Jodoh, rezeki, dan akhir sebuah
perjalanan, adalah beberapa misteriusitas yang selalu menghantui dan terus
menghantui siapapun, kapanpun, dan kemanapun. Meskipun setiap mahluk hidup
kenyataannya terlahir menyendiri dan kelak dalam alam kubur pun konon
menyendiri, akan tetapi pesan-pesan keilahian pun mengingatkan lebih luas lagi bahwa
alam pun menunjukkan berbagai macam pasangan dan karakteristiknya. Ada siang
ada malam, ada suka ada duka, ada sukar ada mudah, dan ada kaya, ada miskin. Selain
sebagai pilihan dan sebuah kenyataan, mereka masing-masing berjalan dan
memiliki iklim tersendiri, disamping terikat oleh waktu dan ruang, melewati
dialektika historika dan kreativitas yang terus menerus beregenerasi
meninggalkan eksistensi nilai dan relativitas absolutism makna dalam sebuah pesan-pesan tersirat maupun tersurat.
Kualitas pun sudah semestinya terus
meningkat. Sadar maupun tak sadar mereka dapat terlihat dari fluktuasi statistik
angka-angka maupun reaksi emosional biologis alam mikro maupun makro, manakala
struktur dan karakteristik alam sekitarnya menampilkan karakteristik sesungguhnya yang
beraneka ragam. Maka beruntunglah mereka yang memiliki system nilai, dan
memiliki komitmen serta konsistensi yang tinggi untuk menjalani nilai-nilai
tersebut. Pesan-pesan Yang Maha Kuasa selalu mengingatkan, bahwa sesungguhnya keberadaan
manusia itu selalu berada dalam kerugian. Terkecuali mereka yang selalu yakin,
menjaganya, berwasiat dalam kebenaran, dan berwasiat dalam kesabaran. Bagi para
pelajar, mereka mesti terus meyakini bahwa mempelajari ilmu pengetahuan itu sungguh
teramat penting sebagai bekal kelak untuk menemani dirinya maupun dalam
menghadapi riak gelombang kehidupan yang sulit diprediksi. Bagi para pekerja,
mereka mesti terus memahami bahwa bekerja itu bukan hanya semata-mata sebagai
tuntutan moral dan memupuk angka-angka nominal untuk mencukupi kebutuhan
sehari-hari semata, akan tetapi mereka mesti terus sadar bahwa bekerja pun
merupakan upaya untuk membangun dan merawat system dan lingkungan kerja yang
dapat mensejahterakan satu sama lainnya.
Akan tetapi meyakini dan menjalani semua
itu memang tidak mudah seperti halnya membalikkan
kedua telapak tangan. Mereka perlu kesadaran, kesabaran, dan tentunya sebuah keberanian
untuk terus menerus mempertanyakan kekuatan dan kelemahan sebuah organization system maupun human system sebagai sebuah satu
kesatuan yang saling mempengaruhi. Itulah mengapa berlomba-lomba dalam kebaikan,
adalah satu alasan lainnya untuk tak segan-segan melangkahkan lagi kaki ke
setiap penjuru tempat. Meskipun dunia semakin maju, hanya dengan memijit-mijit angka-angka
tertentu pada alat komunikasi tercanggih, komunikasi pun berjalan seolah waktu
dan jarak bukan lagi sebuah masalah, namun
menghitung langkah ke tempat-tempat yang bernilai dan memiliki makna
tersendiri, bukan hanya memperluas
dokumentasi artistik, dalam Quantum
Learning, mereka dinilai sebagai para
pelangkah cerdas dalam upaya memperluas zona nyaman. [af]