Statistik Blog

Selasa, 31 Desember 2013

Selamat Pagi

ASEP FITRIANA



Night at the museum, yang dibintangi aktor film Jumanji, selain melintasi antar waktu, namun adalah hangatnya persepsi seorang guide muda anak-anak yang meyakini bahwa menelusuri sejarah masa lalu tak kalah penting seperti halnya menelusuri bentuk kekayaan masa depan. Meskipun pada awalnya, guide for history untuk anak-anak ini tidak percaya akan hidupnya kembali barang-barang museum di malam hari dan keajaiban yang terpancar dari tokoh-tokoh bersejarah sejak masa prasejarah. Sebut saja misalkan tentang hidupnya kembali keluarga dinosaurus jenis karnivora.  Sisi lainnya adalah adegan karakteristik perilaku dan nuansa alam sekitar manusia dewasa purbakala dulu, hidupnya kembali mummy seorang raja, dan gagahnya seorang presiden rosevelt yang terbuat dari lilin itu.  Dalam pertengahan cerita, tanpa sengaja, pada malam harinya barang-barang berharga yang siangnya berbentuk patung itu, di mata guide itu berubah menjadi mahluk hidup, untuk kemudian akhirnya, guide ini pun semakin meyakinkan bahwa penjaga barang-barang bernilai sejarah tinggi itu memang tepat untuk selalu membawa lampu senter dan sejumlah kunci yang dipercayakan seorang pemilik museum itu. Meskipun watak dan perannya agak bengis dan kasar, pemilik meseum itu kelihatannya selalu tampak rapih dan disiplin.

Sejarah, bagi kalangan tertentu, terkadang menakutkan. Bahkan tidak banyak yang mencoba menjaga image, membuangnya jauh-jauh, atau membentuk persepsi baru hanya sekadar menjalani masa kini dan mencoba menerawang masa depan. Seperti halnya Bill, dengan pernyataannya tidak ada hari esok, Bill bukan hanya sekadar membangun wacana untuk meraih banyaknya suara yang lazim dikenal dalam sebuah tradisi demokrasi, Bill sebenarnya sedang tidak disejajarkan dengan sebuah rumor yang menghangat di akhir tahun 90-an dan di awal tahun 2000-an, bahwa terbentuknya negara asalnya adalah sebuah kesalahan besar. Meskipun dunia jurnalistik adalah dunianya cover both side, dunianya wacana, dunianya berita, dan dunianya opini, dimana konsumen bebas mengeluarkan pendapat sesuai mekanisme dan alurnya. Bill, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Columbus. Penemu dunia bahwa dunia itu benar-benar bundar seperti bola, kegigihan dan keberanian Columbus melintasi samudera lautan lepas, bukan saja menginspirasi tokoh-tokoh sejarah lainnya untuk menemukan hal-hal yang misterius dan belum diketemukan khalayak umum, namun columbus memang terlatih dan hidup dalam lingkungan yang tidak cengeng.

Kehidupan memang bukan sebuah bentuk ujian semata. Tidak sama halnya dalam ruang-ruang kelas mikro, dunia, bagi kalangan artistik adalah sebuah ruang kelas dan ruang realita makro yang masing-masing memiliki komposisi dan naturalisasi tersendiri. Mereka relative kondusif, dan cenderung mudah diarrangement. Tangga ujian meninggi bukan saja meyakinkan dan menunjukkan kemampuan untuk melangkah dan menikmati ruang visual, auditorial, dan kinestik semata, akan tetapi mereka menyimpan bekas-bekas sejarah untuk diapresiasi kembali bagi generasi-generasi mendatang. Night at the museum, selain imajinatif, akan tetapi film berdurasi sekitar dua jam ini lagi-lagi berusaha dan mencoba untuk menguatkan, memperbaiki dan meluruskan sebuah persepsi lama, bahwa untuk menuju kebaikan memang selalu ada cara dan jalan keluarnya.***