Meskipun
pembaca agak sulit menemukan buku edisi lama saat search di sebuah internet, namun pembaca memang bisa menemukan
informasi di setiap toko buku-toko buku yang memang sejak dulu bisa diketemukan,
baik dalam sebuah acara bazaar, bedah buku, maupun acara penting lainnya yang
diselenggarakan oleh sebuah kampus ataupun sebuah sekolah umum. Biasanya selain mendapatkan diskon potongan
harga, pembaca pun berkemungkingan besar mendapatkan informasi lainnya yang
memperkuat dan memperluas wawasan berdasarkan kebutuhan dan berdasarkan tema
yang sedang hangat dibicarakan. 100 tokoh yang dimunculkan Hart ini, memang
cukup lengkap, agak tebal, dengan beberapa ratus halaman saja. Kaum spiritual,
ilmuwan, seniman, olahragawan, maupun teknokrat, diceritakan Hart sesuai berdasarkan
hasil studi lapangan dan berdasarkan studi literature kepustakaan yang syarat
dengan analisis dan kecermatan yang luar biasa. Simak saja misalkan cerita Hart
tentang hasil karya seniman klasik Ludwig Bethoven. Beberapa hasil karya berupa
notasi balok asli Ludwig begitu natural terlihat dengan beberapa coretan hasil
karya yang belum disadur, persis seperti menonton sebuah film Jacky Chan tanpa
editing sama sekali. Alur ceritanya menegangkan, dan terkadang happy ending seperti kebanyakan
film-film yang diproduksi India.
Hart,
sebenarnya sangat sederhana bercerita. Nilai-nilai dasar, konsistensi,
kesungguhan pada suatu pekerjaan, dan tak segan-segan untuk mempertahankan
nilai-nilai yang kuat dan selalu belajar memperbaiki kesalahan-kesalahan masa
lalu adalah sebuah point plus. Langkah
besar yang seringkali diingatkan konfutze filosofi klasik asal timur itu, langkah
besar itu selalu berawal dari langkah pertama. Seperti halnya improvisasi
spontanitas yang terlebih dahulu dibina dengan dasar-dasar harmonisasi yang
ajeg, sebuah pekerjaan seringkali diyakini kemudian sebagai sebuah usaha yang
terus-menerus harus dijalani. Fluktuasi, naik turunnya iklim usaha, seperti
halnya sebuah analogi yang sering dilontarkan beberapa kaum intelektual. “Yakinlah,
bahwa bisnis itu seperti halnya kendaraan yang sedang melaju naik. Dia tidak
bisa naik sendiri, kalau turun sudahlah pasti.” Berbisnis memerlukan
langkah-langkah besar. Dan aktivitas berbisnis, selain dapat dipelajari kaum
dewasa, bagi kaum anak-anak pun tentu saja dapat dilatih sejak dini. ***