Statistik Blog

Senin, 13 Januari 2014

Kepemimpinan





            Setiap orang adalah pemimpin. Mereka akan dimintai pertanggungjawaban kepemimpinannya itu sesuai dengan apa yang telah dilakukannya. Seperti halnya sebuah tangga nada, kepemimpinan pun berjenjang. Mereka bisa memimpin diri sendiri, memimpin sebuah keluarga, atau memimpin sebuah bangsa atau negara. Untuk memperkaya jiwa kepemimpinan, selain terus belajar dari berbagai referensi bahan pustaka, media elektronik, maupun becermin dari setiap karakteristik para pemimpin dulu dan kini, untuk menjadi seorang pemimpin, tentu saja mereka harus berani bermimpi dan merealisasikan mimpinya tersebut setidak-tidaknya menjadi sebuah kenyataan meskipun seringkali agak sulit untuk merealisasikannya sepenuhnya. Selain karena kepemimpinan selalu dihadapkan pada nilai-nilai abstraksi atau ketidakjelasan, kepemimpinan selalu dihadapkan pada nilai-nilai kompleksitas, dimana nilai-nilai kebenaran sangat luas dan pengetahuan humanism sangat terbatas. Ekspektasi atau menyatukan persepsi pendapat,  menjelajahi dan menggali sumber referensi tekstual maupun kontekstual fenomenal terkini, kemudian menjadi sesuatu hal yang penting, disamping membaca peta dan konfigurasi yang selalu relative kondusif berubah-ubah.
            Kepemimpinan adalah sebuah kepercayaan dan anugerah. Dengan bekal kepercayaan, seorang pemimpin semestinya yakin dengan ilmu pengetahuannya dia akan mampu melaksanakan berbagai tugas yang akan diemban dan diamanatkan pada dirinya. Dengan bekal anugerah, seorang pemimpin merasa yakin bahwa setiap langkah-langkahnya adalah sebuah amanah dan sebuah keinginan dari Yang Maha Kuasa dan kehendak dari makhluk-makhluk ciptaanNya. Dan kepemimpinan pun tidak abadi. Pemimpin pun perlu sejenak beristirahat atau sejenak menarik napas untuk memaknai kembali sebuah kepemimpinan. Terlepas dari serba kebetulan, kepemimpinan pun selalu bergulir dan bergilir untuk diperankan siapapun, seperti halnya sebuah jarum jam yang terus berputar melewati angka-angka secara konsisten terus-menerus. Keberhasilan sebuah kepemimpinan kemudian selalu identik dengan kemapanan, kenyamanan dan terbentuknya sebuah regenerasi kepemimpinan yang lebih unggul dibandingkan dengan waktu atau zaman-zaman sebelumnya.
            Seperti halnya sebuah organisasi, kepemimpinan bukanlah sebuah tujuan. Mereka adalah sebuah alat untuk mencapai sebuah tujuan. Seperti halnya sebuah perahu besar, organisasi ataupun kepemimpinan memerlukan sebuah peta untuk mencapai sebuah tempat atau tujuan. Bisa saja perahu besar akan singgah di sebuah tempat atau  pulau yang kaya akan hamparan pasirnya, kaya akan lauk-pauknya, rindang pohon-pohon dengan buah-buahannya, sumber mata air yang tak habis-habisnya, atau sumber energi lainnya yang terus-menerus dapat diperbaharui. (AF)