Statistik Blog

Selasa, 17 Desember 2013

Improvisasi Catur dan Monopoli

OLEH ASEP FITRIANA

                     
MUNGKIN salah satu kenikmatan terbesar yang terkadang lupa untuk disyukuri siapapun adalah kenikmatan jasmani maupun kenikmatan rohani. Kenikmatan jasmani sering dimaklumi umum adalah keadaan dimana tubuh selalu siap menghadapi berbagai tugas ringan maupun berat sekalipun sesuai dengan tingkatan usia. Seorang anak balita, seorang remaja maupun seorang dewasa yang normal dan sehat, tentu akan selalu siap  menerima tugas dari orang tuanya, majikannya, maupun pimpinannya, untuk belajar merekam atau mengapresiasi gambar visual di sekitarnya, mendengar suara di sekelilingnya, dan merasakan berbagai bentuk instrument yang tersedia di alam semesta ini. Informasi visual (penglihatan), auditorial (pendengaran), dan kinestik (perasaan) yang sering disebut dalam dunia pendidikan tersebut akan membentuk bangunan jasmani dan rohani yang kuat dan kokoh. Bangunan rohani yang konon sudah menyatu dalam tubuh jasmani sejak masa kandungan tersebut, terbentuk oleh ritme aktivitas orang tua dan keras lunaknya lingkungan seputarnya, akan turut membentuk bangunan kepribadian seseorang dalam menghadapi dan menyambut fenomena alam dan fenomena sosial yang terus-menerus dinamis bergerak maju melewati waktu, hari, bulan, hingga berganti tahun.

            Berterima kasih, atau mensyukuri keadaan tubuh dan keadaan rohani yang sehat, kuat, dan kokoh tersebut, memang banyak caranya. Kaum spiritual dulu, seperti halnya ulama besar Al-Ghazali, berterima kasih atau bersyukur biasanya dilakukan dengan dzikron atau menyebut-menyebut atau meniru keagungan dan kebesaran Yang Maha Kuasa, yang mahluknya dapat dilihat, didengar, dan dirasakan di alam bumi yang maha luasnya ini, dimana aktivitas bersyukur tersebut dapat dilakukan di setiap waktu dan di setiap tempat sesuai dengan kemampuan dan niat seseorang.  Sederhananya seperti melangkah dalam permainan anak-anak monopoli, ketika sebuah angka diperoleh, pemain akan melangkah satu, dua, tiga, atau empat, atau sesuai dengan angka yang didapatkan, dan pemain akan menempati sebuah ruangan yang tersedia. Mungkin saja dia akan menempati sebuah kesempatan, dana umum, singgah di sebuah perusahaan air, atau mampir di sebuah negara Afrika, dimana konon harganya mahal, tanahnya dapat dibeli, di atas tanahnya dapat dibangun sebuah rumah atau sebuah hotel, tanah beserta bangunan diatasnya dapat disewakan kembali pada mereka yang berminat dan tertarik, yang tentu saja dapat menguntungkan berbagai fihak. Keuangan meningkat, relasi kerja pun semakin meluas.

            Berterima kasih atau dalam bahasa arabnya syukron, tentu saja dan tidak saja sama seperti halnya dalam sebuah permainan monopoli. Dalam permainan catur pun sepertinya tidak jauh berbeda tentunya. Hanya saja dalam permainan catur ini, jumlah pemain umumnya cukup berjumlah 16 (enam belas) pemain saja, para pemain berdiri di atas sebuah kotak, dengan pemain yang sama, namun warnanya berbeda. Hampir seperti cermin, para pemain saling berhadap-hadapan untuk saling mendekati, atau saling menjauhi, hanya sekadar untuk memuluskan sebuah permainan.  Para pemain tersebut kemudian dikenal sebagai delapan pion, dua benteng, dua kuda, dua gajah, satu menteri dan satu raja. Masing-masing pemain memiliki identitasnya sendiri, dan memiliki aturan geraknya sendiri.  Sebuah pion hanya bisa melangkah satu atau dua kotak secara lurus,  benteng bebas bergerak lurus ke depan dan kesamping beberapa kotak, kuda ditakdirkan bergerak seperti sebuah huruf L, gajah bergerak menyamping atau membelah garis horizontal dan vertikal, menteri, bergerak seumpama gerakan pion, gerak benteng dan dan gerak sebuah gajah. Dan raja, umumnya cukup bergerak satu langkah ke depan, ke samping atau ke belakang saja. Dalam sebuah permainan catur, selain dilatih kecerdasan intelektual daya pikir, strategi dan kelenturan melangkah melewati kotak-kotak untuk menjauhi dan mendekati sepermainan pun sangatlah dibina.  Catur atau sebuah monopoli intinya mengajarkan bahwa kebersamaan, kekompakan, kehati-hatian, selalu waspada melangkah adalah sesuatu yang sangat penting. Mereka diajarkan untuk berterima kasih atas inisiatif sepermainan dalam mempertemukan satu sama lainnya, atau mereka diajarkan untuk berlomba-lomba membangun sebuah kekuatan jasmani maupun kekuatan rohani, yang terkadang keberadaannya dapat dilihat dari besar kecilnya kemauan dan kemampuan pemain untuk melangkah lebih baik lagi. ***