Baginda Sulaiman, menurut beberapa buku historis
dan beberapa cerita yang sudah maklum di kalangan masyarakat pada umumnya,
adalah sosok nabi yang pernah mengalami beberapa pertanyaan serupa dengan
nabi-nabi lainnya. Hanya saja nasib dan pilihan Tuhan ini disodorkan pertanyaan
yang nampak sederhana namun cukup mendalam untuk dipilih. Apakah Ilmu
pengetahuan atau harta kekayaankah yang Saudara pilih? Kira-kira demikian
pertanyaan Yang Maha Kuasa berikan. Dan menurut beberapa cerita yang sudah
dimaklumi, Baginda Sulaiman sungguh sangat cerdik dalam memilih dua pilihan
tersebut. Dengan memilih Ilmu pengetahuan ternyata bukan hanya saja kenikmatan
ruhiyah yang didapatkan, harta kekayaanpun pada akhirnya didapatkannya
sekaligus. Orang-orang dulu pernah berprediksi, seandainya Baginda Sulaiman
memilih harta kekayaan, diperkirakan lambat laun harta kekayaan itu akan habis
perlahan-lahan, sebab ilmu pengetahuan sebagai ‘wadah’ dan ‘setir’ dalam
menjalani kehidupan dan penjaga harta
kekayaan tidak didapatkannya secara baik-baik. Jelasnya, memilih harta kekayaan
tidak lantas kemudian mendapatkan ilmu pengetahuan, tidak seperti memilih ilmu
pengetahuan lantas kemudian mendapatkan harta kekayaan.
Selain mahir dan mampu
memahami bahasa binatang, konon kekuasaan Nabi ini cukup luas hingga historis
menilainya bahwa Nabi ini ditempatkan sebagai Nabi terkaya diantara nabi-nabi
lainnya dan diprediksi sebagai Nabi terakhir untuk masuk ke sebuah jannah atau sebuah surga. Sebab konon
katanya nabi ini harus banyak berurusan dengan banyaknya pertanyaan yang disodorkan
‘tentara-tentara’ Tuhan, mengenai banyaknya harta kekayaan yang didapatkannya. Berbeda
dengan Kanjeng Nabi Muhammad, menurut beberapa cerita kuno, Nabi ini adalah
Nabi pertama yang masuk ke sebuah jannah
atau surga, sebab nabi ini adalah nabi yang tidak banyak berurusan dengan beberapa
pertanyaan. Konon menurut beberapa cerita, harta kekayaan Nabi ini justru
dinilai sangat besar juga, akan tetapi harta kekayaan nabi ini menyebar dan
terbagi kepada mereka yang dinilai miskin, fakir, dan tersalurkan kepada mereka
yang benar-benar sangat membutuhkan baik mewujud menjadi sebuah lembaga
pendidikan maupun mewujud menjadi sebuah ‘pancingan’ yang kelak kemudian menjadi
sebuah modal untuk mendapatkan harta kekayaan yang berguna bagi pemiliknya.
Membaca menurut beberapa literature
dan ahli sejarah konon merupakan sebuah jalan dan aktivitas yang cukup
sederhana untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Ayat-ayat tekstual maupun ayat-ayat kontekstual yang
selalu hadir setiap waktu terkadang lewat dan mampir begitu saja tanpa makna
sekalipun. Covey dengan sederhana menceritakannya bahwa terkadang kita terlalu
banyak ‘menggergaji’ namun sangat lupa
untuk mengasahnya. Sehingga ketika gergaji itu tumpul, kayu-kayu pun tidak
lantas kemudian sangat mudah untuk dipotong-potong. Padahal terkadang kayu-kayu
itu sungguh sangat berguna untuk sebuah bangunan, sebuah kapal, ataupun sebuah
kendaraan lainnya yang terbuat dari kayu, yang sangat dibutuhkan sedini
mungkin. Analoginya, terkadang kita terlalu sibuk mengurus urusan pekerjaan
atau urusan dunia lainnya namun sangat lupa membina fisik dan mental kita padahal
roda kehidupan terus berjalan dimana terkadang mereka tak sengaja membebani,
meneror, dan mencubit siapapun tanpa melihat siapa, apa jabatannya, ataupun
berapa banyak harta kekayaannya. [AF]