Berterima kasih, atau
mensyukuri keadaan tubuh dan keadaan rohani yang sehat, kuat, dan kokoh
tersebut, memang banyak caranya. Kaum spiritual dulu, seperti halnya ulama
besar Al-Ghazali, berterima kasih atau bersyukur biasanya dilakukan dengan dzikron atau menyebut-menyebut atau meniru
keagungan dan kebesaran Yang Maha Kuasa, yang mahluknya dapat dilihat,
didengar, dan dirasakan di alam bumi yang maha luasnya ini, dimana aktivitas
bersyukur tersebut dapat dilakukan di setiap waktu dan di setiap tempat sesuai
dengan kemampuan dan niat seseorang. Sederhananya seperti melangkah dalam permainan
anak-anak monopoli, ketika sebuah angka diperoleh, pemain akan melangkah satu,
dua, tiga, atau empat, atau sesuai dengan angka yang didapatkan, dan pemain
akan menempati sebuah ruangan yang tersedia. Mungkin saja dia akan menempati
sebuah kesempatan, dana umum, singgah di sebuah perusahaan air, atau mampir di sebuah
negara Afrika, dimana konon harganya mahal, tanahnya dapat dibeli, di atas tanahnya
dapat dibangun sebuah rumah atau sebuah hotel, tanah beserta bangunan diatasnya dapat disewakan kembali pada mereka yang berminat dan tertarik, yang tentu
saja dapat menguntungkan berbagai fihak. Keuangan meningkat, relasi kerja
pun semakin meluas.
Berterima kasih atau dalam
bahasa arabnya syukron, tentu saja dan
tidak saja sama seperti halnya dalam sebuah permainan monopoli. Dalam permainan
catur pun sepertinya tidak jauh berbeda tentunya. Hanya saja dalam permainan
catur ini, jumlah pemain umumnya cukup berjumlah 16 (enam belas) pemain saja, para pemain berdiri di atas sebuah kotak, dengan pemain yang sama, namun warnanya berbeda. Hampir seperti
cermin, para pemain saling berhadap-hadapan untuk saling mendekati, atau saling
menjauhi, hanya sekadar untuk memuluskan sebuah permainan. Para pemain tersebut kemudian dikenal sebagai
delapan pion, dua benteng, dua kuda, dua gajah, satu menteri dan satu raja. Masing-masing
pemain memiliki identitasnya sendiri, dan memiliki aturan geraknya sendiri. Sebuah pion hanya bisa melangkah satu atau dua
kotak secara lurus, benteng bebas
bergerak lurus ke depan dan kesamping beberapa kotak, kuda
ditakdirkan bergerak seperti sebuah huruf L, gajah bergerak menyamping atau
membelah garis horizontal dan vertikal, menteri, bergerak
seumpama gerakan pion, gerak benteng dan dan gerak sebuah gajah. Dan
raja, umumnya cukup bergerak satu langkah ke depan, ke samping atau ke belakang saja. Dalam
sebuah permainan catur, selain dilatih kecerdasan intelektual daya pikir, strategi
dan kelenturan melangkah melewati kotak-kotak untuk menjauhi dan mendekati
sepermainan pun sangatlah dibina. Catur
atau sebuah monopoli intinya mengajarkan bahwa kebersamaan, kekompakan,
kehati-hatian, selalu waspada melangkah adalah sesuatu yang sangat penting.
Mereka diajarkan untuk berterima kasih atas inisiatif sepermainan dalam
mempertemukan satu sama lainnya, atau mereka diajarkan untuk berlomba-lomba membangun sebuah
kekuatan jasmani maupun kekuatan rohani, yang terkadang keberadaannya dapat
dilihat dari besar kecilnya kemauan dan kemampuan pemain untuk melangkah lebih
baik lagi. ***