Statistik Blog

Selasa, 10 Desember 2013

Terus Update


OLEH ASEP FITRIANA



           
PELE, dulu dikenal dengan tendangan glédéknya. Maradona, dulu dikenal dengan tangan Tuhannya. Ruud Gullit, dulu dikenal dengan langkah ‘raksasanya’ dalam mengover bola hingga konfigurasi 4-4-3 yang umum dipakai oleh lawan permainan agak sedikit kacau untuk sekadar memudahkan kawan sepermainan dalam menambah jumlah gol ke gawang lawan. Dan kalau tidak salah, Rene, asal Columbia itu, bukan hanya saja mahir menjaga gawang, namun inisiatifnya untuk mengambil alih menjadi penyerang hingga bola masuk ke gawang lawan memang sebuah keputusan yang sangat berani. Penonton, wasit, manager hingga lawan sepermainan tentu saja tidak sedikit berdecak kagum melihat keluarbiasaan-keluarbiasaan yang ditampilkan oleh para pemain bolanya, dimana mereka tentu saja dididik bukan hanya satu hari atau dua hari saja.
            Keluarbiasaan, kejeniusan, kecerdasan, memang bukan hanya saja banyak ditemukan dalam dunia sepak bola semata. Dalam dunia industri musik, film, atau pendidikan, pun tak sedikit banyak jumlahnya. Dalam dunia musik, sebut saja misalkan didikan ‘keras’ dan jatuh bangunnya legendaries raja pop Michael Jackson, Koes bersaudara, Elvis, atau Bimbo. Dalam dunia film, sebut saja misalkan kelenturan Rowan Atkinson, Warkop Dki, Arnold Schwarzenegger, Sylverster Stalone, atau Bung Bens. Dalam Dunia pendidikan, sebut saja misalkan Margareth Teacher atau Kartini. Namun terkadang beberapa media harus sedikit maklum karena mereka harus menerima kebijakan sumber berita untuk tidak mempublikasikannya begitu saja. Entah karena privasi alasan pribadi, atau karena alasan prinsip yang tidak begitu mudah untuk dijelaskan. Akan tetapi dalam era keterbukaan sekarang ini, sesuatu apapun memang sangat sulit untuk ditutup-tutupi. Mereka selalu saja ada jalan, agar publik harus mesti tahu bahwa permasalahan bukan hanya semata-mata permasalahan materi semata, namun dibalik itu masyarakat umum harus mengetahui bahwa pelajaran memaknai hidup dan memahami hidup dalam bingkai kebersamaan, bukan hanya didapatkan dari hal-hal yang kecil saja, namun dari sumber yang terbilang ngetren dan terbilang besar pun, sudah selayaknya mereka dapatkan.
            Untuk memunculkan hal-hal tampak luarbiasa, sejak dulu memang selalu terlahir dari hal-hal kecil. Seorang pemain bola agar selalu fit, tentu saja memang harus terus berlatih meningkatkan stamina, keahlian mengover dan lentur menggiring bola, hingga terus menerus membaca gerak kawan atau lawan dalam menggiring bola ke gawang. Seorang seniman agar terus peka, tentu saja mereka harus terus berlatih membaca dan mengapresiasi konfigurasi system masyarakat, kemudian dituangkan dalam sebuah media atau karya seni sastra menjadi sebuah bangunan komposisi yang bukan hanya nyaman terlihat dan terdengar, namun menjadi sebuah inspirasi dalam menyikapi dinamika fenomena umum.  Seorang pendidik agar cerdas, memang harus terus membaca dan mendayagunakan kekayaan dan sumber referensi yang kemudian akan membentuk system kognitif (intelektual), afektif (alam rasa), dan motorik (alam perilaku) yang hampir diketemukan di seluruh sektor dan seluruh bidang kehidupan. [AF]