Statistik Blog

Sabtu, 05 Oktober 2013

Memahami Bahasa Cinta


 Socrates, dalam Dialog Socrates tentang Hakekat Cinta, begitu lugas memaparkan tentang apa sebenarnya hakekat cinta itu. Meskipun buku setebal ratusan halaman ini terlihat biasa-biasa saja, jauh dari berbagai rendaan artistik, namun buku berwarna hitam putih ini cukup kental untuk meningkatkan kesadaran dan mengisi waktu-waktu luang siapapun. Bahasa yang disusun murid philosof plato ini, selain mesti dibaca bolak-balik untuk memahami isinya, justru pada bagian tengahnya begitu jernih mudah dibaca. Untuk remaja usia kelas menengah, mungkin sangat mudah mencernanya, meskipun harus berhadapan dengan beberapa tokoh yang begitu ‘gelap’ menjelaskan tentang argumentasi seputar cinta.
Bagi Socrates, cinta adalah sebuah kekuatan. Konon, dulu, dua manusia berada dalam satu badan. Badan yang satu berbentuk feminism, badan yang lainnya berbentuk maskulinism. Kekuatannya luar biasa. Karena keluarbiasaannya itu, alam kahyangan sempat ‘diobrak-abrik’ karena kehebatannya tersebut. Penduduk kahyangan yang tergolong ‘sakti-sakti’ itu merasa terdesak dan khawatir, mereka memohon kepada pimpinan kahyangan untuk segera mengambil tindakan secepatnya. Merasa bertanggung jawab atas kelangsungan hidup dunia kahyangan, pimpinan kahyangan pun segera mengeluarkan kebijakan untuk memenggal manusia yang berbadan dua tersebut. Singkat cerita badan itu pun terbelah. Mereka, akhirnya memiliki badan sendiri dengan kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Penduduk kahyangan merasa senang, namun perpisahan dua manusia tersebut menyimpan sebuah kesedihannya masing-masing. Mereka sungguh sangat merindukan sekali tubuhnya kembali bersatu. Sebab dengan bersatunya tubuh mereka, kekuatan akan menjadi miliknya. Itulah kenapa dalam cinta, menurut Socrates, ada energi kekuatan untuk saling menyatu antara dunia feminism dengan dunia maskulinism. Mereka saling mencari tubuh lainnya untuk membentuk sebuah kekuatan.
Ibarat sebuah ruh, urusan cinta, bagi paradigm barat dan timur, cinta bersifat rahasia, dan hanya sedikit pengetahuan yang Maha Kuasa informasikan pada mahluknya. Bahkan Yang Maha Kuasa sendiri kabarkan, janganlah terlalu banyak memikirkan tentang keberadaanNya. Sebab selain hanya akan sia-sia, kemampuan akal makhluknya terbilang sangat terbatas. Saling memahami antar makhluknya, adalah hal yang utama dan sebuah kewajiban yang mesti dilakukan. Bahkan ada sebuah pepatah kuno dulu, barang siapa yang sehari saja tidak memikirkan urusan saudara-saudaranya, mereka benar-benar sangat tidak beruntung. [af, dbs]