Dalam kehidupan sehari-hari,
sudah barang tentu, siapapun, bukan saja anak-anak semata, orang tua pun selalu
dihadapkan pada berbagai macam kesulitan. Mulai dari hendak tidur hingga bangun
kembali, kesulitan biasanya tak henti-hentinya terus menghampiri. Jikalau tidak
diatasi, kesulitan biasanya tak segan-segan berubah menjadi sebuah bumerang yang
sangat menakutkan.
Depresi, stress,
tekanan jiwa, struk, hingga lemah syahwat, menurut psikiater Prof.dr. Dadang
Hawari, Psi., adalah beberapa penyakit yang sudah umum dan menjadi sebuah
fenomena abad modern industri dan informasi kini. Lebih jauh, mereka yang sudah
berkeluarga biasanya terjebak dalam hal
keuangan, membangun hubungan harmonis antara suami istri terutama pembagian
tugas dan pengambilan kebijakan, hingga dinamika pendidikan anak sebagai buah
hati yang kelak akan menjadi penerus dan kebanggaan orang tua. Sedangkan bagi
mereka yang belum berkeluarga, biasanya mereka bingung dalam memilih lingkungan
yang nyaman, memilih jalur pendidikan, memilih pekerjaan, hingga memilih calon
pendamping hidupnya.
Mengapa
harus berteman dengan kesulitan? Kesulitan itu ibarat udara. Ia terkadang tidak
nampak namun sangat terasa. Semakin berusaha lari dari kesulitan, ia akan
semakin terasa. Kesulitan harus terus dihadapi dengan ketenangan dan tentunya
dengan sebuah kecerdasan. Sebab, dibalik kesulitan selalu ada kemudahan (alam nasyroh:3). Berikut beberapa kesulitan
yang terkadang sering diketemukan dalam kehidupan sehari-hari:- Memilih Lingkungan. Pilihlah lingkungan yang benar-benar nyaman. Lingkungan yang nyaman setidak-tidaknya tersedia fentilasi udara, ada penghijauan semisal tanam-tanaman, ada perlengkapan hiburan semisal radio, televisi, peralatan musik, ruang istirahat, nutrisi cukup, dan tak kalah pentingnya adalah tersedianya bahan pustaka untuk memperluas wawasan terutama wawasan tentang lingkungan.
- Keuangan. Aturlah keuangan secerdas mungkin. Berlakulah hemat, belanja sesuai kebutuhan, dan sisihkanlah uang untuk masa depan.
- Mengambil Keputusan. Kompromikan, musyawarahkan, dan ambil keputusan atau kebijakan dengan lapang dada. Hanya dengan keadaan yang tenang, seberat apapun kesulitan akan selalu ada jalan keluarnya.
- Mendidik Anak. Anak adalah sebuah amanah. Baik-buruknya masa depan anak bergantung pada kasih sayang dan perhatian orang tua, saudara, hingga lingkungan sekitar yang membentuknya. Ada pepatah kuno, mendidik anak sedini mungkin seperti mengukir di sebuah batu dan akan selalu membekas. Sedangkan mendidik anak yang sudah menjadi dewasa atau sudah tua, ibarat mengukir sesuatu di sebuah air dan tidak akan ada bekasnya.
- Antara Pendidikan dan Pekerjaan. Kecerdasan seseorang termasuk pekerjaan itu memang berbeda-beda. Keahlian, kecerdasan, kelenturan, disinyalir karena ada dorongan, kemauan, kemampuan, dan usaha terus menerus tanpa kenal menyerah. Dan sebaik-baiknya kecerdasan adalah sebuah kecerdasan yang tidak saja bermanfaat bagi dirinya sendiri namun bermanfaat bagi khalayak umum. Baginda rosul selalu mengingatkan bahwa sebaik-baiknya pekerjaan adalah pekerjaan yang dilakukan dengan tangannya sendiri.
- Prakeluarga dan Pascakeluarga. Dunia memang sangat luas. Penduduk dunia menurut beberapa penelitian sudah hampir milyaran lebih. Bahkan untuk beberapa tahun kemudian beberapa ahli memprediksi bahwa penduduk dunia akan terus bertambah. Populasi feminism hingga kini jauh melebihi populasi maskulinism. Bagi negara seperti China, dengan mengambil kebijakan untuk memiliki anak hanya satu, ternyata menyebabkan populasi perempuan lebih banyak dibandingkan dengan populasi pria. Hal ini juga menyebabkan kemudian, pada usia yang sudah waktunya untuk berkeluarga, mereka sangat sulit untuk memilih pasangan hidupnya. Selain karena alasan lainnya lebih memilih karir, mereka terjebak dalam dunia single parent, sebagai sebuah dampak dari konsekwensi modernisasi (hawari:1999). Di belahan timur lainnya justru populasi perceraian selalu menunjukkan angka yang tidak stagnan hampir tidak jauh berbeda dengan kuat dan langgengnya sebuah ikatan keluarga. Ini artinya bahwa menjaga harmonisasi prakeluarga dan pascakeluarga adalah sesuatu yang mahal. Baginda rosul sering mengingatkan bahwa harta, tahta dan estetika merupakan hal yang baik dalam membentuk sebuah bangunan keluarga. Dan kekuatan religiusitas, ternyata jauh lebih utama dari hal-hal sebelumnya. [AF, dari berbagai sumber]