Mungkin tak bisa
dibayangkan, seandainya nama, bukan menjadi sesuatu hal yang serius. Nama bagi
kalangan tertentu, selain sebagai pengagungan, nama juga dianggap sebagai sebuah do’a atau sebuah harapan. Untuk memberikan sebuah nama, orang tua dulu tak
tanggung-tanggung mesti harus membuka sejumlah sumber dan referensi, dengan
harapan anaknya kelak menjadi orang yang benar-benar didambakan, benar-benar
menjadi orang yang berguna baik bagi dirinya, keluarganya maupun bagi bangsa
dan negaranya. Bahkan dalam tradisi masyarakat Jawa Barat, khususnya sunda, yang dinilai sebagai suku
kedua terbesar dalam masyarakat Indonesia, selain penyertaan do’a, orang tua
dulu sering mengadakan sebuah hajatan bubur
beureum bubur bodas sebagai sebuah simbol penghargaan terhadap sebuah nama.
Nama, tentu saja
kemudian menjadi sebuah alamat dan identitas diri. Untuk memanggil
seseorang, dalam tradisi arab, ada
beberapa istilah panggilan bahasa yang digunakan untuk menandakan seseorang
berada pada jarak yang dekat, agak dekat, dan jauh. Yaa misalkan, kalau tidak salah untuk memanggil seseorang yang
berada pada jarak yang jauh. Dalam tradisi pada umumnya, selain ada kata
pengantar seperti Yaa tersebut,
kebanyakan sudah menjadi bahasa umum dan lumrah diselang kemudian dengan sebuah
nama. Misalkan, Hai Udin, wahai maryam, atau cukup dengan memanggil Hey!!. Bagi
kaum sufistik dulu, mereka yang serius mendalami religiusitas sembari
menghubungkannya dengan filosofi bahasa, terkadang memunculkan bahasa yang agak
‘nyeleneh’ dimana orang sering menyebutnya sebagai sebuah keakraban dalam
pemakaian bahasa dengan objek yang dimaksud. Seperti apresiasi bahasa sufistik
Rubi’ah untuk mengungkapkan betapa kecintaan dan kehadiran Tuhan hadir pada
dirinya, Rubi’ah suatu waktu sering berujar misalkan, “padaNya lalu aku bilang, hai aku…! “.
Berapresasi bahasa
atau kegiatan memperkaya bahasa bagi kalangan tertentu merupakan sebuah
aktivitas yang sangat penting. Betapa
tidak, setiap hari siapapun akan berhadapan dengan sebuah realitas atau
kenyataan, dimana bahasa merupakan alat komunikasi yang ampuh untuk
mendeskripsikan atau menjelaskan sebuah keadaan. Dengan bahasa persahabatan makin meluas,
dengan bahasa apapun yang dimaksud akan segera relatif mudah terwujud. Pakar
komunikasi Bang J. Rahmat, dalam Psikologi Komunikasi, menekankan,
berbahasa berarti siapapun sedang mempengaruhi, memberikan informasi, atau
menghibur siapapun yang layak untuk diapresiasi. Jadi, berbahasa, selain
sesuatu yang perlu dan bersifat dinamis, tentu saja berbahasa sangat berkaitan
erat dengan sebuah nama. Sebab nama itu sendiri adalah sebuah bahasa dan sebuah
pembahasan yang tak pernah selesai-selesai. Namun satu hal yang pasti, sebuah
nama dan sebuah bahasa, yang berjumlah sekira miliaran dan ribuan banyaknya
itu, sebanyak jumlah penduduk dunia saat ini, nama dan bahasa merupakan sesuatu
yang sangat imajinatif logistik dan bersifat pragmatis dinamis. [AF]