Night at the museum, yang dibintangi aktor film
Jumanji, selain melintasi antar waktu,
namun adalah hangatnya persepsi seorang guide muda anak-anak yang meyakini bahwa menelusuri sejarah masa lalu tak kalah penting
seperti halnya menelusuri bentuk kekayaan masa
depan. Meskipun pada awalnya, guide for history untuk anak-anak
ini tidak percaya akan hidupnya kembali barang-barang museum di malam hari dan keajaiban yang terpancar dari tokoh-tokoh bersejarah
sejak masa prasejarah. Sebut saja misalkan tentang hidupnya kembali keluarga
dinosaurus jenis karnivora. Sisi lainnya
adalah adegan karakteristik perilaku dan nuansa alam sekitar manusia dewasa purbakala
dulu, hidupnya kembali mummy seorang raja, dan gagahnya seorang presiden
rosevelt yang terbuat dari lilin itu. Dalam
pertengahan cerita, tanpa sengaja, pada malam harinya barang-barang
berharga yang siangnya berbentuk patung itu, di mata guide itu berubah menjadi mahluk hidup, untuk kemudian akhirnya, guide ini pun semakin
meyakinkan bahwa penjaga barang-barang bernilai sejarah tinggi itu memang tepat
untuk selalu membawa lampu senter dan sejumlah kunci yang dipercayakan seorang
pemilik museum itu. Meskipun watak dan perannya agak bengis dan kasar, pemilik
meseum itu kelihatannya selalu tampak rapih dan disiplin.
Sejarah, bagi kalangan tertentu, terkadang menakutkan. Bahkan tidak banyak
yang mencoba menjaga image,
membuangnya jauh-jauh, atau membentuk persepsi baru hanya sekadar menjalani
masa kini dan mencoba menerawang masa depan. Seperti halnya Bill, dengan
pernyataannya tidak ada hari esok, Bill bukan hanya sekadar membangun wacana
untuk meraih banyaknya suara yang lazim dikenal dalam sebuah tradisi demokrasi,
Bill sebenarnya sedang tidak disejajarkan dengan sebuah rumor yang menghangat
di akhir tahun 90-an dan di awal tahun 2000-an, bahwa terbentuknya negara
asalnya adalah sebuah kesalahan besar. Meskipun dunia jurnalistik adalah dunianya
cover both side, dunianya wacana,
dunianya berita, dan dunianya opini, dimana konsumen bebas mengeluarkan
pendapat sesuai mekanisme dan alurnya. Bill, sebenarnya tidak jauh berbeda
dengan Columbus. Penemu dunia bahwa dunia itu benar-benar
bundar seperti bola, kegigihan dan keberanian Columbus melintasi samudera lautan lepas, bukan saja menginspirasi tokoh-tokoh
sejarah lainnya untuk menemukan hal-hal yang misterius dan belum diketemukan
khalayak umum, namun columbus memang terlatih dan
hidup dalam lingkungan yang tidak cengeng.
Kehidupan memang bukan sebuah bentuk ujian semata. Tidak sama halnya dalam
ruang-ruang kelas mikro, dunia, bagi kalangan artistik adalah sebuah ruang
kelas dan ruang realita makro yang masing-masing memiliki komposisi dan
naturalisasi tersendiri. Mereka relative kondusif, dan cenderung mudah diarrangement. Tangga ujian meninggi
bukan saja meyakinkan dan menunjukkan kemampuan untuk melangkah dan menikmati
ruang visual, auditorial, dan kinestik semata, akan tetapi mereka menyimpan
bekas-bekas sejarah untuk diapresiasi kembali bagi generasi-generasi mendatang.
Night at the museum, selain
imajinatif, akan tetapi film berdurasi sekitar dua jam ini lagi-lagi berusaha dan
mencoba untuk menguatkan, memperbaiki dan meluruskan sebuah persepsi lama, bahwa
untuk menuju kebaikan memang selalu ada cara dan jalan keluarnya.***