OLEH ASEP FITRIANA
PELE, dulu dikenal dengan tendangan
glédéknya. Maradona, dulu dikenal dengan tangan Tuhannya. Ruud Gullit, dulu
dikenal dengan langkah ‘raksasanya’ dalam mengover bola hingga konfigurasi
4-4-3 yang umum dipakai oleh lawan permainan agak sedikit kacau untuk sekadar
memudahkan kawan sepermainan dalam menambah jumlah gol ke gawang lawan. Dan kalau
tidak salah, Rene, asal Columbia itu, bukan hanya saja mahir menjaga gawang,
namun inisiatifnya untuk mengambil alih menjadi penyerang hingga bola masuk ke
gawang lawan memang sebuah keputusan yang sangat berani. Penonton, wasit,
manager hingga lawan sepermainan tentu saja tidak sedikit berdecak kagum
melihat keluarbiasaan-keluarbiasaan yang ditampilkan oleh para pemain bolanya, dimana
mereka tentu saja dididik bukan hanya satu hari atau dua hari saja.
Keluarbiasaan, kejeniusan, kecerdasan,
memang bukan hanya saja banyak ditemukan dalam dunia sepak bola semata. Dalam
dunia industri musik, film, atau pendidikan, pun tak sedikit banyak jumlahnya. Dalam
dunia musik, sebut saja misalkan didikan ‘keras’ dan jatuh bangunnya legendaries
raja pop Michael Jackson, Koes bersaudara, Elvis, atau Bimbo. Dalam dunia film,
sebut saja misalkan kelenturan Rowan Atkinson, Warkop Dki, Arnold Schwarzenegger,
Sylverster Stalone, atau Bung Bens. Dalam Dunia pendidikan, sebut saja misalkan
Margareth Teacher atau Kartini. Namun terkadang beberapa media harus sedikit maklum
karena mereka harus menerima kebijakan sumber berita untuk tidak
mempublikasikannya begitu saja. Entah karena privasi alasan pribadi, atau
karena alasan prinsip yang tidak begitu mudah untuk dijelaskan. Akan tetapi
dalam era keterbukaan sekarang ini, sesuatu apapun memang sangat sulit untuk
ditutup-tutupi. Mereka selalu saja ada jalan, agar publik harus mesti tahu
bahwa permasalahan bukan hanya semata-mata permasalahan materi semata, namun
dibalik itu masyarakat umum harus mengetahui bahwa pelajaran memaknai hidup dan
memahami hidup dalam bingkai kebersamaan, bukan hanya didapatkan dari hal-hal
yang kecil saja, namun dari sumber yang terbilang ngetren dan terbilang besar
pun, sudah selayaknya mereka dapatkan.
Untuk memunculkan hal-hal tampak
luarbiasa, sejak dulu memang selalu terlahir dari hal-hal kecil. Seorang pemain
bola agar selalu fit, tentu saja memang harus terus berlatih meningkatkan stamina,
keahlian mengover dan lentur menggiring bola, hingga terus menerus membaca
gerak kawan atau lawan dalam menggiring bola ke gawang. Seorang seniman agar terus
peka, tentu saja mereka harus terus berlatih membaca dan mengapresiasi konfigurasi
system masyarakat, kemudian dituangkan dalam sebuah media atau karya seni
sastra menjadi sebuah bangunan komposisi yang bukan hanya nyaman terlihat dan
terdengar, namun menjadi sebuah inspirasi dalam menyikapi dinamika fenomena
umum. Seorang pendidik agar cerdas,
memang harus terus membaca dan mendayagunakan kekayaan dan sumber referensi
yang kemudian akan membentuk system kognitif
(intelektual), afektif (alam rasa), dan motorik (alam perilaku) yang hampir
diketemukan di seluruh sektor dan seluruh bidang kehidupan. [AF]