Statistik Blog

Sabtu, 04 Januari 2014

Dialektika Bersayap

ASEP FITRIANA



Socrates merupakan pemikir klasik kuno yang banyak melahirkan berbagai pemikiran cemerlang di berbagai bidang dan sisi kehidupan terutama seputar filosofi maupun dialektika. Tradisi beragumentasi hingga analisis deskriptif sebab akibat, alasan-alasan, hingga pendekatan empirisme yang seringkali dijadikan sebagai landasan filosofi dan anutan bagi kalangan tertentu, sudah barang tentu menjadi sesuatu hal yang selalu hangat dan sebuah pembahasan yang tak pernah selesai-selesai, sebagaimana karakteristik alam semesta yang terus menerus bergerak maju meninggalkan historika dan dialektika di berbagai sisi. Meskipun Socrates sangat gemar berapresiasi linguistik dalam tataran dialektika tanpa menyentuh sisi insya atau dunia apresiasi sastra yang seringkali dikenal dalam tradisi timur tengah sana, keluarbiasaan dan kejeniusan Socrates justru semakin melahirkan tokoh-tokoh yang banyak dikenal dunia sebagai orang yang banyak melahirkan berbagai hasil pemikiran hingga mewujud menjadi sebuah dokumentasi yang banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Plato, Descartes, Freud, meskipun masa jarak hingga latar belakang sosial kultural yang melingkupinya berbeda-beda, setidak-tidaknya mereka sedikit banyak bercermin dari langkah-langkah besar Socrates yang terkadang memang agak rentan melahirkan berbagai cakrawala dan nuansa wawasan persepsi sesuai dengan experience social intellectual yang dibangun pada setiap tingkatan usia maupun intelegensia bawaan setiap generasinya yang justru kemudian tidak sedikit dari berbagai komponen disiplin ilmu untuk memperdebatkannya serius hanya sekadar untuk memperluas wawasan dan referensi keilmuan semata. Aku berfikir, maka aku ada, sebuah ungkapan fisolofi Descartes yang dikenal pada masanya, tidak kalah hangatnya dengan analisis psikoanalisis Freud tentang dinamika dunia kejiwaan, dimana malah sayangnya Freud, kemudian dipersepsikan umum sebagai pribadi yang terjebak dalam dunia keterasingan sebagaimana Ludwig yang berakhir dengan ketulian yang luar biasa. Sebagaimana karakteristik ilmu pengetahuan yang bersifat fana non absolutism, tidak sebagaimana tradisi teokrasi yang bersifat absolutism, serba mutlak, rahasia, misterius, dan hanya dapat difahami bagi kalangan tertentu, justru yang lebih menghangat adalah karakteristik humanism yang bagi kalangan tertentu mampu bermetamorfosis, beradaptasi, berakulturasi menjadi sesuatu yang memang terkadang relatif sulit diterjemahkan bagi maqom atau tingkatan ilmu tertentu.

Dunia, bagi fisikawan ternama semisal Einstein, jelas menyimpan karakteristik keilmuan yang luar biasa. Selain bersifat fana tidak kekal yang sering diyakini oleh berbagai kaum spiritual, dunia telah melewati berabad-abad sejarah monumental sejak sebelum masehi hingga abad masehi, dimana bagi pemikir kontemporer, idea, gagasan, hasil pemikiran adalah sebuah penjara yang terus menerus menguntit setiap generasi. Selain itu, tentu saja dunia telah membuka cakrawala dan relaksasi perjalanan yang menakjubkan bagi setiap generasi yang konsisten dan berkomitmen kuat untuk mengisi dan memelihara dunia sebagaimana mestinya.***