Kehidupan ini memang
terkadang lucu bahkan terkadang susah untuk difahami. Terkadang ada yang menginginkan
sesuatu namun setelah sesuatu itu didapatkan mereka bingung bagaimana
menggunakannya. Ada yang tidak menginginkan sesuatu berlebihan, mereka tenang-tenang saja, dan tak segan-segan mereka memilih siap untuk menghadapinya. Bahkan banyak diantara mereka yang
tidak begitu memperdulikan dengan keinginan dan tidak adanya keinginan sama
sekali. Dalam menghadapi kehidupan, intinya terima dan hadapi saja apa adanya dengan
tenang dan sesuai dengan kemampuan. Yang penting, ketika musim hujan, hadapi saja
udara dinginnya. Atau ketika
musim panas, nikmati saja hawa panasnya, nikmati saja air keringat yang
diam-diam mengucur tak sengaja melewati bibir, atau diam-diam mengunjungi
pohon-pohon rindang dan berteman dengan hawa sejuk yang terpancar dari
tanaman-tanaman tersebut.
Sederhananya kehidupan ini
memang hanya memerankan identitas dengan aneka kejelasan dan
ketidakjelasannya. Seperti halnya dalam sebuah permainan monopoli, setiap pemain
memiliki ‘ruh’ nya masing-masing. ‘ruh’ itu bisa dipinjam, dibeli, ditiru, atau
diam-diam ruh itu datang menghampiri secara tak sengaja. Seorang pemain hanya
menjalankan giliran waktu dan akibat angka-angka yang mereka mainkan dan
membaca peraturan yang ada untuk mengelilingi sebuah kotak permainan. Kalau beruntung
dan mau, mereka bisa berkeliling dunia, membeli hotel, rumah, atau perusahaan
untuk mereka kelola. Intinya, dalam permainan monopoli semua pemain diberi
kesempatan untuk memanfaatkan job
description atau penjelasan aktivitas yang ada dan memanfaatkan
angka-angka keuangan yang sudah ada untuk menjalankan programnya tanpa ada unsur pemberatan
sama sekali. Mereka bebas memilih dan mereka bersedia menerima akibat-akibat
pilihannya tersebut.
Namun kehidupan
ini memang terkadang tidak seperti apa yang dibayangkan. Terkadang memang harus
lapang dan bersedia memahami banyaknya perbedaan dan fleksibelitas waktu beserta aneka isinya. Peningkatan kualitas pribadi dalam menghadapi kenyataan terkadang tidak hanya saja
didapatkan di bangku-bangku pendidikan, namun terkadang tak sengaja mereka
menghampiri untuk sekadar menegur, mengingatkan, dan menyadarkan bahwa
kehidupan memang harus terus dihadapi dengan sebaik-baiknya. [AF]