Statistik Blog

Sabtu, 29 Juni 2013

Mengukur Kebahagiaan



Bahagia sering dihubungkan dengan sebuah kesuksesan. Dan kesuksesan pun sering bermacam-macam bentuknya. Dulu, sebelum abad 20-an, memiliki gelar, memiliki komputer, atau ‘jala’ pada masa kini merupakan sebuah kesuksesan luar biasa, sebab dengan bekal gelar, bekal komputer, bekal ‘jala’ tersebut barang-barang yang dirasa dibutuhkan oleh kebutuhan sehari-hari, relative dapat mudah didapatkan hanya karena diiringi juga kemauan untuk berusaha dan tak kenal lelah untuk mempelajari kembali perjalanan untuk berusaha sebaik-baiknya.

Bahagia, sebagai sebuah titik awal atau titik akhir sebuah perjalanan, memang tak mudah diukur. Selain karena urusan hati yang selalu cenderung berubah-ubah tak tetap, seperti halnya teori materialistik yang fana tak kekal, bahwa kenyataan sesungguhnya tak ada yang tetap yang tetap adalah perubahan itu sendiri. Lepas dari kebingungan yang terus menerus berkepanjangan sepertinya halnya merenungkan dan memperdebatkan awal mana telur atau ayam yang hadir di alam ini, tingkat kebahagiaan memang secara sederhana bisa saja dijelaskan berdasarkan teori emperisme atau pengalaman religiusitas masing-masing. 

Bang Jalal, seorang pakar komunikasi dan seorang cendekiawan ternama pernah mengingatkan. Nilai-nilai dan kondisi kebahagiaan sebenarnya dapat dipengaruhi oleh iklim dan metode pengendalian diri. Seperti halnya takdir sebagai sebuah ketetapan mutlak,  dan hujan sebagai sebuah takdir, tentu saja efek atau akibat turun hujan yang sering disebut nasib itu bisa saja dikendalikan. Efek hujan bisa saja berubah menjadi banjir yang memporak-porandakan suasana emosi kejiwaan seseorang, atau hujan bisa menjadi seorang sahabat yang menyenangkan karena lalu lintas air bermuara pada tempat yang semestinya sebagai sebab pemeliharaan dan pengawasan lingkungan yang tertata sebaik-baiknya. Perumpamaan ini sebenarnya bisa saja diperkuat oleh pengembaraan akademis cendekiawan Aulia Rahim, bahwa alangkah bijaksananya siapapun untuk tidak terlalu banyak merenungkan tentang dunia internal (dalam) atau Individual environment namun perhatikanlah juga tentang dunia eksternal (luar) atau social environment karena dunia luar sungguh sangat besar juga mempengaruhi konstruksi suasana kejiwaan keadaan sekeliling atau keadaan lingkungan setempat.   

Kemampuan mengendalikan diri seseorang memang berbeda-beda. Seperti halnya bercermin pada the education world bahwa tak ada apapun yang sempurna dalam penyusunan sebuah metode pembelajaran, namun perbedaan ini disinyalir sebagai sebuah bekal untuk tetap terus berkreasi pada wilayah apapun. Perbedaan pengendalian diri, selain karena factor genetitas, latar belakang pendidikan, dan latar belakang tingkat pematangan dalam bersosialisasi, serta konsisten terhadap nilai-nilai yang diyakini, kualitas pengendalian diri yang sering juga menyentuh wilayah angka-angka, ternyata secara sederhana menurut kang Jalal, semua bermula pada besar kecilnya keinginan. Semakin besar keinginan, maka semakin besar pula hal-hal yang harus dipersiapkan termasuk aspek kejiwaan. Itulah kenapa dalam the economic world, sebuah keputusan apapun yang berdasarkan pada aspek kebutuhan terhadap sesuatu barang, alangkah lebih baik daripada berdasarkan pada aspek keinginan semata. Karena aspek kebutuhan berdasarkan pada akal sehat, pertimbangan yang matang, mendalam serta dirasa benar-benar perlu, sedangkan aspek keinginan berdasarkan pada emosional semata tanpa perhitungan dan pertimbangan yang kurang bijaksana, kurang mendalam dan kurang matang.   

Misteriusitas, memang bukan saja melanda pada hadirnya semesta ini. Misteriusitas, sebagai sebuah perjalanan peradaban yang melewati ranah tradisionalisme dan ranah modernitas yang kental dengan aspek mitos dan rasionalitas, misteriusitas memang juga melanda hal-hal kecil termasuk tentang kebahagiaan itu sendiri. Dan ini memang bukan hal yang aneh dan hal yang luar biasa, namun sudah menjadi, bahkan dikenal, sebagai sebuah hal yang bersifat umum. [af]