Statistik Blog

Sabtu, 08 Februari 2014

Analogi Fleksibelitas





          Seorang nenek tua, entah darimana datangnya, tiba-tiba menghampiri baginda rosul lalu  bertanya. “Wahai yang mulia, apakah di surga ada seorang nenek-nenek tua seperti saya?". "O, tidak ada, Nek.” Spontan saja mimik ekspresi nenek tua itu memelas sedih. Melihat kesedihan nenek tua itu, segera baginda rosul menceritakan ucapannya itu lebih jelas lagi. “Nek, di surga memang tidak ada nenek-nenek seperti nenek. Sebab nenek-nenek di surga, atas kekuasaan dan kehendakNya akan ‘disulap’ menjadi seorang gadis muda belia cantik nan rupawan.” Mendengar penjelasan baginda rosul tersebut tentu saja ekspresi wajah nenek itu kembali berseri, sebab merasa puas atas penjelasan yang disampaikan oleh yang mulia utusan Tuhan itu.

            Cerita di atas memang sudah tak aneh dan sudah maklum. Tidak sedikit cerita masa silam seringkali membekali ruh ilmu pengetahuan yang senantiasa menjelaskan dan membimbing setiap insan, untuk menjalani kehidupan di setiap waktu, dan zaman yang terus berputar. Adalah keterbatasan akal manusia yang serba terbatas, referensi akal kemanusiaan memang pada akhirnya tidak hanya berakhir pada dunia internalnya semata. Referensi berupa pengetahuan masa lampau dan terkini yang datang dalam berbagai bentuk dan warna hingga dari lingkungan terdekat dan terjauh pun, memang serta merta akan lebih memperkaya dimensi dan kekayaan kepribadian setiap pribadi untuk terus menjalani dan menghadapi tantangan zaman yang terus-menerus berputar. Maka seringkali keunggulan dan kekuatan system maupun pribadi sejak dulu, selalu ada pada nilai-nilai kebersamaan untuk selalu menjaga dan merawatnya sebaik-baiknya. Fleksibelitas nilai-nilai yang dibentuk, komitmen dan kesabaran untuk menjalankannya disertai pengawasan dan evaluasi terus menerus, menurut ilmuwan masa silam Al-Jauziyah, kesabaran itu seperti halnya pohon menjulang tinggi nan rindang, dengan akar-akarnya yang kuat, menumbuhkan buahan-buahan yang lebat, segar, dan menyehatkan bagi mereka yang mengkonsumsinya.

            Adalah sebuah karakteristik kemanusiaan tempatnya lupa dan dosa. Akan tetapi tidak seperti halnya binatang, tumbuh-tumbuhan, hingga mahluk tertinggi kenabian dan malaikat yang super taat, kondusifitas dan relatifitas kemanusiaan dengan nilai-nilai keajegannya yang terkadang seperti air mengalir dan diam kemana-mana, seperti angin yang leluasa berhembus ke setiap penjuru dan tempat, seperti tanah yang kokoh, kuat, dan sabar menerima serbuan hujan dan langkah-langkah para pengembara, atau laksana cahaya lilin yang redup redam memancarkan sinarnya, karakteristik kemanusiaan maupun system, seringkali tak jauh berbeda seperti analogi pohon, mereka harus terus ditanam, dipupuk, disiram, dirawat, hingga dituai hasilnya secara intensif terus-menerus, adalah sebagai wujud pertanggungjawaban pada penciptaNya, dirinya, maupun untuk kemaslahatan lingkungan sekitarnya. [af]