Seorang
nenek tua, entah darimana datangnya, tiba-tiba menghampiri baginda rosul
lalu bertanya. “Wahai yang mulia, apakah
di surga ada seorang nenek-nenek tua seperti saya?". "O, tidak ada, Nek.” Spontan
saja mimik ekspresi nenek tua itu memelas sedih. Melihat kesedihan nenek tua
itu, segera baginda rosul menceritakan ucapannya itu lebih jelas lagi. “Nek, di
surga memang tidak ada nenek-nenek seperti nenek. Sebab nenek-nenek di surga,
atas kekuasaan dan kehendakNya akan ‘disulap’ menjadi seorang gadis muda belia
cantik nan rupawan.” Mendengar penjelasan baginda rosul tersebut tentu saja
ekspresi wajah nenek itu kembali berseri, sebab merasa puas atas penjelasan
yang disampaikan oleh yang mulia utusan Tuhan itu.
Cerita di atas memang sudah tak aneh
dan sudah maklum. Tidak sedikit cerita masa silam seringkali membekali ruh ilmu
pengetahuan yang senantiasa menjelaskan dan membimbing setiap insan, untuk
menjalani kehidupan di setiap waktu, dan zaman yang terus berputar. Adalah
keterbatasan akal manusia yang serba terbatas, referensi akal kemanusiaan
memang pada akhirnya tidak hanya berakhir pada dunia internalnya semata.
Referensi berupa pengetahuan masa lampau dan terkini yang datang dalam berbagai
bentuk dan warna hingga dari lingkungan terdekat dan terjauh pun, memang serta
merta akan lebih memperkaya dimensi dan kekayaan kepribadian setiap pribadi
untuk terus menjalani dan menghadapi tantangan zaman yang terus-menerus
berputar. Maka seringkali keunggulan dan kekuatan system maupun pribadi sejak
dulu, selalu ada pada nilai-nilai kebersamaan untuk selalu menjaga dan
merawatnya sebaik-baiknya. Fleksibelitas nilai-nilai yang dibentuk, komitmen
dan kesabaran untuk menjalankannya disertai pengawasan dan evaluasi terus
menerus, menurut ilmuwan masa silam Al-Jauziyah, kesabaran itu seperti halnya pohon menjulang tinggi nan rindang, dengan
akar-akarnya yang kuat, menumbuhkan buahan-buahan yang lebat, segar, dan
menyehatkan bagi mereka yang mengkonsumsinya.
Adalah sebuah karakteristik
kemanusiaan tempatnya lupa dan dosa. Akan tetapi tidak seperti halnya binatang,
tumbuh-tumbuhan, hingga mahluk tertinggi kenabian dan malaikat yang super taat,
kondusifitas dan relatifitas kemanusiaan dengan nilai-nilai keajegannya yang
terkadang seperti air mengalir dan diam kemana-mana, seperti angin yang leluasa
berhembus ke setiap penjuru dan tempat, seperti tanah yang kokoh, kuat, dan
sabar menerima serbuan hujan dan langkah-langkah para pengembara, atau laksana
cahaya lilin yang redup redam memancarkan sinarnya, karakteristik kemanusiaan
maupun system, seringkali tak jauh berbeda seperti analogi pohon, mereka harus
terus ditanam, dipupuk, disiram, dirawat, hingga dituai hasilnya secara
intensif terus-menerus, adalah sebagai wujud pertanggungjawaban pada
penciptaNya, dirinya, maupun untuk kemaslahatan lingkungan sekitarnya. [af]