Statistik Blog

Senin, 21 April 2014

Mengelola Perbedaan


            Perbedaan sebenarnya lumrah, alamiah, dan tak kenal usia maupun siapapun. Bukan hanya terlihat dan terdengar, perbedaan hampir dipastikan menyentuh seluruh aspek kehidupan. Gynanjar, usahawan muda sukses pribumi, lagi-lagi menebalkan bahwa perbedaan itu semestinya bermuara pada saling menguatkan dan mengikatkan antara satu dengan yang lainnya. Permasalahan kemudian yang sering ditemukan di lapangan, sejak dulu, adalah lagi-lagi pada hal penguatan identitas, keajegan pada profesionalitas, kelenturan dalam memerani kemauan dan kemampuan, cerdik membaca perilaku konsumen, dan cerdas dalam membangun motivasi pada iklim dan karakteristik humanism yang bertingkat-tingkat.
Identitas adalah kemenonjolan diri. Identitas terbentuk bukan sekadar karena factor genetitas keturunan, akan tetapi identitas terbentuk dan terkendali karena transfer ilmu pengetahuan yang baik, management diri yang cerdas, bentukan lingkungan yang sehat, adaptasi atau pola penyaringan yang hati-hati terhadap serangan arus informasi global, dan pengawasan yang cerdik terhadap fenomena yang agak miring yang sering ditemukan dalam perkembangan kepribadian setiap individu. Kebersamaan, ibarat sebuah sapu lidi yang berjumlah, akan selalu mudah menyelesaikan setiap permasalahan dibandingkan dengan satu lidi dalam menghadapi permasalahan. Keajegan pada profesionalitas terbentuk karena profesi yang dijalani sesuai dengan keinginan dan kemampuan. Keajegan atau bertahan pada keahlian tertentu mesti diiringi dengan pola peningkatan diri yang terus menerus. Ia bisa terbentuk secara otodidak mandiri, atau melalui jalur formal yang berkualitas dan terjangkau.  Sedangkan kelenturan, ibarat seorang pejudo atau pesenam, dia terbentuk karena kesungguhan dan latihan yang terus menerus diulang-ulang terhadap bidang yang dijalani.
            Cerdik membaca konsumen artinya cerdik memahami kebutuhan pengguna barang atau pemakai jasa. Kebutuhan seorang anak balita tentu sangat berbeda dengan kebutuhan seorang anak belasan tahun ke atas. Seorang anak balita adalah usia yang sangat membutuhkan belaian kasih sayang orang tua, asupan gizi susu dan makanan yang ringan-ringan namun bergizi tinggi, dan mereka membutuhkan suasana lingkungan yang aman dan nyaman. Tidak jauh berbeda dengan anak usia belasan ke atas, mereka pun sangat membutuhkan lingkungan yang aman dan nyaman. Lingkungan aman dan nyaman pun terbentuk karena setiap individu memiliki keyakinan yang tinggi yang terus-menerus dibentuk dan kemampuan mengelola tanggung jawabnya masing-masing baik terhadap dirinya sendiri maupun lingkungan yang lebih luas lagi. Dan motivasi atau dorongan diri atau kekuatan untuk membangun suasana, ibarat sebuah komposisi lagu atau suara orkesta musik yang pas diperdengarkan pada waktu dan tempat yang tepat. Ibarat sebuah menu makanan, dorongan atau motivasi pun terbentuk karena kemampuan memilih dan memilah makanan dan minuman yang bernilai gizi tinggi. Selebihnya motivasi memang bukanlah sebuah akhir. Dia terbentuk bukan hanya karena sebuah keharusan akan tetapi dia pun terbentuk karena kemakluman dan empati yang luar biasa dalam memahami gejolak perkembangan kepribadian diri sendiri maupun perkembangan kepribadian di luar dirinya sendiri. [AF]