Cermin. Bukan karena
suara waktu, kedua kaki itu melangkah beberapa langkah ke beberapa tempat. Akan
tetapi terkadang karena ada sebagian komponen organ biologis lah yang nyaman mendesak
dan menuntun sepasang kaki itu menuju tempat yang seharusnya dan semestinya.
Meskipun komposisi yang terlihat dan terdengar menunjukkan formasi kemahacintaan
dan pengembaraan keingintahuan dan pelaksanaan kata-kata yang datang silih
berganti dari berbagai bentuk, warna suara, usia, hingga tinggi rendahnya
bentuk struktur tubuh, namun satu hal yang pasti bahwa arah jarum jam selalu
berputar ke sebelah kanan, terkecuali jarum jam itu terlihat dalam sebuah
cermin. Melihat cermin, bentuk apapun hampir selalu dipastikan terlihat
berlawanan. Akan tetapi cermin tidak mengenal perbedaan antara posisi atas atau
posisi bawah. Cermin hanya jelas terus membuka dialog antara posisi kanan-kiri
atau posisi kiri-kanan. Sungguh tidak mungkin ketika siapapun becermin,
gambaran dalam cermin akan terlihat kepala seseorang berada di bawah, atau kaki
seseorang itu akan terbalik ke atas. Lagi-lagi terkecuali cermin itu
dimodifikasi sedemikian rupa oleh mereka yang benar-benar ahli dalam hal
pecerminan hingga hal-hal sebelumnya itu mungkin saja terjadi.
Malam.
Sebenarnya hal yang pertamalah yang selalu menjadi bahan pertimbangan dan
kebijakan dalam mengambil sebuah keputusan. Meskipun sebuah akhir terkadang
lebih unggul dari tempat manapun, akan tetapi melewati sebuah jembatan yang
dibangun, selalu saja akan lebih mempercepat jarak, waktu, dan tenaga.
Terkecuali siapapun tidak terlalu memperhitungkan jarak, waktu, dan tenaga, hingga
kemanapun dan bagaimanapun akhirnya, tidaklah menjadi sebuah catatan. Akan
tetapi pada umumnya berpikir dan bertindak sedikit pengeluaran untuk
mendapatkan hasil yang melimpah dan berkualitas, selalu menjadi pertimbangan
siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Tidak peduli miskin-kaya, tua-muda, atau
pria-wanita, seandainya sekarung uang terlihat di depan mata, hal pertama yang
terlintas tentu saja akan berbeda-beda untuk hampir dikatakan serupa.
Seandainya sejumlah uang itu menjadi hak milik perorangan, maka daftar
kebutuhan pun mungkin akan makin terlihat memanjang atau melebar. Sangat tidak
jauh berbeda dengan sebuah teori lama, susah masuknya uang, maka akan susah
pula keluarnya uang. Akan tetapi uang bukanlah apa-apa. Uang hanyalah sebuah
ruang kertas atau logam yang hanya diisi oleh sejumlah nomor seri, nilai
nominal, atau sejumlah gambar ternama, sebagai
alat tukar barang atau alat komunikasi yang canggih dan paling efektif, untuk
memberikan sebuah informasi, sekadar reflex menarik pinggir bibir kiri atau pinggir bibir
kanan, atau hanya sekadar melukiskan saja apa yang terlihat dan terdengar di
sekeliling semata. Dan itu semua, cukuplah Tuhan dan suara hati masing-masing
sajalah yang mengetahuinya. Dan Tuhan,
sangat cerdik mengetahui aktivitas dan seluruh kebutuhan hamba-hambaNya.
Nirwana.
Bukan karena Dia merasa sepi dan sunyi lalu terciptalah seluruh alam semesta
beserta isinya dengan sejumlah pasangannya. Akan tetapi karena Dia dengan
sejumlah sifatNyalah yang hanya mengetahuinya seluruh apapun yang nyaris
terlupakan dan terabaikan oleh siapapun. Lagi-lagi tingkat kesadaran selalu
berpijak pada teori bertingkat-tingkat, emperisme
experience pengalaman, dan sedikit
bersandar pada referensi keserbatidaksengajaan. Akan tetapi seorang artistic
selalu mahir mereposisi kembali tatanan yang sedikit agak miring karena
kesengajaan, ketidaksengajaan atau lagi-lagi hanya Tuhanlah yang sanggup
menjelaskannya, meskipun hanya melalui suara halilintar atau serbuan suara hujan
sekalipun. [AF]