Statistik Blog

Selasa, 10 September 2013

Antara Dunia Musik, Entrepreneur, dan Dunia Literatur




          Dunia musik memang selalu saja fenomenal. Selain selalu hangat, dunia musik, selalu saja tak pernah habis-habisnya dibicarakan, seperti halnya air laut yang diminum, kalau tidak asin, kalau diminum air itu, semakin diminum semakin dahaga saja. Selain komposisi musik apik mampu ‘menghipnotis’ dan menjadi terapi untuk kesehatan, menurut Al-Ghazali, dalam ihya ‘ulumuddin, inti seni musik itu pada hakekatnya adalah membangkitkan jiwa. Dan jiwa itu ibarat sebuah ladang. Andaikata lahan dan tanaman itu dirawat sebaik-baiknya, tanam-tanaman itu perlahan-lahan akan tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah-buahan, yang bukan saja enak dipandang mata namun juga bisa bermanfaat bagi kesehatan. Dan hanya dengan kondisi sehat lah, apapun pekerjaannya, dan atas seluruh perkenanNya, pekerjaan itu akan dengan mudah dapat diselesaikan dengan baik. Pepatah kuno dulu, bahwa di dalam tubuh yang sehat itu sungguh terdapat jiwa yang kuat.

          Seperti halnya fenomena musik, istilah entrepreneur yang semakin terus menghangat di periode 90-an, dunia entrepreneur semakin terus membuka peluang-peluang baru dalam membuka dan menghubungkan cakrawala dunia usaha untuk terus berkompetitif dan terus memperkuat dan memajukan mereka-mereka yang masih tertatih-tatih dalam dunia usaha atau mereka yang sudah mapan dan kokoh dalam belantara dunia usaha, dimana orang sering banyak menyebut ‘dunianya banyak akal’. On-line vs offline semakin ‘membooming’. Differensiasi usaha ibarat sel-sel hidup yang terus menyebar. ‘virus’ energi kreativitas semakin terus mewabah. Dan terakhir, tingkat partisipasi ikut serta dalam memajukan dan memperhatikan tingkat kesejahteraan sosial, pendidikan, dan ekonomi semakin terus meningkat. Menurut beberapa penelitian terakhir, Indonesia termasuk negara cukup terbesar dalam menggunakan teknologi internet jejaring sosial. Bayangkan saja, mereka-mereka yang dianggap sudah ‘menghilang’ dalam kehidupan terdekat dulu, dengan on-nya teknologi internet, yang dulu hanya terbatas bagi kaum intelejen dan militer, mereka-mereka yang banyak memberikan kontribusi dan dianggap berjasa dalam kehidupan dulu, dipersatukan kembali hanya dengan sebuah perangkat sederhana computer ataupun sebuah handphone. Ini memang sungguh menakjubkan bagi kalangan-kalangan tertentu.

          Literature? Anak-anak kini, kiranya sudah mafhum dan sangat faham sekali. Selain karena bobot kurikulum semakin bernilai dan terus bermetamorfosis, kebebasan dan kemampuan anak-anak untuk mengakses teknologi online dan offline semakin terus terbuka lebar. Kamus-kamus bahasa populer, kode-kode rahasia, ‘bahasa gaul’, kiranya sudah bukan merupakan barang yang aneh untuk mereka baca. Namun memang masih tetap optimis bahwa kemajuan teknologi memang harus terus diiringi dengan kualitas mental berbagai strata sosial maupun tingkatan usia sehingga harmonisasi berbagai komponen terus terjaga. Individualism, egoism, kemiskinan, dan kebodohan, memang bukan barang baru. Mereka bisa saja selalu hinggap pada siapapun dan apapun. Bahkan mungkin terkadang mereka semua ada baiknya untuk hal-hal tertentu.  Maybe just cinema oriented. Namun pada umumnya siapapun sepakat bahwa kebersamaan dan kekayaan lahir batin merupakan sesuatu yang sangat penting. Kaum peneliti ‘kontemporer’ menyebutkan bahwa ayat-ayat dengan tema sosial, ternyata, jumlahnya, lebih banyak sekali diketemukan. [af, dbs]