Socrates merupakan pemikir klasik kuno yang banyak melahirkan berbagai
pemikiran cemerlang di berbagai bidang dan sisi kehidupan terutama seputar filosofi maupun dialektika. Tradisi beragumentasi hingga analisis
deskriptif sebab akibat, alasan-alasan, hingga pendekatan empirisme yang
seringkali dijadikan sebagai landasan filosofi dan anutan bagi kalangan
tertentu, sudah barang tentu menjadi sesuatu hal yang selalu hangat dan sebuah
pembahasan yang tak pernah selesai-selesai, sebagaimana karakteristik alam
semesta yang terus menerus bergerak maju meninggalkan historika dan dialektika di
berbagai sisi. Meskipun Socrates sangat gemar berapresiasi linguistik dalam
tataran dialektika tanpa menyentuh sisi insya
atau dunia apresiasi sastra yang seringkali dikenal dalam tradisi timur tengah
sana, keluarbiasaan dan kejeniusan Socrates justru semakin melahirkan tokoh-tokoh
yang banyak dikenal dunia sebagai orang yang banyak melahirkan berbagai hasil pemikiran
hingga mewujud menjadi sebuah dokumentasi yang banyak diterjemahkan ke dalam
berbagai bahasa.
Plato, Descartes, Freud, meskipun masa jarak hingga latar belakang sosial kultural
yang melingkupinya berbeda-beda, setidak-tidaknya mereka sedikit banyak
bercermin dari langkah-langkah besar Socrates yang terkadang memang agak rentan
melahirkan berbagai cakrawala dan nuansa wawasan persepsi sesuai dengan experience social intellectual yang
dibangun pada setiap tingkatan usia maupun intelegensia bawaan setiap
generasinya yang justru kemudian tidak sedikit dari berbagai komponen disiplin
ilmu untuk memperdebatkannya serius hanya sekadar untuk memperluas wawasan dan
referensi keilmuan semata. Aku berfikir,
maka aku ada, sebuah ungkapan fisolofi Descartes yang dikenal pada masanya,
tidak kalah hangatnya dengan analisis psikoanalisis Freud tentang dinamika
dunia kejiwaan, dimana malah sayangnya Freud, kemudian dipersepsikan umum
sebagai pribadi yang terjebak dalam dunia keterasingan sebagaimana Ludwig yang
berakhir dengan ketulian yang luar biasa. Sebagaimana karakteristik ilmu
pengetahuan yang bersifat fana non absolutism,
tidak sebagaimana tradisi teokrasi yang bersifat absolutism, serba mutlak, rahasia, misterius, dan hanya dapat
difahami bagi kalangan tertentu, justru yang lebih menghangat adalah
karakteristik humanism yang bagi
kalangan tertentu mampu bermetamorfosis, beradaptasi, berakulturasi menjadi
sesuatu yang memang terkadang relatif sulit diterjemahkan bagi maqom atau tingkatan ilmu tertentu.
Dunia, bagi fisikawan ternama semisal Einstein, jelas menyimpan
karakteristik keilmuan yang luar biasa. Selain bersifat fana tidak kekal yang
sering diyakini oleh berbagai kaum spiritual, dunia telah melewati berabad-abad
sejarah monumental sejak sebelum masehi hingga abad masehi, dimana bagi pemikir
kontemporer, idea, gagasan, hasil pemikiran adalah sebuah penjara yang terus
menerus menguntit setiap generasi. Selain itu, tentu saja dunia telah membuka
cakrawala dan relaksasi perjalanan yang menakjubkan bagi setiap generasi yang
konsisten dan berkomitmen kuat untuk mengisi dan memelihara dunia sebagaimana
mestinya.***