Kehidupan
memang bertingkat-tingkat. Seperti halnya sebuah tangga nada, hidup memang
harus terus menerus dihadapi sesuai dengan tingkatannya masing-masing, sesuai
dengan identitasnya masing-masing, dan sesuai dengan apa yang mampu untuk dihadapi.
Untuk melompat hingga ke tingkat yang lebih tinggi, memang membutuhkan tenaga
yang luar biasa. Untuk berjalan perlahan hingga ke tingkat yang lebih tinggi,
pun memang membutuhkan tenaga dan kesabaran yang luar biasa. Bahasa bijak dulu
bilang, to be being is there are
influence, is not to be is there are
influence. Jadi, sesuatu yang terlihat dan tak terlihat memang menjadi
sesuatu gagasan yang tentu saja tak dapat disejajarkan dengan cinema klasik
ataupun cinema masa kini.
Jelasnya, the universal language, mengutip bang gynanjar bilang, bahwa semua orang memang sama mengalami perubahan iklim dan bahasa dunia yang intens terus bermetamorfosis sesuai dengan keadaannya masing-masing. Dan not a secret and generally bahwa di setiap ruang dan di setiap waktu memang sejak dulu hingga kini apapun dan siapapun selalu terus menerus membuka ruang seluas-luasnya untuk berusaha memahami apapun yang layak untuk dipahami. Becermin pada Columbus, yang tentu saja tak sezaman dengan Darwin, setelah mengarungi lautan yang maha luas, Columbus pada akhirnya menyimpulkan bahwa ternyata dunia memang seperti bola.***