Statistik Blog

Selasa, 19 November 2013

Harta, Tahta, dan Seksualitas



Baginda Sulaiman, menurut beberapa buku historis dan beberapa cerita yang sudah maklum di kalangan masyarakat pada umumnya, adalah sosok nabi yang pernah mengalami beberapa pertanyaan serupa dengan nabi-nabi lainnya. Hanya saja nasib dan pilihan Tuhan ini disodorkan pertanyaan yang nampak sederhana namun cukup mendalam untuk dipilih. Apakah Ilmu pengetahuan atau harta kekayaankah yang Saudara pilih? Kira-kira demikian pertanyaan Yang Maha Kuasa berikan. Dan menurut beberapa cerita yang sudah dimaklumi, Baginda Sulaiman sungguh sangat cerdik dalam memilih dua pilihan tersebut. Dengan memilih Ilmu pengetahuan ternyata bukan hanya saja kenikmatan ruhiyah yang didapatkan, harta kekayaanpun pada akhirnya didapatkannya sekaligus. Orang-orang dulu pernah berprediksi, seandainya Baginda Sulaiman memilih harta kekayaan, diperkirakan lambat laun harta kekayaan itu akan habis perlahan-lahan, sebab ilmu pengetahuan sebagai ‘wadah’ dan ‘setir’ dalam menjalani kehidupan dan penjaga  harta kekayaan tidak didapatkannya secara baik-baik. Jelasnya, memilih harta kekayaan tidak lantas kemudian mendapatkan ilmu pengetahuan, tidak seperti memilih ilmu pengetahuan lantas kemudian mendapatkan harta kekayaan.
            Selain mahir dan mampu memahami bahasa binatang, konon kekuasaan Nabi ini cukup luas hingga historis menilainya bahwa Nabi ini ditempatkan sebagai Nabi terkaya diantara nabi-nabi lainnya dan diprediksi sebagai Nabi terakhir untuk masuk ke sebuah jannah atau sebuah surga. Sebab konon katanya nabi ini harus banyak berurusan dengan banyaknya pertanyaan yang disodorkan ‘tentara-tentara’ Tuhan, mengenai  banyaknya harta kekayaan yang didapatkannya. Berbeda dengan Kanjeng Nabi Muhammad, menurut beberapa cerita kuno, Nabi ini adalah Nabi pertama yang masuk ke sebuah jannah atau surga, sebab nabi ini adalah nabi yang tidak banyak berurusan dengan beberapa pertanyaan. Konon menurut beberapa cerita, harta kekayaan Nabi ini justru dinilai sangat besar juga, akan tetapi harta kekayaan nabi ini menyebar dan terbagi kepada mereka yang dinilai miskin, fakir, dan tersalurkan kepada mereka yang benar-benar sangat membutuhkan baik mewujud menjadi sebuah lembaga pendidikan maupun mewujud menjadi sebuah ‘pancingan’ yang kelak kemudian menjadi sebuah modal untuk mendapatkan harta kekayaan yang berguna bagi pemiliknya.  
            Membaca menurut beberapa literature dan ahli sejarah konon merupakan sebuah jalan dan aktivitas yang cukup sederhana untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Ayat-ayat  tekstual maupun ayat-ayat kontekstual yang selalu hadir setiap waktu terkadang lewat dan mampir begitu saja tanpa makna sekalipun. Covey dengan sederhana menceritakannya bahwa terkadang kita terlalu banyak ‘menggergaji’  namun sangat lupa untuk mengasahnya. Sehingga ketika gergaji itu tumpul, kayu-kayu pun tidak lantas kemudian sangat mudah untuk dipotong-potong. Padahal terkadang kayu-kayu itu sungguh sangat berguna untuk sebuah bangunan, sebuah kapal, ataupun sebuah kendaraan lainnya yang terbuat dari kayu, yang sangat dibutuhkan sedini mungkin. Analoginya, terkadang kita terlalu sibuk mengurus urusan pekerjaan atau urusan dunia lainnya namun sangat lupa membina fisik dan mental kita padahal roda kehidupan terus berjalan dimana terkadang mereka tak sengaja membebani, meneror, dan mencubit siapapun tanpa melihat siapa, apa jabatannya, ataupun berapa banyak harta kekayaannya.  [AF]