Statistik Blog

Selasa, 29 Oktober 2013

Ekspektasi Planet


Belum ada yang memastikan secara pasti bahwa kapan dunia ini mulai terbentuk. Namun yang jelas, pengetahuan menawarkan, bahwa karena keterampilan berbahasa, Adam, mendapatkan kedudukan yang tertinggi, diantara makhluk-makhluk lainnya.  Sejak bangku menengah atas, berbagai teori telah diperkenalkan,  bahwa dunia adalah bumi yang terbentuk dari gumpalan udara melalui proses yang cukup lama. Bumi, sebagai bagian dari keluarga planet, diyakini kemudian sebagai tempat yang nyaman untuk proses dan terbentuknya sebuah sistem kehidupan. Beberapa literatur lainnya menyebutkan bahwa bumi merupakan hasil kreasi Tuhan melalui beberapa tahapan hingga terbentuklah hamparan dan kehidupan bumi yang luar biasa. Untuk mendalami lebih jauh maha hebatnya kreator bumi ini, lebih jauh sebagian peneliti meneliti bahwa Mars adalah planet yang hampir menyerupai bumi. Namun hingga kini, penelitian tersebut belum sampai pada kesimpulan bahwa Mars adalah planet alternatif untuk dijadikan sebagai tempat terbentuknya sistem kehidupan.
Berbeda dengan Pluto, keluarga planet yang jaraknya terjauh seandainya diukur dari bumi, karakteristiknya bukan hanya saja sebagai penguat akan keberadaan planet lainnya yang memiliki lingkaran yang sangat nyaman dilihat, namun lebih jauh Pluto adalah keluarga planet yang tidak kalah menariknya untuk dibahas setelah Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.  Selain berkarakteristik jauh, Pluto seringkali dijadikan sebuah wacana semata untuk sekadar mengalihkan pembahasan saja bahwa perspektif sistem keluarga planet jauh lebih penting untuk dikedepankan. Sejauh ini hal-hal tersebut seringkali dianggap wajar. Selain karena masing-masing planet tersebut memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri dan seakan-akan tidak ada hubungannya dengan planet lainnya, hal-hal yang pragmatis mendesak seperti munculnya angin beliung sebagai fenomena yang datang secara misterius, seperti halnya hujan yang memburu tak terkira, sudah menjadi pembahasan rutinitas yang lalu-lalang menghampiri lalu muncul dan lenyap kembali.
Akan tetapi harmoni semesta yang hampir tanpa batas seperti halnya imajinasi yang melingkupi dan menghidupkan lalu-lalang sistem keluarga planet, bukan saja ‘menyapa’ dan ‘menyadarkan’ interaksi sistem planet, namun lebih jauh menawarkan sebuah alternatif  visual dan pengetahuan yang bersifat terbatas dan dapat diukur menurut nalar yang juga terbatas. Hal-hal yang tak terduga terkadang menjadi sebuah bentuk penyadaran bahwa sebuah sistem apapun, besar-kecil, panjang-pendek, luas-sempit, memang harus terus dirawat dan dipelihara sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah sistem yang saling menguatkan dan bermuara pada sebuah komposisi dan harmoni yang nyaman dan anggun. [AF]