Statistik Blog

Jumat, 12 April 2013

Nyanyian Laut

Tidak ada yang menakjubkan malam itu. Malam, ataupun siang, rupanya tak ada bedanya. Hanya angin malam saja yang sedikit lebih mencubit menggetarkan seluruh badan ini. Di sampingnya adalah sekumpulan para penjual dengan kereta dorongnya terparkir di sisi-sisi lautan. Mereka asyik menikmati sajian menu makanan malam, sementara di setiap penghujung tempat itu hanya terhiasi lampu-lampu belasan watt.
 
Melihat ke depan, deru ombak lautan itu sungguh membuyarkan seluruh kelincahan warna-warni keinginan dan hasrat di kepala ini. Dan mercon berukuran kecil itu, jika disulut, melesatlah ke atas seakan-akan mencari sejumlah bintang-bintang yang bersembunyi jauh dan hanya berkedip sinarnya seakan malam memang bukan pagi dimana sun set memang memiliki waktunya masing-masing untuk tampil menyapa.

Anak-anak, malam biasanya sedang tidur. Namun anak yang satu ini saya kira bukan anak-anak. Meskipun tubuhnya saat itu terbilang kecil, namun imajinasi untuk bersahabat dengan malam sungguh tidak kecil. Bercengkrama dengan orang-orang terbilang dewasa, hampir dipastikan siapapun bisa melakukannya. Duduk menghadap ke sebuah lautan yang hanya terdengar deru ombaknya, mungkin dan hampir dipastikan siapapun bisa melakukannya. Berjalan-berjalan melewati jalan setapak dihiasi bebatuan malam, hampir dipastikan siapapun bisa melakukannya. Untuk menengadahkan wajahnya ke atas, ke setiap penjuru, hingga memastikan kakinya memakai sebuah sepatu sandal, nah ini belum tentu siapapun bisa melakukannya. Untuk mencari berbagai alasannya, tentu saja ini memang membutuhkan waktu. 

Layar tancap yang menghadirkan berbagai cinema lokal maupun non lokal malam itu, tidak ada. Sebab di pinggir lautan, memang bukan tempatnya untuk ditampilkan berbagai produksi terkini maupun produksi dahulu. Kalaupun ada, memang itu semua harus melewati prosedur seperti biasanya. 

Nada-nada yang merambat hingga ke setiap bawah sadar saraf itu, memang tidak ada jalan lain selain mengapresiasi kembali nada-nada itu hingga terbentuk komposisi yang nyaman, dinamis, dan tentunya siapapun tak perlu ragu-ragu lagi untuk mengambil berbagai bentuk pilihan yang tersedia di setiap ruang kesadaran, dimanapun, dan kapanpun. Jalan-jalan di planet, rasanya belum waktunya. Selain baju berukuran usia belasan tahun itu sudah waktunya dipakai seusianya, rasanya memandang sebentar hasil karya wright bersaudara itu, sepertinya sudah cukup untuk melepaskan rindu hasrat yang terpendam sejak lama itu.   

Pada akhirnya, sadar tak sadar, mereka pun menjadi dewasa. Bagi mereka, permasalahan, seperti halnya goresan pasir yang kemudian terhempas ombak di lautan lepas.  Tak ada bekas, tak ada beban. Tidak seperti saat masa kanak-kanak dahulu, berlarian mengejar sesuatu yang tak ada batasnya, memang pemandangan yang cukup berkesan. Tidak ada sedikit pun kebingungan. Satu hal yang paling penting, menyantap makanan di bawah sebuah pepohonan rindang, sambil berkelakar, memang sebuah pola diskusi yang cukup menawan. 

Beberapa tahun kemudian hujan pun turun teramat deras. Sungguh tak ada bedanya antara suara ombak dengan suara petir yang muncul di timur sana. Ini bukan mengingatkan tentang sebuah suara speaker yang bersuara karena anak-anak nakal sedang memijit tombol komputer khusus anak-anak dewasa, bukan tentang seorang anak muda yang sangat sulit merenda kata-kata pujangga yang cukup menerangi terang benderang bentuk alam sekitar, juga bukan tentang berapa sebenarnya jumlah mahluk yang ada di alam semesta ini. Teori tentang keserbabetulan memang selalu menampakkan teori tentang daun-daun berjatuhan.  Dan itu, beberapa tahun silam. (AF)