Statistik Blog

Sabtu, 01 Februari 2014

Redefinisi Realitas




     
     Perputaran dunia, termasuk aktivitas kemanusiaan, sebenarnya memang tidak terlepas dari hukum dan kebiasaan yang melingkarinya. Perputaran dunia, sebagai bagian dari anggota planet dan galaksi, sebenarnya memang terikat oleh hukum alam yang memang tidak mudah dijelaskan oleh kaca mata awam begitu saja. Bahkan para ahli astronomi pun, termasuk kalangan religious, dunia intensif secara konsisten berabad-abad tahun lamanya berputar menurut kaidah-kaidah yang lazim dan terus menerus melewati waktu, detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, hingga tahun. Fenomena-fenomena alam termasuk keajaiban-keajaiban yang mengikutinya, tidak sedikit banyak melahirkan berbagai pandangan yang justru memperkaya dan memperluas paradigm cara siapapun melihat dirinya maupun lingkungan sekitarnya. Terlepas dari fenomena bencana yang terus-menerus menghantui tiap kepemimpinan dan generasi, berbagai penelitian dan opini senantiasa relatif menguat seputar lemah dan kurangnya nilai kebersamaan, kesadaran, kehilapan, dan kesalahan kemanusiaan, yang pada dasarnya, identitas kemanusiaan seringkali dinilai sebagai mahluk tak seperti malaikat atau kenabian yang sudah mencapai tingkat atau maqom yang terlepas dari banyaknya kesalahan, dosa, hingga mencapai titik nadir yang sudah dekat dengan sang Pencipta. Maka doa-doa hingga tarikan nafasnya adalah kesadaran kesemestaan dan kedamaian kesemestaan yang maha luas.
            Alam semesta, dunia, dari berbagai banyaknya pandangan, memang bukan sebuah akhir perjalanan. Meskipun alam nirwana suwarga seringkali dinilai sebagai akhir sebuah perjalanan, kehidupan di dunia pun, seringkali dijadikan bayang-bayang titik akhir, dimana panggung sandiwara dijadikan sebagai lahan yang memiliki penjelasan kerja tertentu yang mesti diperankan oleh berbagai kalangan dan bermacam tingkatan, sejak mulai pribadi, keluarga, hingga lingkungan yang lebih luas lagi. Barangsiapa yang mampu memerankan sebaik-baiknya peran tersebut sesuai dengan harapan dan keinginan produser, sutradara, sponsor, hingga masyarakat penikmat tontonan yang syarat akan nilai-nilai penuh makna, biasanya aktor atau aktris tersebut akan mendapat pengakuan hingga penghargaan yang terkadang tidak bisa diukur dan dihitung secara matematis begitu saja. Dan dunia real nyata terkadang memang tidak jauh berbeda dengan dunia sandiwara untuk sekadar dengan tenang namun tetap konsisten, senantiasa terus mengikuti, menjalani, serta menjelajahi rumusan nilai-nilai yang telah, sedang, dan terus menerus dibangun secara organisatoris maupun aktualisasi peran yang melewati rentetan waktu dan logika zaman.
            Rumusan nilai-nilai yang dibangun dulu, tentu saja akan tetap terus terjaga dan langgeng, manakala definisi realitas semakin jelas, harmonisasi antara pimpinan dan yang dipimpin tetap berada pada koridor dan rel yang kokoh dan anggun, dan bangunan komunikasi yang terus menerus dirawat secara baik, melalui system managerial yang relative kondusif inklusif terbuka untuk menerima dan menyaring ekses atau dampak perilaku globalisasi, perkembangan zaman, system nilai, hingga apresiasi kreatifitas yang terus menerus menyebar dan menebar melalui berbagai bentuk, ruang dan waktu. [af]