Beberapa penelitian terbaru memperlihatkan kembali bahwa otak manusia
memiliki beberapa kemampuan super canggih diantaranya kemampuan
memilah-memilah, merangkum, hingga mendefinisikan beberapa obyek visual maupun
non visual. Terlepas dari karakteristik auditorial yang cenderung hearing oriented, dan karakteristik
kinestik yang cenderung feeling oriented,
mereka masing-masing memiliki karakteristik tersendiri yang tentu saja saling
melengkapi dan menguatkan satu sama lainnya. Dan tentu saja, secara alamiah
ataupun natural, bahwasannya tidak seorang dan apapun yang benar-benar tampak sempurna.
Seperti halnya konfigurasi alam semesta, sebuah satelit pun belum tentu mampu
menggambarkan secara secara sempurna susunan alam semesta beserta isinya, atau
seperti sebuah anekdot kontemporer bahwa meniru seseorang itu sangat mudah
terkecuali meniru Tuhan. Sebab Tuhan sendiri tentu saja sangat cerdas mampu
meniru ciptaannya sendiri. Pengetahuan akal manusia hingga hardware yang diciptakan memang memiliki keterbatasan tersendiri.
Almarhum Zaenudin MZ, begitu sederhana menganalogikan tentang pengetahuan
yang berserakan dimana-mana yang diambil dari beberapa orang tentang definisi
seekor gajah. Seorang buta pertama mendefinisikan bahwa gajah adalah makhluk seperti
ular, bentuknya panjang dan besar, karena dia hanya menyentuh belalai dan ekornya
saja. Seorang buta kedua mendefinisikan bahwa gajah adalah makhluk seperti ikan
pari, karena dia hanya menyentuh telinganya semata. Seorang buta ketiga
mendefinisikan bahwa gajah adalah makhluk bergigi dua panjang karena dia hanya
menyentuh gading-gadingnya. Dan seorang buta terakhir mendefinisikan bahwa gajah
adalah mahluk berkaki dan bertubuh besar, karena dia hanya menyentuh tubuh dan
kakinya saja. Seandainya pengetahuan dari beberapa orang buta
tersebut digabungkan, tentu saja definisi seekor gajah akan lebih sempurna. Setidak-tidaknya
demikian.
Rizki, selain keberadaannya bisa dihampiri dan datang dengan sendirinya,
serta sebagai sebuah hal yang selalu sangat penting dalam setiap aktivitas
manusia, menurut hadits qudsi, rizki adalah kekayaan yang bukan semata-mata
berhubungan dengan harta benda semata. Intinya dia bermanfaat dan berdaya guna
tinggi untuk dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar. Bisa saja dia adalah pengetahuan
sebagai penerang kegelapan, kesehatan sebagai kekuatan berkolaborasi antara
dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar, waktu luang sebagai penggerak untuk
mereposisi kembali hal-hal yang tampak berserakan, barang-barang sebagai teman
dan bekal perjalanan mengarungi bahtera kehidupan, atau jabatan/kedudukan
sebagai media, alat, dan energi untuk mereformasikan kembali suara-suara dan
informasi yang datang dari berbagai penjuru setempat maupun penjuru dunia. Dan rizki,
tentu saja terkadang menghampiri dalam
sebuah mimpi. [af, dbs]