Ketika
becermin, saat posisi badan tegak lurus, sedangkan sorot kedua mata memandang
lurus saling berhadap-hadapan, maka kesan pertama yang timbul dalam benak, gambaran
dalam cermin itu adalah diri sendiri. Dan manakala hal itu dilakukan secara
berulang-ulang, maka tanpa disadari keberadaan dan karakteristik pribadi sudah semakin
akrab. Mereka yang tergolong maskulin,
hal yang selalu diperhatikan dan selalu memunculkan kembali pertanyaan tentang keberadaan
diri, tentu saja adalah perubahan pada struktur
biologis tubuh, rambut,
kumis, atau janggut. Sedangkan mereka yang tergolong feminism, hal yang terkadang
selalu merepotkan, tentu saja perihal perkembangan pada accesoris rambut semata.
Dulu ada sebuah anekdot sufi, dunia
maskulin adalah dunia yang maha sempurna. Lihat saja, kaum maskulinlah sebenarnya
yang kaya dengan bulu-bulu. Dunia feminism, tentu saja mereka sangat kaya pada sisi psikologinya. Usia muda
seorang feminism, konon
hampir menyeimbangi usia tua seorang maskulin. Seorang perempuan berusia 15
tahun, menurut beberapa penelitian, hampir menyeimbangi struktur kejiwaan dan
kedewasaan pada seorang laki-laki berusia 25 tahun.
Akan
tetapi, tentu saja, dunia, bukan hanya saja diramaikan oleh sebuah wacana dan
paradigm biologis psikologis semata. Dunia humanism, ibarat lautan lepas,
selalu membuka cakrawala, wawasan, serta dialog intelektual yang terkadang
justru tanpa disadari, mereka membawa, menjelajahi, serta mengenal lebih jauh dunia
real dengan permasalahan-permasalahan
yang dianggap rumit, namun mereka sebenarnya memiliki definisi dan porsinya
tersendiri. Dalam tradisi religiusitas, ada ungkapan, laa yukallifullaahu nafsan illa wus’aha. Bahwa Yang Maha Kuasa
tidak akan membebani suatu kaum atau diri, terkecuali sesuai dengan kemampuannya
masing-masing. Seorang anak TK, tentu saka akan diberikan pertanyaan seputar
dunia Taman Kanak-kanak, seorang anak SD tentu akan diberikan pertanyaan seputar dunia Sekolah Dasar,
seorang anak SMP tentu akan diberikan pertanyaan seputar dunia Sekolah Menengah
Pertama. Seperti halnya dalam dunia
estetika, harmonisasi inilah sebenarnya sebuah kekayaan dan kebijaksanaan Yang
Maha Kuasa, dalam memerankan diriNya dan berinteraksi penuh kasih sayang dengan
mahluk-mahluk ciptaanNya.
Tentu
saja pada akhirnya dunia real bukan
hanya saja dapat didokumentasikan menjadi sebuah maha karya artistik hingga
cinema-cinema yang menghiasi dan meramaikan di setiap waktu dan zaman. Dunia real,
dunia nyata, dunianya
ekspresi humanism yang maha kaya dengan appresiasinya, tentu saja adalah
sebuah lahan untuk siapapun dapat berikhtiar, berkolaborasi, berekspresi, dan
bersinergis untuk mengisi dan memerankan sebuah peranan yang sudah jelas dan
terdeskripsikan secara konstruktif dan konsisten. [af]