Setiap orang adalah
pemimpin. Mereka akan dimintai pertanggungjawaban kepemimpinannya itu sesuai
dengan apa yang telah dilakukannya. Seperti halnya sebuah tangga nada,
kepemimpinan pun berjenjang. Mereka bisa memimpin diri sendiri, memimpin sebuah
keluarga, atau memimpin sebuah bangsa atau negara. Untuk memperkaya jiwa kepemimpinan,
selain terus belajar dari berbagai referensi bahan pustaka, media elektronik,
maupun becermin dari setiap karakteristik para pemimpin dulu dan kini, untuk
menjadi seorang pemimpin, tentu saja mereka harus berani bermimpi dan
merealisasikan mimpinya tersebut setidak-tidaknya menjadi sebuah kenyataan
meskipun seringkali agak sulit untuk merealisasikannya sepenuhnya. Selain
karena kepemimpinan selalu dihadapkan pada nilai-nilai abstraksi atau
ketidakjelasan, kepemimpinan selalu dihadapkan pada nilai-nilai kompleksitas,
dimana nilai-nilai kebenaran sangat luas dan pengetahuan humanism sangat
terbatas. Ekspektasi atau menyatukan persepsi pendapat, menjelajahi dan menggali sumber referensi
tekstual maupun kontekstual fenomenal terkini, kemudian menjadi sesuatu hal
yang penting, disamping membaca peta dan konfigurasi yang selalu relative
kondusif berubah-ubah.
Kepemimpinan adalah sebuah
kepercayaan dan anugerah. Dengan bekal kepercayaan, seorang pemimpin semestinya
yakin dengan ilmu pengetahuannya dia akan mampu melaksanakan berbagai tugas
yang akan diemban dan diamanatkan pada dirinya. Dengan bekal anugerah, seorang
pemimpin merasa yakin bahwa setiap langkah-langkahnya adalah sebuah amanah dan
sebuah keinginan dari Yang Maha Kuasa dan kehendak dari makhluk-makhluk
ciptaanNya. Dan kepemimpinan pun tidak abadi. Pemimpin pun perlu sejenak
beristirahat atau sejenak menarik napas untuk memaknai kembali sebuah kepemimpinan.
Terlepas dari serba kebetulan, kepemimpinan pun selalu bergulir dan bergilir
untuk diperankan siapapun, seperti halnya sebuah jarum jam yang terus berputar
melewati angka-angka secara konsisten terus-menerus. Keberhasilan sebuah
kepemimpinan kemudian selalu identik dengan kemapanan, kenyamanan dan
terbentuknya sebuah regenerasi kepemimpinan yang lebih unggul dibandingkan
dengan waktu atau zaman-zaman sebelumnya.
Seperti halnya sebuah
organisasi, kepemimpinan bukanlah sebuah tujuan. Mereka adalah sebuah alat
untuk mencapai sebuah tujuan. Seperti halnya sebuah perahu besar, organisasi
ataupun kepemimpinan memerlukan sebuah peta untuk mencapai sebuah tempat atau
tujuan. Bisa saja perahu besar akan singgah di sebuah tempat atau pulau yang kaya akan hamparan pasirnya, kaya
akan lauk-pauknya, rindang pohon-pohon dengan buah-buahannya, sumber mata air
yang tak habis-habisnya, atau sumber energi lainnya yang terus-menerus dapat
diperbaharui. (AF)