Sejak dulu
hidup memang tidak seperti sebuah kotak. Einstein, Fisikawan asal Jerman itu pernah
berpendapat bahwa tidak mungkin Tuhan bermain dadu dalam menciptakan alam
semesta ini. Tidak mungkin Tuhan asal-asalan dalam membentuk alam semesta ini. Alam
semesta menurut penemu teori relativitas ini diciptakan begitu sangat
tertib dan sangat teratur. Mereka yang
sering disebut sebagai mahluk ciptaan itu begitu tunduk patuh dan konsisten terhadap
ketentuan-ketentuan alam. Matahari terbit terbenam di sebelah timur dan barat,
malam berganti siang silih berganti untuk menandakan waktu mencari penghidupan
dan waktu beristirahat, dan usia diam-diam terus merangkak naik untuk menandakan
betapa hidup terus bergerak maju meninggalkan bekas-bekas sejarah untuk
dijadikan cermin bagi peningkatan dan kelangsungan hidup selanjutnya. Dalam dunia
pendidikan belajar menghadapi kehidupan sering dijadikan sebagai bagian dari
belajar sepanjang waktu, atau learn for
lifing or life for learning. Bahkan dalam Quantum Learning, belajar adalah aktivitas yang sangat menyenangkan
dan tidak begitu membosankan karena dunia internal
(dalam) dan dunia eksternal (luar)
dibentuk sedemikian rupa sehingga tercipta keharmonisan dan kedinamisan yang
luar biasa. Mereka berusaha saling memahami dan meningkatkan kualitas serta
kemampuan dirinya masing-masing untuk menghadapi fenomena alam dan fenomena sosial
yang dinamis dan terus bergerak maju.
Suasana dan kondisi
kejiwaan seseorang memang bertingkat-tingkat sama halnya dalam menyerap,
mentransfer, maupun mendayagunakan kembali ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Untuk
menghadapi seorang anak-anak, memang
harus bertingkah seperti anak-anak agar dapat difahami dunianya, untuk
menghadapi seorang remaja memang harus memahami dunia remaja, dan untuk
memahami dunia dewasa, memang juga harus terus mendalami dunianya orang dewasa.
Sebab seorang anak-anak, tentu saja belum pernah mengalami dunianya remaja dan dunianya
orang dewasa. Akan tetapi sebaliknya, dunia remaja dan dunia dewasa, mereka tentu
saja pernah mengalami masa kanak-kanak. Interaksi, komunikasi, atau
tukar-menukar informasi secara terus-menerus dan berkala, kemudian menjadi
sesuatu hal yang penting untuk memahami satu sama lainnya. Pemahaman, kemudian,
bukan hanya berorientasi pada aspek kesejahteraan dan keseimbangan financial
semata, namun bermuara pada kekuatan mental spiritual atau kekuatan jiwa dan
raga dalam menghadapi berbagai permasalahan kehidupan yang terkadang begitu
rumit dan terkadang susah untuk dimengerti. Namun memang harus percaya dan
yakin, bahwa seberat apapun beban, tentu saja sesuai dengan kadar kemampuan
seseorang. Dalam filosofi lidi, lidi satu memang sukar dan agak lama untuk
membersihkan kotoran yang berserakan. Namun seandainya lidi-lidi itu
dikumpulkan, maka akan terbentuk sapu nyéré yang tentu saja sangat mudah dan tak lama untuk membersihkan kotoran-kotoran
tersebut. Dulu ada sebuah pendapat bahwa sekalipun keburukan yang terorganisir,
mereka akan tetap jaya, dibandingkan dengan sesuatu yang terkesan baik namun
tidak terorganisasi sama sekali. Mereka bersifat instan, sekadar muncul beberapa
lama, untuk kemudian lenyap kembali dan tidak bersifat abadi.
Seperti halnya sebuah perangkat
komputer, sebuah organisasi akan kuat, kokoh, dan sehat seandainya
komponen-komponen seperti Keyboard, Monitor, CPU otaknya komputer, RAM, ROM, Hardisk
untuk menyimpan data, dan Printer untuk output data, berada dalam kondisi fit dan prima. Namun seandainya
salah satu komponen tersebut lemah atau tidak berfungsi, maka tentu saja komputer
tersebut tidak berjalan, lemah, atau sakit yang akan berdampak buruk bagi
aktivitas lainnya. Atau seperti sebuah anatomi tubuh manusia, ketika kaki terinjak, tentu saja refleks spontan
komponen-komponen lainnya ikut kaget. Mulut akan spontan bersuara, jantung akan
turut berdetak cepat, atau suasana hati akan lebih memanas. Ini artinya bahwa merawat
dan memelihara keberadaan komponen atau anatomi tersebut memang sangatlah penting
dan wajib. Atau seperti dalam trias
politica atau ilmu kenegaraan, sebuah negara akan kuat dan kokoh seandainya
Eksekutif (badan pelaksana), Legislatif (badan pembuat peraturan), dan
Yudikatif (badan pengawas) berjalan secara harmonis. Ini artinya bahwa memang membina
individu pribadi akan berdampak kuat dan besar dalam terbentuknya sebuah kekuatan
individu dan kekuatan sebuah organisasi. Individu, sebagai sebuah organisasi
mikro atau mini, memang selalu menjadi langkah pertama dan sebuah pertimbangan dalam
membentuk sebuah kekuatan organisasi makro atau kekuatan organisasi besar untuk
menjaga kelangsungan hidup di dunia, yang kini hampir dihuni sejumlah milyaran
penduduk, yang bernama manusia. [AF]