Statistik Blog

Sabtu, 07 September 2013

Membuka Pintu-Pintu Rizki




Beberapa penelitian terbaru memperlihatkan kembali bahwa otak manusia memiliki beberapa kemampuan super canggih diantaranya kemampuan memilah-memilah, merangkum, hingga mendefinisikan beberapa obyek visual maupun non visual. Terlepas dari karakteristik auditorial yang cenderung hearing oriented, dan karakteristik kinestik yang cenderung feeling oriented, mereka masing-masing memiliki karakteristik tersendiri yang tentu saja saling melengkapi dan menguatkan satu sama lainnya. Dan tentu saja, secara alamiah ataupun natural, bahwasannya tidak seorang dan apapun yang benar-benar tampak sempurna. Seperti halnya konfigurasi alam semesta, sebuah satelit pun belum tentu mampu menggambarkan secara secara sempurna susunan alam semesta beserta isinya, atau seperti sebuah anekdot kontemporer bahwa meniru seseorang itu sangat mudah terkecuali meniru Tuhan. Sebab Tuhan sendiri tentu saja sangat cerdas mampu meniru ciptaannya sendiri. Pengetahuan akal manusia hingga hardware yang diciptakan memang memiliki keterbatasan tersendiri.

Almarhum Zaenudin MZ, begitu sederhana menganalogikan tentang pengetahuan yang berserakan dimana-mana yang diambil dari beberapa orang tentang definisi seekor gajah. Seorang buta pertama mendefinisikan bahwa gajah adalah makhluk seperti ular, bentuknya panjang dan besar, karena dia hanya menyentuh belalai dan ekornya saja. Seorang buta kedua mendefinisikan bahwa gajah adalah makhluk seperti ikan pari, karena dia hanya menyentuh telinganya semata. Seorang buta ketiga mendefinisikan bahwa gajah adalah makhluk bergigi dua panjang karena dia hanya menyentuh gading-gadingnya. Dan seorang buta terakhir mendefinisikan bahwa gajah adalah mahluk berkaki dan bertubuh besar, karena dia hanya menyentuh tubuh dan kakinya saja. Seandainya pengetahuan dari beberapa orang buta tersebut digabungkan, tentu saja definisi seekor gajah akan lebih sempurna. Setidak-tidaknya demikian.

Rizki, selain keberadaannya bisa dihampiri dan datang dengan sendirinya, serta sebagai sebuah hal yang selalu sangat penting dalam setiap aktivitas manusia, menurut hadits qudsi, rizki adalah kekayaan yang bukan semata-mata berhubungan dengan harta benda semata. Intinya dia bermanfaat dan berdaya guna tinggi untuk dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar. Bisa saja dia adalah pengetahuan sebagai penerang kegelapan, kesehatan sebagai kekuatan berkolaborasi antara dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar, waktu luang sebagai penggerak untuk mereposisi kembali hal-hal yang tampak berserakan, barang-barang sebagai teman dan bekal perjalanan mengarungi bahtera kehidupan, atau jabatan/kedudukan sebagai media, alat, dan energi untuk mereformasikan kembali suara-suara dan informasi yang datang dari berbagai penjuru setempat maupun penjuru dunia. Dan rizki, tentu saja terkadang menghampiri  dalam sebuah mimpi. [af, dbs]