Menurut beberapa penelitian ternyata garis tangan seseorang itu berbeda-beda. Ada yang menterjemahkan kemudian, watak, nasib, kecerdasan, kepopuleran, kesuksesan, hingga jalur kehidupan, bisa dibaca secara sederhana melalui garis tangan yang berbeda-beda tersebut. Terlepas dari berbagai persepsi pro dan kontra, hal unik lainnya ternyata bentuk biologis lainnya dari milyaran penghuni planet ini, ternyata tak satu pun yang serupa selain hanya beberapa saja yang dapat dihitung jari. Selain faktor genetitas kembarisasi, hal terakhir, kloningisasi, kemutakhiran bioteknologi yang mampu memproduksi mahluk hidup termasuk manusia hingga serupa benar dengan yang aslinya, sempat menjadi buah bibir pada era tahun 1998-an.
Berbeda
dengan sebuah nama, yang konon diyakini sebagai sebuah identitas hingga sebuah
do’a, nama, meskipun belum ada yang meneliti secara baik berapa banyak yang
sama hingga yang berbeda, nama memang
bukan hanya sebuah wacana hingga menjadi sebuah
fenomena, namun kekayaan nama bisa saja menjadi sebuah simbol persaudaraan
sebagai sebuah watak kemanusiaan bahwa persaudaraan adalah hal yang sangat
teramat penting. Manusia tercipta bersuku-suku bangsa yang berbeda-beda bukan
saja untuk saling mengenal, namun yang lebih baik diantara mereka adalah mereka
yang senantiasa menyadari dirinya sendiri dan senantiasa bersikap unggul.
Berlomba-lomba
dalam hal kebaikan tentu saja fenomena yang tak pernah selesai-selesai. Selain
karena kemampuan akal manusia beraneka tingkat dan terbatas, fenomena alam yang
misterius, hal lainnya yang cukup ‘menggembirakan’, siapapun tidak pernah tahu
secara benar apa yang akan terjadi waktu-waktu mendatang. Yang tahu bahwa siapapun diberi kesempatan
untuk selalu berusaha lebih baik dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia agar dipergunakan
sebaik-baiknya agar hidup tak stagnan, menjemukan, namun nyaman dan tentram.
[af, dbs]