Socrates, dalam
Dialog Socrates tentang Hakekat Cinta,
begitu lugas memaparkan tentang apa sebenarnya hakekat cinta itu. Meskipun buku
setebal ratusan halaman ini terlihat biasa-biasa saja, jauh dari berbagai
rendaan artistik, namun buku
berwarna hitam putih ini cukup kental untuk meningkatkan kesadaran dan mengisi
waktu-waktu luang siapapun. Bahasa yang disusun murid philosof plato ini,
selain mesti dibaca bolak-balik untuk memahami isinya, justru pada bagian
tengahnya begitu jernih mudah dibaca. Untuk remaja usia kelas menengah, mungkin
sangat mudah mencernanya, meskipun harus berhadapan dengan beberapa tokoh yang
begitu ‘gelap’ menjelaskan tentang argumentasi seputar cinta.
Bagi Socrates,
cinta adalah sebuah kekuatan. Konon, dulu, dua manusia berada dalam satu badan.
Badan yang satu berbentuk feminism,
badan yang lainnya berbentuk maskulinism.
Kekuatannya luar biasa. Karena keluarbiasaannya itu, alam kahyangan sempat
‘diobrak-abrik’ karena kehebatannya tersebut. Penduduk kahyangan yang tergolong
‘sakti-sakti’ itu merasa terdesak dan khawatir, mereka memohon kepada pimpinan
kahyangan untuk segera mengambil tindakan secepatnya. Merasa bertanggung jawab
atas kelangsungan hidup dunia kahyangan, pimpinan kahyangan pun segera
mengeluarkan kebijakan untuk memenggal manusia yang berbadan dua tersebut.
Singkat cerita badan itu pun terbelah. Mereka, akhirnya memiliki badan sendiri
dengan kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Penduduk kahyangan merasa
senang, namun perpisahan dua manusia tersebut menyimpan sebuah kesedihannya
masing-masing. Mereka sungguh sangat merindukan sekali tubuhnya kembali
bersatu. Sebab dengan bersatunya tubuh mereka, kekuatan akan menjadi miliknya.
Itulah kenapa dalam cinta, menurut Socrates, ada energi kekuatan untuk saling
menyatu antara dunia feminism dengan dunia maskulinism. Mereka saling mencari
tubuh lainnya untuk membentuk sebuah kekuatan.
Ibarat sebuah
ruh, urusan cinta, bagi paradigm barat dan timur, cinta bersifat rahasia, dan
hanya sedikit pengetahuan yang Maha Kuasa informasikan pada mahluknya. Bahkan
Yang Maha Kuasa sendiri kabarkan, janganlah terlalu banyak memikirkan tentang
keberadaanNya. Sebab selain hanya akan sia-sia, kemampuan akal makhluknya
terbilang sangat terbatas. Saling memahami antar makhluknya, adalah hal yang
utama dan sebuah kewajiban yang mesti dilakukan. Bahkan ada sebuah pepatah kuno
dulu, barang siapa yang sehari saja tidak memikirkan urusan saudara-saudaranya,
mereka benar-benar sangat tidak beruntung. [af, dbs]