Perbedaan
sebenarnya lumrah, alamiah, dan tak kenal usia maupun siapapun. Bukan hanya terlihat dan terdengar,
perbedaan hampir dipastikan menyentuh seluruh aspek kehidupan. Gynanjar,
usahawan muda sukses pribumi, lagi-lagi menebalkan bahwa perbedaan itu semestinya
bermuara pada saling menguatkan dan mengikatkan antara satu dengan yang lainnya.
Permasalahan kemudian yang sering ditemukan di lapangan, sejak dulu, adalah
lagi-lagi pada hal penguatan identitas, keajegan pada profesionalitas,
kelenturan dalam memerani kemauan dan kemampuan, cerdik membaca perilaku
konsumen, dan cerdas dalam membangun motivasi pada iklim dan karakteristik
humanism yang bertingkat-tingkat.
Identitas adalah kemenonjolan diri. Identitas
terbentuk bukan sekadar karena factor genetitas keturunan, akan tetapi
identitas terbentuk dan terkendali karena transfer ilmu pengetahuan yang baik, management
diri yang cerdas, bentukan lingkungan yang sehat, adaptasi atau pola
penyaringan yang hati-hati terhadap serangan arus informasi global, dan
pengawasan yang cerdik terhadap fenomena yang agak miring yang sering ditemukan
dalam perkembangan kepribadian setiap individu. Kebersamaan, ibarat sebuah sapu
lidi yang berjumlah, akan selalu mudah menyelesaikan setiap permasalahan dibandingkan
dengan satu lidi dalam menghadapi permasalahan. Keajegan pada profesionalitas
terbentuk karena profesi yang dijalani sesuai dengan keinginan dan kemampuan.
Keajegan atau bertahan pada keahlian tertentu mesti diiringi dengan pola
peningkatan diri yang terus menerus. Ia bisa terbentuk secara otodidak mandiri,
atau melalui jalur formal yang berkualitas dan terjangkau. Sedangkan kelenturan, ibarat seorang pejudo
atau pesenam, dia terbentuk karena kesungguhan dan latihan yang terus menerus
diulang-ulang terhadap bidang yang dijalani.
Cerdik membaca konsumen artinya cerdik
memahami kebutuhan pengguna barang atau pemakai jasa. Kebutuhan seorang anak
balita tentu sangat berbeda dengan kebutuhan seorang anak belasan tahun ke
atas. Seorang anak balita adalah usia yang sangat membutuhkan belaian kasih
sayang orang tua, asupan gizi susu dan makanan yang ringan-ringan namun bergizi
tinggi, dan mereka membutuhkan suasana lingkungan yang aman dan nyaman. Tidak
jauh berbeda dengan anak usia belasan ke atas, mereka pun sangat membutuhkan
lingkungan yang aman dan nyaman. Lingkungan aman dan nyaman pun terbentuk
karena setiap individu memiliki keyakinan yang tinggi yang terus-menerus
dibentuk dan kemampuan mengelola tanggung jawabnya masing-masing baik terhadap dirinya
sendiri maupun lingkungan yang lebih luas lagi. Dan motivasi atau dorongan diri
atau kekuatan untuk membangun suasana, ibarat sebuah komposisi lagu atau suara
orkesta musik yang pas diperdengarkan pada waktu dan tempat yang tepat. Ibarat
sebuah menu makanan, dorongan atau motivasi pun terbentuk karena kemampuan memilih dan
memilah makanan dan minuman yang bernilai gizi tinggi. Selebihnya motivasi
memang bukanlah sebuah akhir. Dia terbentuk bukan hanya karena sebuah keharusan
akan tetapi dia pun terbentuk karena kemakluman dan empati yang luar biasa
dalam memahami gejolak perkembangan kepribadian diri sendiri maupun
perkembangan kepribadian di luar dirinya sendiri. [AF]