Kebutuhan, tugas, peran, nilai-nilai
kepercayaan, biasanya kekuatan yang selalu menggerakkan manusia untuk selalu beraktivitas.
Seakan sudah menjadi sebuah kebiasaan, hal itu sepertinya sudah tidak banyak lagi
untuk dipertanyakan. Padahal berpikir sesaat untuk menilai kembali
baik-buruknya aktivitas atau tekun berlatih dan mempelajari pengetahuan terkini
menurut beberapa ahli nilainya jauh lebih besar daripada melakukan sesuatu
tanpa ilmu pengetahuan. Dalam teori managemen, perencanaan, pengorganisasian,
aktualisasi aktivitas, dan pengawasan aktivitas termasuk evaluasi aktivitas adalah
hal yang tidak boleh diabaikan dalam membangun sebuah kualitas pribadi maupun
sebuah kelompok.
Manusia memiliki kelebihan lebih
tinggi dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Kemahirannya berbahasa dan
mengapresiasi bahasa tersebut, manusia ternyata mampu memproduksi dan
mereproduksi kembali kekayaan alam yang sudah tersedia sedemikian rupa. Produk fashion
pakaian, produk makanan-minuman, produk teknologi informasi seperti komputer, handphone, televisi, hingga produk kependidikan
seperti bahan pustaka buku-buku, koran, majalah, hingga alat-alat hiburan
seperti alat musik instrumentalia,
merupakan hasil kreasi manusia yang telah melewati waktu yang cukup lama. Kualitas
produktifitas hingga nilai peradaban, kemudian terus menetap, beralih atau
terus berpindah-pindah pada setiap wilayah dan tempat sesuai dengan tingkat
kekonsistenan suatu sistem untuk terus-menerus menjaga dan merawatnya
sebaik-baiknya.
Membentuk kualitas? Kualitas memang
harus terus dibentuk agar selalu siap siaga menyambut perputaran dunia beserta
dampaknya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah seharusnya menjadikan
kehidupan manusia lebih mudah, nyaman, simple sederhana, dan selalu terbuka
lebar untuk berinteraksi dengan makhluk lainnya secara hidup tentram dan damai.
Konflik, perbedaan pendapat, seringkali dianggap wajar dalam berkehidupan
sebagai bagian dari proses pendewasaan diri dan sebuah dinamika dalam membangun
dan saling memahami diantara satu sama lainnya. Dan pembentukan kualitas biasanya bisa
saja melewati sebuah pertemuan non formal maupun formal secara terus menerus
dan terus terjaga. Sebagai seseorang yang memiliki kepercayaan biasanya mereka
menghadapi pertemuan religius secara berkala maupun dalam pertemuan rutin di
sebuah lingkungan terkecil bernama keluarga. Tantangan selanjutnya, kapanpun
dan dimanapun dalam membangun sebuah kualitas, biasanya terletak pada pembentukan
dan memahami program kegiatan yang baik dan sederhana namun memiliki dampak
yang cukup luar biasa untuk kepentingan bersama. Menurut beberapa penelitian,
perusahaan-perusahaan besar dan ternama di Barat, mereka sukses, terlebih
dahulu berawal dari pembentukan kualitas di sebuah lingkungan keluarga. Pembentukan
keluarga, disamping pembentuk diri, bagi mereka adalah hal yang sangat-sangat
berharga. Kehidupan mereka biasanya tidak jauh dari aktivitas membaca literatur
pustaka, menghadiri pertemuan-pertemuan ilmiah, menjaga pola makan
empat sehat lima sempurna, berolahraga secara teratur, menjaga dan merawat
barang-barang inventaris, studi tour, membangun lingkungan dan
mitra kerja
yang sehat, atau menghindari stress dengan hiburan yang ringan dan terjangkau. [af,
dari berbagai sumber]