Perjalanan, sebagai sebuah
aktivitas, disinyalir, masih sebuah jurus ampuh dalam menghadapi berbagai macam
rintangan. Karakteristik waktu, yang tak pernah berhenti, dan terus berputar,
tentu saja meninggalkan hiasan, nilai, dan pemahaman yang mendalam tentang arti
sebuah perjalanan. Seorang anak, tentu akan dibanggakan orang tuanya, manakala
ia telah mampu setidak-tidaknya mengenal nama dirinya, orangtuanya, hingga
menghadirkan dan menempatkan dirinya untuk kemanfaatan dirinya sendirinya maupun
lingkungan sekitarnya. Seorang orang tua, tentu akan dibanggakan anaknya,
manakala ia telah mampu setidak-tidaknya menjadi figur, contoh, tempat
bersandar, ruang berbagi, serta berdiskusi dalam menghadapi berbagai persoalan
kehidupan yang memang tidak mudah untuk dihadapi.
Akan tetapi melakoni kehidupan pun memang memiliki porsinya tersendiri.
Alasan untuk tidak perlu khawatir dan selalu bersikap lapang dalam menghadapi berbagai
beban berat ringan sekalipun, memang sudah selayaknya disadari. Kekhawatiran,
ketakutan, kegelisahan, disamping sebagai bagian dari karakteristik mahluk
hidup, memahami keberadaan ilmu pengetahuan pun, tentu saja merupakan sebuah
kekuatan untuk meminimalisasi karakteristik tersebut. Akan tetapi, lagi-lagi,
Tuhan dengan kekuasaannya terus-menerus menegur mahluknya, termasuk munculnya berbagai
rasa khawatir dan sejenisnya untuk mengetahui, menguji, dan meningkatkan ilmu
pengetahuan serta pemahaman mahlukNya, baik itu terhadap dirinya sendiri maupun
pemahaman diluar dirinya sendiri. Dan
ibarat memasuki sebuah rimba terbuka, untuk memahami berbagai macam makhluk
beserta karakteristiknya pun memang bukan perkara yang mudah. Untuk bertahan
hidup, siapapun memang mau tidak mau harus mengenal secara mendalam berbagai
macam karakteristik mahluk yang ada di dalamnya. Singa, raja hutan, memang
sekilas terlihat menakutkan dan dikenal sebagai mahluk pemangsa. Namun,
untungnya, dulu ada pepatah aktor cinema, apalah artinya rasa takut, apabila
singa itu menjadi hak milik diri sendiri, karena ilmu pengetahuan untuk
menghadapi singa itu sudah didapatkan.
Akan tetapi memahami dunia humanism
pun memang tidaklah miskin. Kecenderungan untuk menjadi apapun dan
siapapun memang hanya dapat ditemukan
dalam dunia humanism. Meniru peran, meminjam peran, mengambil peran, bahkan
membeli peran pun, memang hanya dapat diketemukan dalam dunia kemanusiaan.
Sederhananya, siapapun yang dapat berperan sebaik-baiknya, memang dapat
dijadikan sebagai sebuah jalan dan cara dalam melakoni kehidupan nyata, yang tak jauh berbeda, seperti halnya memainkan sebuah peran dalam sebuah layar lebar atau cinema. [af]