Kaum filosofi terdahulu sering mengingatkannya sebagai sebuah balancing product sebagai ikhtiar
berpikir melingkar dalam merevisi, memaknai, dan memahami perilaku internal dan
eksternalnya sekadar berevolusi dan tunduk terhadap keinginan dan ketentuan Tuhan.
Meskipun misteriusitas adalah sebuah penerjemahan terhadap realitas sosial, aktivitas
menghendaki perjalanan berketidak sudahan yang didasarkan pada system nilai yang
dianut. Kembarisasi, historika, visualisasi, ataupun rekamisasi, selain sebagai
metode pencerdasan, pun mereka sangat bernilai untuk mencairkan beberapa urat
syaraf yang sadar tak sadar sebentar menegangkan, dimana para analisis biologis
menilainya sebagai ketidakseimbangan tubuh yang berakhir pada kekecewaan. Para manager,
hingga office boy dimanapun sangat menghindari
hal tersebut. Meskipun komposisi fenomena alam dan fenomena social relative miskin
untuk diterjemahkan gambarannya, setidak-tidaknya bersandar pada nilai-nilai
sederhana dan kuat kokoh mudah dijalankan, sudah cukup kiranya untuk terus berdiri
tersenyum yakin untuk melanjutkan berbagai agenda, dengan tingkat persoalan
yang berbeda-beda.
Aktivitas seorang
balita, akan dibanggakan orang tua kemudian, karena ia dapat berdiri dan
melangkah walaupun hanya beberapa langkah. Aktivitas seorang anak tingkat TK
akan dibanggakan kemudian karena ia dapat terampil memadukan antara aktivitas
intelegensi, afeksi dan motorik kelenturan dalam berperilaku. Aktivitas seorang
anak tingkat SD akan dibanggakan kemudian karena ia tidak sekadar dapat melihat
nilai raport berwarna biru semata, namun sedikit dapat melihat konfigurasi
tingkat SMP dan seterusnya. [AF]