Menyelami
kehidupan atau melakoni kehidupan adalah bagian dari sebuah perjuangan.
Legendaris Bimbo, dengan sederhana menyebutnya, bahwa kelahiran, pernikahan,
dan kematian adalah sebuah kenyataan umum. Tak terkecuali tua-muda,
pria-wanita, dewasa-anak-anak, mereka akan menghadapi hal-hal tersebut dengan berbagai
bentuk dan berbagai kemisteriusan yang tidak bisa ditebak secara sederhana,
baik waktunya, maupun tempatnya. Orang-orang bijak dulu mengatakan, bahwa
kekuasaan Yang Maha Kuasa adalah kekuasaan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Jika
Dia berkehendak jadi, maka jadilah hal-hal tersebut.
Al-jauziyah, ilmuwan abad
silam, secara sederhana menganalogikan dan melukiskan bahwa rindangnya
buah-buahan yang dapat dinikmati, adalah sebuah kekonsistenan, keajegan dan
ketetapan luar biasa antara ilmu pengetahuan, amalan, dan hubungan harmonis
yang terus terjaga antara makhluk, alam, dan sang Maha Pencipta. Literatur kuno
dulu selalu menyebutnya bahwa ilmu pengetahuan bagaikan cahaya dan kebodohan itu
bagaikan gelap gulita, dimana siapapun tak bisa melihat keindahan bentuk maupun
warna-warninya. Untuk menggambarkan betapa luasnya ilmu pengetahuan, seandainya
lautan samudera dijadikan sebuah tinta untuk menuliskan ilmu pengetahuan, maka
tak cukuplah tinta tersebut untuk menggambarkannya. Dan orang tua dulu selalu
berpesan bahwa didiklah anakmu sebaik-baiknya, karena setiap zaman memiliki
watak dan karakteristiknya masing-masing. Kebenaran masa lalu, mungkin tak lagi
menjadi sebuah kebenaran masa kini, atau masa yang akan datang. Dan itulah
kenapa membaca setiap zaman adalah sebuah perjuangan yang luar biasa dan tak
ada akhir-akhirnya.
Setiap melak cabe maka akan tumbuhlah cabe.
Setiap yang menanam kebaikan, maka akan tumbuh suburlah sebuah kebaikan. Dan
kepercayaan, termasuk suasana hati, akan selalu turun naik, juga selalu
bertambah dan berkurang. Rasa takut, berani, sedih, senang, adalah hal-hal
biasa yang dialami siapapun. Bahkan Yang Maha Kuasa pun tak segan-segan untuk
menguji kepercayaan makhluknya dengan berbagai rasa tersebut. Hujan membesar,
gunung meletus, badai menopan, atau tiba-tiba mendapatkan sejumlah harta
banyak, adalah sebuah kenyataan yang sering diketemukan dalam kehidupan
sehari-hari. Dan yang jelas lagi, D’Masiv secara lugas sederhana menekankan
bahwa syukuri apa yang ada| hidup
adalah anugerah| tetap jalani hidup
ini |melakukan yang terbaik.
Harta, tahta, merupakan sebuah amanah. Seperti halnya jarum jam, ia akan mampir
dan hinggap pada siapapun, lalu pergi untuk sekadar kembali lagi beberapa waktu
lamanya. Atau seperti halnya sebuah permainan sepakbola, bola akan berada pada
siapapun, tergantung bagaimana seseorang tersebut berjuang mendapatkan bola
tersebut, mengovernya, atau
memasukkannya ke sebuah gawang atas kerjasama yang apik antara titah manager,
hubungan dinamis antara posisi kesebelasan, appresiasi terhadap ketentuan wasit
dan teman-temannya, serta gegap gempitanya supporter
yang duduk melingkar memberi ruh dan semangat, berharap jagoannya menang atau
setidak-tidaknya kalah secara terhormat. [AF]