Statistik Blog

Selasa, 04 Juni 2013

Metamorfosis


Darwin, tentu saja dengan teori evolusinya, tak sekadar melempar gagasan begitu saja. Seperti halnya bola es yang terus menggelinding dan terus membesar pada masanya,  Darwin sebenarnya sedang berdialog dan mendialogkan tentang sesuatu yang sungguh dapat dipahami oleh berbagai kalangan tertentu meski sedikit memang harus melewati sistim akademika tertentu seperti halnya menyusun sebuah puzzle. Meskipun Darwin terbilang jenius dan jauh dari nasib Beethoven yang berakhir tuli, missing link teori Darwin yang mesti tak lengkap itu, sudah cukup menenangkan bahwa dunia humanisme memang berakar dari sesuatu yang bersumber dan dari sesuatu yang pasti. Plato menyebutnya ini sebagai sebuah kebahagiaan yang tak terhingga bahwa pengembaraan menyelami akal dan hati adalah sesuatu yang menyenangkan apalagi menghubungkannya dengan realita kekinian yang tak terlalu sulit untuk diterjemahkan.

Kehidupan memang bertingkat-tingkat. Seperti halnya sebuah tangga nada, hidup memang harus terus menerus dihadapi sesuai dengan tingkatannya masing-masing, sesuai dengan identitasnya masing-masing, dan sesuai dengan apa yang mampu untuk dihadapi. Untuk melompat hingga ke tingkat yang lebih tinggi, memang membutuhkan tenaga yang luar biasa. Untuk berjalan perlahan hingga ke tingkat yang lebih tinggi, pun memang membutuhkan tenaga dan kesabaran yang luar biasa. Bahasa bijak dulu bilang, to be being is there are influence, is not to be is there are influence. Jadi, sesuatu yang terlihat dan tak terlihat memang menjadi sesuatu gagasan yang tentu saja tak dapat disejajarkan dengan cinema klasik ataupun cinema masa kini.

Jelasnya, the universal language, mengutip bang gynanjar bilang, bahwa semua orang memang sama mengalami perubahan iklim dan bahasa dunia yang intens terus bermetamorfosis sesuai dengan keadaannya masing-masing. Dan not a secret and generally bahwa di setiap ruang dan di setiap waktu memang sejak dulu hingga kini apapun dan siapapun selalu terus menerus membuka ruang seluas-luasnya untuk berusaha memahami apapun yang layak untuk dipahami. Becermin pada Columbus, yang tentu saja tak sezaman dengan Darwin,  setelah mengarungi lautan yang maha luas, Columbus pada akhirnya menyimpulkan bahwa ternyata dunia memang seperti bola.***