Manusia
adalah mahluk yang bisa berkecenderungan menjadi apapun dan siapapun.
Setidak-tidaknya demikian menurut Bang MH. Dengan berdasar pada kemampuan, kemauan
beserta konsekwensinya, takdir kemanusiaan tentu saja bermula dan berakhir pada
emperisme religiusitas yang dialami mahluk yang bernama manusia itu sendiri.
Untuk beranalogi pada terbit dan terbenamnya matahari beserta akibat-akibat
yang ditimbulkannya, tentu saja sebuah perumpamaan yang tak terlalu jauh.
Manusia dan matahari ibarat sebuah kembaran luar biasa sebagai mahluk ciptaan Tuhan.
Merenungkan
tentang Tuhan tentu saja sebuah kebijaksanaan. Merenungkan tentang
mahluk-mahluk ciptaan Tuhan pun adalah sebuah kebijaksaan luar biasa. Berlaku
bijak yang berdasarkan pada nilai-nilai dasar kepercayaan tentu saja sebuah PR
besar yang mewujud kemudian tak sekadar bersifat instan, tidak seperti seorang
pesulap atau seorang Coverfield sekalipun, namun semua memang mesti sistemik serta
dinamis saling menguatkan satu sama lainnya.
Menciptakan
berbagai gagasan namun bermanfaat luar biasa bagi khlayak banyak tentu saja tak
seperti membalikkan telapak tangan. Namun itu semua memang membutuhkan
kesabaran dan kesadaran yang intensif terus-menerus. (af)