Statistik Blog

Sabtu, 19 April 2014

Cermin, Malam, dan Nirwana


            Cermin. Bukan karena suara waktu, kedua kaki itu melangkah beberapa langkah ke beberapa tempat. Akan tetapi terkadang karena ada sebagian komponen organ biologis lah yang nyaman mendesak dan menuntun sepasang kaki itu menuju tempat yang seharusnya dan semestinya. Meskipun komposisi yang terlihat dan terdengar menunjukkan formasi kemahacintaan dan pengembaraan keingintahuan dan pelaksanaan kata-kata yang datang silih berganti dari berbagai bentuk, warna suara, usia, hingga tinggi rendahnya bentuk struktur tubuh, namun satu hal yang pasti bahwa arah jarum jam selalu berputar ke sebelah kanan, terkecuali jarum jam itu terlihat dalam sebuah cermin. Melihat cermin, bentuk apapun hampir selalu dipastikan terlihat berlawanan. Akan tetapi cermin tidak mengenal perbedaan antara posisi atas atau posisi bawah. Cermin hanya jelas terus membuka dialog antara posisi kanan-kiri atau posisi kiri-kanan. Sungguh tidak mungkin ketika siapapun becermin, gambaran dalam cermin akan terlihat kepala seseorang berada di bawah, atau kaki seseorang itu akan terbalik ke atas. Lagi-lagi terkecuali cermin itu dimodifikasi sedemikian rupa oleh mereka yang benar-benar ahli dalam hal pecerminan hingga hal-hal sebelumnya itu mungkin saja terjadi.
                Malam. Sebenarnya hal yang pertamalah yang selalu menjadi bahan pertimbangan dan kebijakan dalam mengambil sebuah keputusan. Meskipun sebuah akhir terkadang lebih unggul dari tempat manapun, akan tetapi melewati sebuah jembatan yang dibangun, selalu saja akan lebih mempercepat jarak, waktu, dan tenaga. Terkecuali siapapun tidak terlalu memperhitungkan jarak, waktu, dan tenaga, hingga kemanapun dan bagaimanapun akhirnya, tidaklah menjadi sebuah catatan. Akan tetapi pada umumnya berpikir dan bertindak sedikit pengeluaran untuk mendapatkan hasil yang melimpah dan berkualitas, selalu menjadi pertimbangan siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Tidak peduli miskin-kaya, tua-muda, atau pria-wanita, seandainya sekarung uang terlihat di depan mata, hal pertama yang terlintas tentu saja akan berbeda-beda untuk hampir dikatakan serupa. Seandainya sejumlah uang itu menjadi hak milik perorangan, maka daftar kebutuhan pun mungkin akan makin terlihat memanjang atau melebar. Sangat tidak jauh berbeda dengan sebuah teori lama, susah masuknya uang, maka akan susah pula keluarnya uang. Akan tetapi uang bukanlah apa-apa. Uang hanyalah sebuah ruang kertas atau logam yang hanya diisi oleh sejumlah nomor seri, nilai nominal,  atau sejumlah gambar ternama, sebagai alat tukar barang atau alat komunikasi yang canggih dan paling efektif, untuk memberikan sebuah informasi, sekadar reflex menarik pinggir bibir kiri atau pinggir bibir kanan, atau hanya sekadar melukiskan saja apa yang terlihat dan terdengar di sekeliling semata. Dan itu semua, cukuplah Tuhan dan suara hati masing-masing sajalah  yang mengetahuinya. Dan Tuhan, sangat cerdik mengetahui aktivitas dan seluruh kebutuhan hamba-hambaNya.
                Nirwana. Bukan karena Dia merasa sepi dan sunyi lalu terciptalah seluruh alam semesta beserta isinya dengan sejumlah pasangannya. Akan tetapi karena Dia dengan sejumlah sifatNyalah yang hanya mengetahuinya seluruh apapun yang nyaris terlupakan dan terabaikan oleh siapapun. Lagi-lagi tingkat kesadaran selalu berpijak pada teori bertingkat-tingkat, emperisme experience  pengalaman, dan sedikit bersandar pada referensi keserbatidaksengajaan. Akan tetapi  seorang artistic selalu mahir mereposisi kembali tatanan yang sedikit agak miring karena kesengajaan, ketidaksengajaan atau lagi-lagi hanya Tuhanlah yang sanggup menjelaskannya, meskipun hanya melalui suara halilintar atau serbuan suara hujan sekalipun. [AF]