Bahagia
sering dihubungkan dengan sebuah kesuksesan. Dan kesuksesan pun sering bermacam-macam
bentuknya. Dulu, sebelum abad 20-an, memiliki gelar, memiliki komputer, atau ‘jala’
pada masa kini merupakan sebuah kesuksesan luar biasa, sebab dengan bekal
gelar, bekal komputer, bekal ‘jala’ tersebut barang-barang yang dirasa
dibutuhkan oleh kebutuhan sehari-hari, relative dapat mudah didapatkan hanya
karena diiringi juga kemauan untuk berusaha dan tak kenal lelah untuk mempelajari
kembali perjalanan untuk berusaha sebaik-baiknya.
Bahagia,
sebagai sebuah titik awal atau titik akhir sebuah perjalanan, memang tak mudah
diukur. Selain karena urusan hati yang selalu cenderung berubah-ubah tak tetap,
seperti halnya teori materialistik yang fana tak kekal, bahwa kenyataan sesungguhnya
tak ada yang tetap yang tetap adalah perubahan itu sendiri. Lepas dari
kebingungan yang terus menerus berkepanjangan sepertinya halnya merenungkan dan
memperdebatkan awal mana telur atau ayam yang hadir di alam ini, tingkat kebahagiaan
memang secara sederhana bisa saja dijelaskan berdasarkan teori emperisme atau
pengalaman religiusitas masing-masing.
Bang Jalal, seorang pakar komunikasi dan seorang cendekiawan ternama pernah
mengingatkan. Nilai-nilai dan kondisi kebahagiaan sebenarnya dapat dipengaruhi
oleh iklim dan metode pengendalian diri. Seperti halnya takdir sebagai sebuah
ketetapan mutlak, dan hujan sebagai sebuah
takdir, tentu saja efek atau akibat turun hujan yang sering disebut nasib itu bisa
saja dikendalikan. Efek hujan bisa saja berubah menjadi banjir yang
memporak-porandakan suasana emosi kejiwaan seseorang, atau hujan bisa menjadi seorang
sahabat yang menyenangkan karena lalu lintas air bermuara pada tempat yang
semestinya sebagai sebab pemeliharaan dan pengawasan lingkungan yang tertata
sebaik-baiknya. Perumpamaan ini sebenarnya bisa saja diperkuat oleh
pengembaraan akademis cendekiawan Aulia Rahim, bahwa alangkah bijaksananya siapapun
untuk tidak terlalu banyak merenungkan tentang dunia internal (dalam) atau Individual environment namun
perhatikanlah juga tentang dunia eksternal (luar) atau social environment karena dunia luar sungguh sangat besar juga mempengaruhi
konstruksi suasana kejiwaan keadaan sekeliling atau keadaan lingkungan setempat.
Kemampuan mengendalikan diri seseorang memang
berbeda-beda. Seperti halnya bercermin pada the
education world bahwa tak ada apapun yang sempurna dalam penyusunan sebuah metode
pembelajaran, namun perbedaan ini disinyalir sebagai sebuah bekal untuk tetap
terus berkreasi pada wilayah apapun. Perbedaan pengendalian diri, selain karena
factor genetitas, latar belakang pendidikan, dan latar belakang tingkat
pematangan dalam bersosialisasi, serta konsisten terhadap nilai-nilai yang
diyakini, kualitas pengendalian diri yang sering juga menyentuh wilayah
angka-angka, ternyata secara sederhana menurut kang Jalal, semua bermula pada
besar kecilnya keinginan. Semakin besar keinginan, maka semakin besar pula hal-hal
yang harus dipersiapkan termasuk aspek kejiwaan. Itulah kenapa dalam the economic world, sebuah keputusan apapun
yang berdasarkan pada aspek kebutuhan terhadap sesuatu barang, alangkah lebih
baik daripada berdasarkan pada aspek keinginan semata. Karena aspek kebutuhan
berdasarkan pada akal sehat, pertimbangan yang matang, mendalam serta dirasa
benar-benar perlu, sedangkan aspek keinginan berdasarkan pada emosional semata
tanpa perhitungan dan pertimbangan yang kurang bijaksana, kurang mendalam dan kurang
matang.
Misteriusitas, memang bukan saja melanda pada hadirnya semesta
ini. Misteriusitas, sebagai sebuah perjalanan peradaban yang melewati ranah
tradisionalisme dan ranah modernitas yang kental dengan aspek mitos dan
rasionalitas, misteriusitas memang juga melanda hal-hal kecil termasuk tentang
kebahagiaan itu sendiri. Dan ini memang bukan hal yang aneh dan hal yang luar
biasa, namun sudah menjadi, bahkan dikenal, sebagai sebuah hal yang bersifat umum.
[af]