Jepang dulu
hingga kini pernah dicap sebagai negara yang kuat dalam individual skill namun agak lemah dalam hal konfigurasi system atau
kekuatan sebuah organisasi. Produk-produk yang berlabelkan negara matahari
terbit ini adalah karya tangan anak pribumi sendiri hingga ratusan bahkan
ribuan label produk jepang sudah tidak asing lagi dikonsumsi hingga Indonesia
sendiri. Selain produk-produk teknologi, dulu pernah booming di tataran teknologi cinema seperti film Oshin misalkan, sebuah rekaman riwayat
perjalanan hidup yang kental dengan perjuangan mempertahankan dan menjalani
gaya hidup dari kehidupan bawah hingga papan atas namun penuh dengan romantika
dan kebersahajaan yang luar biasa.
Tidak jauh berbeda dengan negara sekelas
China, negara ini pun
pernah mengalami hal yang serupa. Produk-produk teknologi China hingga kini sangat
menggurita di setiap lini pasar teknologi informasi. Seandainya berkunjung ke counter-counter handphone, cobalah
sekali-sekali membaca made in-made in
yang tertulis di sebuah alat teknologi maupun lembaran kertas kecil,
produk-produk China begitu
akrab dan mudah sekali untuk dibaca. Selain merambah ke produk farmasi, China
sanggat unggul dalam membangun kebudayaan dan sebuah tradisi lokal. Tembok
besar China misalkan, adalah salah satu hasil karya kesungguhan seluruh rakyat
China yang konon dulu dijadikan sebuah benteng pertahanan dalam hal pertahanan
militerisme. Selain dijadikan sebagai salah satu keajaiban dunia, tembok China
mempunyai nilai sejarah tersendiri yang menyentuh, bukan hanya berskala
nasional namun menjadi sebuah museum dunia yang sangat dibanggakan sebagai
bagian dari warga dunia. Tokoh yang sangat akrab dengan kebudayaan Arab selanjutnya
terutama dalam membangun kerjasama dalam hal perdagangan adalah kehebatan
Pangeran Laksamana Cheng-Ho dalam berdiplomasi. Maka tak aneh, dalam literatur
Arab, dulu ada ungkapan, belajarlah ilmu
pengetahuan meskipun hingga negeri China.
Afrika, meskipun negeri ini nampak
mungil, jangan salah sumber daya manusianya sungguh sangat luar biasa. Siapa
yang tidak kenal Koefi Annan, seorang Sekretaris Jenderal PBB pertama kulit
hitam, yang cukup cemerlang dan banyak mengeluarkan kebijakan untuk perdamaian
dunia meskipun memang tak sepenuhnya negara-negara lain tidak sedikit yang bersebrangan atas
keputusan-keputusannya yang cukup kontroversial. Namun sebaliknya berbeda
dengan negara semisal
paman Sam AS, negara ini dulu
pernah dicap sebagai negara yang kuat
dalam konfigurasi system namun agak lemah dalam individual skill. Selain China, AS, termasuk negara yang
memiliki hak veto, yang mana keputusan sebelumnya bisa berubah begitu saja lalu
menjadi sebuah keputusan lain, hanya karena kekuatan kebijakan veto dari beberapa
Negara kuat lainnya. Di sisi lainnya ada sebuah asumsi bahwa sebuah korporasi
atau organisasi menguat karena adanya kekuatan Undang-undang, besarnya
partisipasi dan tingginya intelegensi rakyat, kuatnya pengawasan dari berbagai tataran yang
diberi tanggung jawab, dan harmonisnya antara pemegang kekuasaan dan mereka
yang dipimpin. Satu hal penting lainnya yang selalu dijadikan bahan diskusi adalah
pola komunikasi yang semakin cerdas dan semakin difahami oleh berbagai
tingkatan dan strata sosial. [af]