Statistik Blog

Sabtu, 09 November 2013

Kode-Kode Zaman


       Menyelami kehidupan atau melakoni kehidupan adalah bagian dari sebuah perjuangan. Legendaris Bimbo, dengan sederhana menyebutnya, bahwa kelahiran, pernikahan, dan kematian adalah sebuah kenyataan umum. Tak terkecuali tua-muda, pria-wanita, dewasa-anak-anak, mereka akan menghadapi hal-hal tersebut dengan berbagai bentuk dan berbagai kemisteriusan yang tidak bisa ditebak secara sederhana, baik waktunya, maupun tempatnya. Orang-orang bijak dulu mengatakan, bahwa kekuasaan Yang Maha Kuasa adalah kekuasaan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Jika Dia berkehendak jadi, maka jadilah hal-hal tersebut.  
            Al-jauziyah, ilmuwan abad silam, secara sederhana menganalogikan dan melukiskan bahwa rindangnya buah-buahan yang dapat dinikmati, adalah sebuah kekonsistenan, keajegan dan ketetapan luar biasa antara ilmu pengetahuan, amalan, dan hubungan harmonis yang terus terjaga antara makhluk, alam, dan sang Maha Pencipta. Literatur kuno dulu selalu menyebutnya bahwa ilmu pengetahuan bagaikan cahaya dan kebodohan itu bagaikan gelap gulita, dimana siapapun tak bisa melihat keindahan bentuk maupun warna-warninya. Untuk menggambarkan betapa luasnya ilmu pengetahuan, seandainya lautan samudera dijadikan sebuah tinta untuk menuliskan ilmu pengetahuan, maka tak cukuplah tinta tersebut untuk menggambarkannya. Dan orang tua dulu selalu berpesan bahwa didiklah anakmu sebaik-baiknya, karena setiap zaman memiliki watak dan karakteristiknya masing-masing. Kebenaran masa lalu, mungkin tak lagi menjadi sebuah kebenaran masa kini, atau masa yang akan datang. Dan itulah kenapa membaca setiap zaman adalah sebuah perjuangan yang luar biasa dan tak ada akhir-akhirnya.
            Setiap melak cabe maka akan tumbuhlah cabe. Setiap yang menanam kebaikan, maka akan tumbuh suburlah sebuah kebaikan. Dan kepercayaan, termasuk suasana hati, akan selalu turun naik, juga selalu bertambah dan berkurang. Rasa takut, berani, sedih, senang, adalah hal-hal biasa yang dialami siapapun. Bahkan Yang Maha Kuasa pun tak segan-segan untuk menguji kepercayaan makhluknya dengan berbagai rasa tersebut. Hujan membesar, gunung meletus, badai menopan, atau tiba-tiba mendapatkan sejumlah harta banyak, adalah sebuah kenyataan yang sering diketemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dan yang jelas lagi, D’Masiv secara lugas sederhana menekankan bahwa  syukuri apa yang ada| hidup adalah anugerah| tetap jalani hidup ini |melakukan yang terbaik. Harta, tahta, merupakan sebuah amanah. Seperti halnya jarum jam, ia akan mampir dan hinggap pada siapapun, lalu pergi untuk sekadar kembali lagi beberapa waktu lamanya. Atau seperti halnya sebuah permainan sepakbola, bola akan berada pada siapapun, tergantung bagaimana seseorang tersebut berjuang mendapatkan bola tersebut, mengovernya, atau memasukkannya ke sebuah gawang atas kerjasama yang apik antara titah manager, hubungan dinamis antara posisi kesebelasan, appresiasi terhadap ketentuan wasit dan teman-temannya, serta gegap gempitanya supporter yang duduk melingkar memberi ruh dan semangat, berharap jagoannya menang atau setidak-tidaknya kalah secara terhormat. [AF]