Ketika usai sekolah atau putus sekolah, kebanyakan yang terbayangkan adalah bagaimana segera mendapatkan pekerjaan yang layak. Dari data yang diperoleh, angka mereka yang belum mendapatkan pekerjaan rata-rata terbilang cukup tinggi. Bagi negara yang sudah tergolong maju, mereka yang belum mendapatkan pekerjaan rata-rata tidak begitu khawatir karena disana mereka mendapatkan jaminan kesejahteraan atau penggajian yang cukup teratur. Akan tetapi bagi negara yang masih dikategorikan negara berkembang, ini memang cukup mengkhawatirkan. Meskipun berbagai program telah diberlakukan, namun terkadang selanjutnya para angkatan kerja tersebut seolah-olah didesak untuk mencari pancingan sendiri dan berusaha berwirausaha secara mandiri.
Untuk masuk ke dunia kerja
memang dibutuhkan kekuatan dan keterampilan yang cukup baik dan memadai. Untuk
memasuki dan menghadapi dunia kerja abad modern kini, memang setidak-tidaknya dapat
dirangkum seperti berikut ini:
- Sehat fisik dan mental. Untuk memastikan fisik dan mental kita sehat, selain dapat dirasakan sendiri dan diyakinkan oleh kebanyakan umum, analisa dari pihak kedokteran dan dinas kesehatan sungguh sangat dianjurkan. Prinsip membuat program membina fisik dan mental memang selalu lebih diutamakan daripada menyembuhkan penyakit.
- Tingkatkan keterampilan. Keterampilan atau bekal pendidikan sangat bermanfaat dalam memasuki dunia kerja. Bagi lulusan SMK biasanya mereka sudah dibekali keterampilan dalam bidang tertentu misalkan dalam hal perakitan computer atau dalam operator computer. Keterampilan akan selaras dengan kebutuhan kerja seandainya program magang dan praktek kerja lapangan terus diperhatikan.
- Perbanyak referensi. Referensi atau sumber ilmu pengetahuan untuk meningkatkan keterampilan sebenarnya memang dapat diperoleh dari berbagai sumber informasi seperti ceramah, televisi, internet, buku, majalah, Koran, dll. Namun terkadang kebiasaan kurangnya membaca dan kurangnya memahami trik membaca efektif tidak mudah diperoleh karena kurangnya informasi atau kebiasaan ‘melahap’ berbagai informasi tanpa pilih-pilih. Padahal membaca efektif intinya adalah sesuai kebutuhan, adanya bekal pertanyaan, fokus pada pertanyaan tersebut, dan kritis terhadap sumber bacaan.
- Perluas relasi. Relasi atau rekan kerja memang mudah didapatkan namun terkadang susah untuk dipertahankan entah karena alasan kemampuan pribadi, aspek ekonomi, atau karena alasan prinsip yang tak mudah untuk dijelaskan. Padahal rekan kerja atau relasi adalah mereka yang juga turut memperluas wawasan dan memperluas kemampuan untuk melihat dan bagaimana menghadapi dunia kerja. Jejaring sosial seperti facebook, twitter, blogger terkadang banyak dimanfaatkan para penjelajah dunia kerja untuk meningkatkan dan memperluas relasi kerja. Dan tidak sedikit pula strategi offline atau terjun langsung ke lapangan atau dunia kerja sebenarnya sering dimanfaatkan bagi kalangan tertentu. Jadi, pilihan secara online atau offline sejak dulu memang selalu terbuka lebar.
- Inovasi. Dulu sering teringat bahwa tidak ada sesuatu pun yang abadi terkecuali perubahan itu sendiri. Kira-kira dalam dunia kerja pun memang tidak jauh berbeda seperti itu. Prinsipnya, seandainya pekerjaan itu dapat dilakukan maka segera lakukan, modifikasi atau desain agar pekerjaan itu terkesan berbeda, lebih unggul dan unik, dan tentunya tidak menyimpang dari tata-tertib dan kebiasaan umum dalam bidang pekerjaan yang digarap. Contohnya, dalam produk informasi, unsur penekanan inovasi artistik atau seni beserta isinya sangat menonjol agar konsumen merasa nyaman melihatnya dan merasa yakin isi dari informasi tersebut.
Pada akhirnya bekerja memang bagian dari sekian banyaknya
aktivitas pilihan yang dapat dipilih oleh semua orang dari berbagai tingkatan
usia maupun tingkat pendidikan. Meskipun aktivitas bekerja merupakan hal
penting untuk menggerakkan sektor ekonomi dan donor untuk menghidupkan
aktivitas lainnya, aktivitas-aktivitas penunjang lainnya selain aktivitas
bekerja, memang harus tetap eksis dan tetap berjalan agar keseimbangan dan
harmonis tetap kuat dan kokoh sebagaimana mestinya. Keseimbangan dan
harmonisasi pada umumnya dapat dilihat dari kualitas dan kuantitas produktivitas
kerja, derajat kesehatan, kenyamanan financial atau keuangan, dan cerdas
menghadapi fenomena alam dan fenomena sosial yang tidak mudah diprediksi atau
diperhitungkan keberadaannya. [AF]
