Statistik Blog

Sabtu, 18 Januari 2014

Memanfaatkan Ilmu Pengetahuan




            Seandainya dirunut dari A-Z atau sebaliknya, ilmu pengetahuan itu memang begitu amat luasnya. Ibarat sebuah samudera, seandainya air lautan samudera itu dijadikan sebagai tintanya, untuk menuliskan ilmu pengetahuan tersebut, air lautan samudera itu belum tentu dapat mencukupinya. Seperti halnya otak manusia, kejeniusan yang sering disebut sebagai pertanda kehebatan seseorang dalam berperan lebih dan luar biasa untuk disetarakan dengan seseorang lainnya, beberapa peneliti menilai dan berprediksi bahwa mereka atau orang jenius itu sebenarnya hanya memanfaatkan memori dalam otaknya tersebut hanya beberapa persen saja. Silahkan prediksi, seandainya sisa memori itu maksimal dan dimanfaatkan sebaik-baiknya, tidak menutup kemungkinan akan muncullah junior-junior bahkan senior-senior baru, wright-wright baru atau habibi-habibi baru yang mengisi lembaran-lembaran sejarah sebagai tokoh yang berpengaruh dalam hiruk-pikuknya dinamika dunia. Seorang jenius sering dikategorikan media sebagai orang yang berpikir dan bertindak simple  namun daya dan efek fikirannya begitu bermanfaat besar bagi kelangsungan hidup manusia.

            Alam semesta, sebagai objek, sumber, dan referensi ilmu pengetahuan, disinyalir telah melewati ribuan tahun bahkan lebih untuk berperan dalam menerima, memberi, dan berinteraksi dengan mahluk bernama manusia. Selain dinilai terus menua, alam semesta atau alam yang sering disebut alam dunia beserta galaksi-galaksi lainnya, bagi para peneliti astronomi, konfigurasi alam semesta masih diprediksi memiliki waktu yang cukup panjang untuk berperan. Meskipun bagi kaum spiritual keberadaan materi bersifat misterius, rahasia, dan telah tertulis dalam kitab rahasia Tuhan, manusia selalu diberi kesempatan untuk terus memanfaatkan alam semesta beserta isinya itu untuk kemaslahatan bersama. Potensi-potensi yang ada pada sistem biologis manusia tersebut sudah seharusnya memang terus dimanfaatkan sedemikian rupa untuk kepentingan yang lebih luas lagi. Baginda nabi selalu berpesan, seandainya kiamat itu esok hari, teruslah bekerja atau teruslah melakukan aktifitas tanam menanam pohon.  

            Dalam dialog kaum intelektual, sufisme, atau kaum filosof, dulu sering ada anekdot bahwa Tuhan sebenarnya tidak sendirian. Dan bukan karena alasan merasa sepi, kemudian Tuhan menciptakan mahluk-mahluknya. Atau ada anekdot lain, yang tak jauh berbeda dengan ungkapan sufisme rubi’ah, bahwa apalah artinya tinggal di sebuah surga, kalau di dalam surga itu hanya satu atau dua orang saja yang menetap. Ini artinya bahwa, anugerah ilmu pengetahuan atau semangat untuk memelihara alam semesta beserta isinya merupakan sebuah kekayaan yang memang harus terus-menerus disyukuri. (AF)