Salah satu anugerah terbesar lagi dalam kehidupan ini, selain kesehatan, harta dan tahta, tentu saja adalah anugerah waktu. Konon dulu ada paradigm, dimana sebagian orang masih mengejar waktu, sebagian yang lainnya sudah memiliki waktu. Ini memang terbalik. Dan waktu bagi orang-orang timur sana, menurut ahli sejarah, dianggap sebagai penjelmaan Tuhan. Seandainya tak salah, menurut professor Mansyur, Al-waktu Addahrun. Waktu ibarat Tuhan. Sebab dengan waktu segenap aktivitas akan lebih bermakna, terukur, dan tentu saja fleksibel disesuaikan dengan tradisi setempat. Bagi orang-orang barat sana ada ungkapan time is money. Waktu adalah uang. Bagi tradisi semisal Jepang, ketepatan waktu adalah sebuah hal yang sangat penting. Lain halnya bagi orang-orang eropa semisal AS, datang lebih awal sebelum waktunya tiba adalah juga hal yang sangat penting. Namun lagi-lagi, waktu adalah hal yang masih dianggap misteri dan sesuatu yang dapat dikompromikan.
Mengatur waktu itu memang penting. Management
waktu bagi sebagian orang tentu saja sangat mempengaruhi kualitas, kuantitas,
dan produktifitas kerja. Covey, seorang manager dan leadership perusahaan
ternama, dalam the seven habit human
efective, menggangap bahwa dalam kehidupan sehari-hari manusia sebenarnya
dihadapkan pada sesuatu yang sangat penting, penting, dan tidak penting. Kebanyakan
orang-orang sukses adalah orang yang dapat meminimalisasi hal yang tidak penting
dan banyak berfokus pada yang sangat penting dan penting. Bekerja, belajar, memperbanyak
relasi, mengevaluasi aktivitas, menabung adalah hal yang sangat penting. Berfoya-foya,
boros, berkomunikasi diluar agenda dan aktivitas adalah hal-hal yang sangat tidak
penting dan tentu saja sangat merugikan. Orang-orang sukses seringkali
memperluas zona aktivitas sangat penting dan terus-menerus tidak segan-segan
belajar dari setiap kesalahan-kesalahannya.
Akhirnya siapapun sependapat bahwa
selain cerdik mengatur waktu, hal penting lainnya adalah bagaimana mempertahankan
daya kreativitas, fleksibelitas, kontinuitas diimbangi dengan sikap kebersamaan
untuk saling memahami satu sama lainnya. Dan ini memang tidak terlepas dari usaha
terus-menerus untuk menciptakan lingkungan yang kondusif nyaman, motivasi dan
pengawasan dari berbagai komponen. Dalam trias
politica, ini sering disebut eksekutif, legislatif, dan yudikatif. [af,
dbs]