Seandainya dirunut dari A-Z atau
sebaliknya, ilmu pengetahuan itu memang begitu amat luasnya. Ibarat sebuah
samudera, seandainya air lautan samudera itu dijadikan sebagai tintanya, untuk
menuliskan ilmu pengetahuan tersebut, air lautan samudera itu belum tentu dapat
mencukupinya. Seperti halnya otak manusia, kejeniusan yang sering disebut
sebagai pertanda kehebatan seseorang dalam berperan lebih dan luar biasa untuk
disetarakan dengan seseorang lainnya, beberapa peneliti menilai dan berprediksi
bahwa mereka atau orang jenius itu sebenarnya hanya memanfaatkan memori dalam
otaknya tersebut hanya beberapa persen saja. Silahkan prediksi, seandainya sisa
memori itu maksimal dan dimanfaatkan sebaik-baiknya, tidak menutup kemungkinan akan
muncullah junior-junior bahkan senior-senior baru, wright-wright baru atau habibi-habibi
baru yang mengisi lembaran-lembaran sejarah sebagai tokoh yang berpengaruh
dalam hiruk-pikuknya dinamika dunia. Seorang jenius sering dikategorikan media sebagai
orang yang berpikir dan bertindak simple
namun daya dan efek fikirannya begitu
bermanfaat besar bagi kelangsungan hidup manusia.
Alam semesta, sebagai objek, sumber,
dan referensi ilmu pengetahuan, disinyalir telah melewati ribuan tahun bahkan lebih
untuk berperan dalam menerima, memberi, dan berinteraksi dengan mahluk bernama
manusia. Selain dinilai terus menua, alam semesta atau alam yang sering disebut
alam dunia beserta galaksi-galaksi lainnya, bagi para peneliti astronomi, konfigurasi
alam semesta masih diprediksi memiliki waktu yang cukup panjang untuk berperan.
Meskipun bagi kaum spiritual keberadaan materi bersifat misterius, rahasia, dan
telah tertulis dalam kitab rahasia Tuhan, manusia selalu diberi kesempatan
untuk terus memanfaatkan alam semesta beserta isinya itu untuk kemaslahatan
bersama. Potensi-potensi yang ada pada sistem biologis manusia tersebut sudah
seharusnya memang terus dimanfaatkan sedemikian rupa untuk kepentingan yang
lebih luas lagi. Baginda nabi selalu berpesan, seandainya kiamat itu esok hari,
teruslah bekerja atau teruslah melakukan aktifitas tanam menanam pohon.
Dalam dialog kaum intelektual,
sufisme, atau kaum filosof, dulu sering ada anekdot bahwa Tuhan sebenarnya tidak
sendirian. Dan bukan karena alasan merasa sepi, kemudian Tuhan menciptakan
mahluk-mahluknya. Atau ada anekdot lain, yang tak jauh berbeda dengan ungkapan sufisme
rubi’ah, bahwa apalah artinya tinggal di sebuah surga, kalau di dalam surga itu
hanya satu atau dua orang saja yang menetap. Ini artinya bahwa, anugerah ilmu
pengetahuan atau semangat untuk memelihara alam semesta beserta isinya merupakan
sebuah kekayaan yang memang harus terus-menerus disyukuri. (AF)