Belum ada yang memastikan secara pasti bahwa kapan dunia ini mulai terbentuk.
Namun yang jelas, pengetahuan menawarkan, bahwa karena keterampilan berbahasa,
Adam, mendapatkan kedudukan yang tertinggi, diantara makhluk-makhluk
lainnya. Sejak bangku menengah atas,
berbagai teori telah diperkenalkan, bahwa dunia adalah bumi yang terbentuk dari
gumpalan udara melalui proses yang cukup lama. Bumi, sebagai bagian dari
keluarga planet, diyakini kemudian sebagai tempat yang nyaman untuk proses dan
terbentuknya sebuah sistem kehidupan. Beberapa literatur lainnya menyebutkan
bahwa bumi merupakan hasil kreasi Tuhan melalui beberapa tahapan hingga
terbentuklah hamparan dan kehidupan bumi yang luar biasa. Untuk mendalami lebih
jauh maha hebatnya kreator bumi ini, lebih jauh sebagian peneliti meneliti bahwa
Mars adalah planet yang hampir menyerupai bumi. Namun hingga kini, penelitian
tersebut belum sampai pada kesimpulan bahwa Mars adalah planet alternatif untuk
dijadikan sebagai tempat terbentuknya sistem kehidupan.
Berbeda dengan Pluto, keluarga planet yang jaraknya terjauh seandainya
diukur dari bumi, karakteristiknya bukan hanya saja sebagai penguat akan
keberadaan planet lainnya yang memiliki lingkaran yang sangat nyaman dilihat,
namun lebih jauh Pluto adalah keluarga planet yang tidak kalah menariknya untuk
dibahas setelah Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.
Selain berkarakteristik jauh, Pluto
seringkali dijadikan sebuah wacana semata untuk sekadar mengalihkan pembahasan saja
bahwa perspektif sistem keluarga planet jauh lebih penting untuk dikedepankan. Sejauh
ini hal-hal tersebut seringkali dianggap wajar. Selain karena masing-masing
planet tersebut memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri dan seakan-akan tidak
ada hubungannya dengan planet lainnya, hal-hal yang pragmatis mendesak seperti
munculnya angin beliung sebagai fenomena yang datang secara misterius, seperti
halnya hujan yang memburu tak terkira, sudah menjadi pembahasan rutinitas yang
lalu-lalang menghampiri lalu muncul dan lenyap kembali.
Akan tetapi harmoni semesta yang hampir tanpa batas seperti halnya
imajinasi yang melingkupi dan menghidupkan lalu-lalang sistem keluarga planet, bukan
saja ‘menyapa’ dan ‘menyadarkan’ interaksi sistem planet, namun lebih jauh
menawarkan sebuah alternatif visual dan
pengetahuan yang bersifat terbatas dan dapat diukur menurut nalar yang juga
terbatas. Hal-hal yang tak terduga terkadang menjadi sebuah bentuk penyadaran
bahwa sebuah sistem apapun, besar-kecil, panjang-pendek, luas-sempit, memang
harus terus dirawat dan dipelihara sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah sistem
yang saling menguatkan dan bermuara pada sebuah komposisi dan harmoni yang nyaman
dan anggun. [AF]