Statistik Blog

Selasa, 11 Februari 2014

Kloningisasi Versus Enterpreneur


 

            Ketika becermin, saat posisi badan tegak lurus, sedangkan sorot kedua mata memandang lurus saling berhadap-hadapan, maka kesan pertama yang timbul dalam benak, gambaran dalam cermin itu adalah diri sendiri. Dan manakala hal itu dilakukan secara berulang-ulang, maka tanpa disadari keberadaan dan karakteristik pribadi sudah semakin akrab.  Mereka yang tergolong maskulin, hal yang selalu diperhatikan dan selalu memunculkan kembali pertanyaan tentang keberadaan diri, tentu saja adalah perubahan pada  struktur biologis tubuh, rambut, kumis, atau janggut. Sedangkan mereka yang tergolong feminism, hal yang terkadang selalu merepotkan, tentu saja  perihal perkembangan pada accesoris rambut semata. Dulu ada sebuah anekdot  sufi, dunia maskulin adalah dunia yang maha sempurna. Lihat saja, kaum maskulinlah sebenarnya yang kaya dengan bulu-bulu. Dunia feminism, tentu saja mereka  sangat kaya pada sisi psikologinya. Usia muda seorang feminism, konon hampir menyeimbangi usia tua seorang maskulin. Seorang perempuan berusia 15 tahun, menurut beberapa penelitian, hampir menyeimbangi struktur kejiwaan dan kedewasaan pada seorang laki-laki berusia 25 tahun.  

            Akan tetapi, tentu saja, dunia, bukan hanya saja diramaikan oleh sebuah wacana dan paradigm biologis psikologis semata. Dunia humanism, ibarat lautan lepas, selalu membuka cakrawala, wawasan, serta dialog intelektual yang terkadang justru tanpa disadari, mereka membawa, menjelajahi, serta mengenal lebih jauh dunia real dengan permasalahan-permasalahan yang dianggap rumit, namun mereka sebenarnya memiliki definisi dan porsinya tersendiri. Dalam tradisi religiusitas, ada ungkapan, laa yukallifullaahu nafsan illa wus’aha. Bahwa Yang Maha Kuasa tidak akan membebani suatu kaum atau diri,  terkecuali sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Seorang anak TK, tentu saka akan diberikan pertanyaan seputar dunia Taman Kanak-kanak, seorang anak SD tentu akan diberikan  pertanyaan seputar dunia Sekolah Dasar, seorang anak SMP tentu akan diberikan pertanyaan seputar dunia Sekolah Menengah Pertama.  Seperti halnya dalam dunia estetika, harmonisasi inilah sebenarnya sebuah kekayaan dan kebijaksanaan Yang Maha Kuasa, dalam memerankan diriNya dan berinteraksi penuh kasih sayang dengan mahluk-mahluk ciptaanNya.

            Tentu saja pada akhirnya dunia real bukan hanya saja dapat didokumentasikan menjadi sebuah maha karya artistik hingga cinema-cinema yang menghiasi dan meramaikan di setiap waktu dan zaman.  Dunia real, dunia nyata, dunianya ekspresi humanism yang maha kaya dengan appresiasinya, tentu saja adalah sebuah lahan untuk siapapun dapat berikhtiar, berkolaborasi, berekspresi, dan bersinergis untuk mengisi dan memerankan sebuah peranan yang sudah jelas dan terdeskripsikan secara konstruktif dan konsisten. [af]