Apalah gunanya kau memandang wajahku penuh rindu,
sebab seluruh tubuhmu adalah tubuhku jua.
Atau bahkan tentang tarikan nafas halusmu pun aku jelas
mengetahuinya.
Ini tentu bukan tentang hilir mudiknya bayang-bayang
yang selalu menghantui,
memenjarakan, membebaskan, menafakuri, atau bahkan
kau biarkan leluasa,
hanya sekadar untuk
memandang kembali dunia kini. Lalu biarlah esok, adalah
tubuh-tubuhku yang lain untuk kembali berdialog
tentang apapun.
Apalah gunanya kau berbicara padaku penuh makna,
sebab ruang dan waktumu adalah ruang dan waktuku juga.
Atau bahkan tentang lincahnya kesadaranmu pun aku lebih
memahaminya.
Ini tentu bukan tentang usia, ketaksengajaan, atau
tentang takdir dan nasib yang sering
mampir tak sengaja untuk dilakoni kembali. Lalu
karena alasan ini itu, mimpi-mimpi pun
dipertanyakan.
Waktu, ruh, keinginan, kenyataan, kepasrahan, kealpaan pun
terus-menerus menghampiri dan terus menghampiri.
Apalah gunanya kau mendengar padaku penuh harap,
sebab dugaan-dugaanmu terdahulu adalah
dugaan-dugaanku jua.
Ini tentu bukan tentang awal atau akhir sebuah
perjalanan, atau tentang sesuatu yang tak
pernah terduga sedikitpun, sehingga drama kau duga nyata, atau sebaliknya
kenyataan,
kau duga drama yang mengasyikkan lagi melancarkan
kembali urat-urat syaraf tubuh,
meskipun esok entahlah. Sebab perjalanan kemarin
atau kini, sudah cukup kiranya
untuk meniru lagi rayapan waktu yang tak bosan-bosannya
mengiringi semesta. [af]