Dahan-dahan
yang dikelikitiki angin, adalah lembayung sutra
yang menebar
hingga menyentuh sukma.
Namun waktu,
adalah perputaran tak berbatas hingga tak ada lagi
kata selain
ambigu, bersembunyi, meniru burung, atau meniru
alam semesta
hanya dengan memejamkan mata.
Dan ketulusan
tentu saja melampaui keramahan dan keramaian
untuk memperkenankan
hujan yang sebentar-sebentar
bersenda
gurau dengan petir untuk mencumbu bumi.
Semua menukik,
memercik, menyadar, mendatar, dan
menggelitiki
dahan-dahan. (AF)