TANTANGAN terbesar bagi seorang production
hingga seorang sastrawan, mereproduksi tema hingga isi, adalah pekerjaan yang
tidak mudah. Menurut Diponegoro, gagasan ibarat sebuah ilham yang datang dengan
sendirinya dan diam-diam lalu pergi begitu saja. Untuk memaknai hingga membuat
ilham dan gagasan itu menjadi sesuatu yang berharga, merekam dalam sebuah
memori hingga menjadi sebuah bangunan karya tulis merupakan sesuatu yang bisa
dilakukan oleh banyak orang. Namun untuk menjadi sebuah ‘menu makanan’ yang
bergizi, menarik dan bernuansa klasik unik dan tahan lama, memang bukan
pekerjaan yang enteng.
Saddam, meskipun lebih memilih sebagai seorang politikus, dalam sebuah
penjara dia berpesan. Untuk memilih seorang partner, sebenarnya jangan terlalu
susah-susah. Cukuplah anggun, dan mahir dalam
meramu sebuah makanan. Bill Clinton,
menurut paradigma sekilas, menurut
kacamata awam, kalau boleh berasumsi sebenarnya mantan presiden ini bukan
sedang mengajak orang untuk janganlah mencoba untuk berkorupsi dalam berpikir,
atau sekadar untuk meminimalisasi sebuah permasalahan dunia dengan sebuah
pernyataannya bahwa There are no tomorrow.
Soekarno, lebih jauh berpendapat bahwa sebenarnya sebuah internasionalism paradigm harus sejajar dan beriringan dengan nasionalism paradigm. Di luar itu semua,
gagasan-gagasan besar terkadang bermula dari hal-hal terkecil namun berani
untuk mengapresiasi kembali hal-hal terkecil
tersebut dengan cara dan suasana yang unik.
Pada akhirnya, tidak mungkin Tuhan sedang bermain dadu, sebuah ungkapan
kesemestaan seorang fisikawan Einstein, sudah cukup sebagai renungan dalam melihat
betapa hebatnya Pencipta Alam ini mengatur alam semesta beserta isinya ini
dengan hukum-hukum alamnya yang sangat tertib. Alam begitu intensif dan
konsisten dengan seluruh perilakunya. Matahari terbit dan terbenam di sebelah
timur dan barat, awan beriring-iringan
dan menurunkan hujan pada waktunya, dan malam berganti siang sebagai pertanda
peralihan aktifitas. [AF]