Statistik Blog

Sabtu, 30 November 2013

Monopoli Waktu




            Kehidupan ini memang terkadang lucu bahkan terkadang susah untuk difahami. Terkadang ada yang menginginkan sesuatu namun setelah sesuatu itu didapatkan mereka bingung bagaimana menggunakannya. Ada yang tidak menginginkan sesuatu berlebihan, mereka tenang-tenang saja, dan tak segan-segan mereka  memilih siap untuk menghadapinya.  Bahkan banyak diantara mereka yang tidak begitu memperdulikan dengan keinginan dan tidak adanya keinginan sama sekali. Dalam menghadapi kehidupan, intinya terima dan hadapi saja apa adanya dengan tenang dan sesuai dengan kemampuan. Yang penting, ketika musim hujan, hadapi saja udara dinginnya. Atau ketika musim panas, nikmati saja hawa panasnya, nikmati saja air keringat yang diam-diam mengucur tak sengaja melewati bibir, atau diam-diam mengunjungi pohon-pohon rindang dan berteman dengan hawa sejuk yang terpancar dari tanaman-tanaman tersebut.
            Sederhananya kehidupan ini memang hanya memerankan identitas dengan aneka kejelasan dan ketidakjelasannya. Seperti halnya dalam sebuah permainan monopoli, setiap pemain memiliki ‘ruh’ nya masing-masing. ‘ruh’ itu bisa dipinjam, dibeli, ditiru, atau diam-diam ruh itu datang menghampiri secara tak sengaja. Seorang pemain hanya menjalankan giliran waktu dan akibat angka-angka yang mereka mainkan dan membaca peraturan yang ada untuk mengelilingi sebuah kotak permainan. Kalau beruntung dan mau, mereka bisa berkeliling dunia, membeli hotel, rumah, atau perusahaan untuk mereka kelola. Intinya, dalam permainan monopoli semua pemain diberi kesempatan untuk memanfaatkan job description atau penjelasan aktivitas yang ada dan memanfaatkan angka-angka keuangan yang sudah ada untuk menjalankan programnya tanpa ada unsur pemberatan sama sekali. Mereka bebas memilih dan mereka bersedia menerima akibat-akibat pilihannya tersebut.
            Namun kehidupan ini memang terkadang tidak seperti apa yang dibayangkan. Terkadang memang harus lapang dan bersedia memahami banyaknya perbedaan dan fleksibelitas waktu beserta aneka isinya. Peningkatan kualitas pribadi dalam menghadapi  kenyataan terkadang tidak hanya saja didapatkan di bangku-bangku pendidikan, namun terkadang tak sengaja mereka menghampiri untuk sekadar menegur, mengingatkan, dan menyadarkan bahwa kehidupan memang harus terus dihadapi dengan sebaik-baiknya. [AF]