Alam semesta, dunia, dari berbagai
banyaknya pandangan, memang bukan sebuah akhir perjalanan. Meskipun alam
nirwana suwarga seringkali dinilai sebagai akhir sebuah perjalanan, kehidupan di dunia pun, seringkali dijadikan bayang-bayang titik akhir, dimana panggung sandiwara
dijadikan sebagai lahan yang memiliki penjelasan kerja tertentu yang mesti
diperankan oleh berbagai kalangan dan bermacam tingkatan, sejak mulai pribadi, keluarga, hingga
lingkungan yang lebih luas lagi. Barangsiapa yang mampu memerankan
sebaik-baiknya peran tersebut sesuai dengan harapan dan keinginan
produser, sutradara, sponsor, hingga masyarakat penikmat tontonan yang syarat
akan nilai-nilai penuh makna, biasanya aktor atau aktris tersebut akan mendapat
pengakuan hingga penghargaan yang terkadang tidak bisa diukur dan dihitung
secara matematis begitu saja. Dan dunia real
nyata terkadang memang tidak jauh berbeda dengan dunia sandiwara untuk sekadar
dengan tenang namun tetap konsisten, senantiasa terus mengikuti, menjalani, serta menjelajahi rumusan nilai-nilai yang telah, sedang, dan terus menerus
dibangun secara organisatoris maupun aktualisasi peran yang melewati rentetan waktu
dan logika zaman.
Rumusan nilai-nilai yang dibangun
dulu, tentu saja akan tetap terus terjaga dan langgeng, manakala definisi
realitas semakin jelas, harmonisasi antara pimpinan dan yang dipimpin tetap
berada pada koridor dan rel yang kokoh dan anggun, dan bangunan komunikasi yang
terus menerus dirawat secara baik, melalui system
managerial yang relative kondusif inklusif terbuka untuk menerima
dan menyaring ekses atau dampak perilaku globalisasi, perkembangan zaman, system nilai, hingga apresiasi kreatifitas yang terus menerus menyebar dan
menebar melalui berbagai bentuk, ruang dan waktu. [af]
