Statistik Blog

Senin, 01 April 2013

Kontemporer


Dunia kontemporer, sebagai sebuah fenomena, memang sudah tidak popular lagi. Ibarat  sebuah literature yang mampir di setiap ruang-ruang public maupun ruang tertentu, dunia kontemporer ternyata bukan hanya saja sebuah referensi saja namun justru menjadi sebuah energy untuk terus tetap eksis menemukan hal-hal yang lebih bermanfaat lagi. 

Amstrong, Darwin, Thomas, Wright, Einstein, sebenarnya sebuah fenomena, dan pribadi-pribadi biasa saja. Tidak ada keajaiban pada mereka. Hanya saja mungkin entah waktu, faktor genesitas, atau logika-logika keteraturan dan sistim alamlah pada akhirnya keseluruhan dunia menempatkan mereka sebagai pribadi-pribadi unggul penuh apresiasi dan dedikasi. Melewati atmosfir bumi, memang membutuhkan keberanian luar biasa. Mempersepsikan tentang bioteknologi humanism, memang bukan main rumitnya. Menerangi rumah-rumah, gedung-gedung hingga pelosok dusun dengan lampu listrik, memang tidak bisa dibayangkan proses produktivitasnya. Terbang menggunakan pesawat terbang karena terinspirasi oleh perilaku binatang capung, semua orang pasti tak pernah terpikirkan. Hal-hal semacam itu sebenarnya siapapun bisa memilih sikap apapun tentang keberadaannya. Good pointnya, kehebatan teknologi informasi sebenarnya media yang cukup berpengaruh besar dalam hal ini. Tidak bisa dibayangkan seandainya bagaimana alam mikrokosmos dan makrokosmos ini tanpa tulisan maupun suara. Padahal menurut Freud, bapaknya psikonalistik itu, terbentuknya suara hati itu sebenarnya karena adanya peranan suara, bentuk, dan warna-warni dalam alam semesta ini. Meskipun pada akhirnya Freud harus mengenal lebih jauh tentang disiplin ilmu kejiwaan, teori-teorinya cukup berpengaruh besar pada dunia akademik. 

Di penghujung dunia lainnya sebenarnya teramat banyak kekuatan untuk membangun tata kehidupan dimana semua orang tidaklah terlalu perlu untuk mengetahuinya secara lebih detail. Sebab dunia informasi sudah semakin terbuka lebar, pola komunikasi semakin maksimal, dan sumber daya materi immaterial sudah semakin terukur dan tidak perlu lagi banyak untuk didiskusikan. Dan lagi-lagi memang tentang dinamisasi konfigurasi dan persepsi tentang realitas apapun, memang sebuah kekayaan yang secara perlahan-lahan harus dibarengi dengan kekuatan sistim dan individu yang sehat dan kuat. Tentu saja ini PR besar. Sebab bagi mereka yang sadar akan kondusifitas logika sistim beserta penghargaan-penghargaannya itu, ini adalah sebuah proyek kemanusiaan yang cukup luar biasa tentunya. Dan lagi-lagi, logika dan formasi catur, memang kaya dengan kata bersayap, kaya tanda kutip, dan luas dengan makna-makna. Selain time, power, dan price, sesuatu apapun itu memang selalu menebarkan suasana inklusifitas dan eksklusifitas. (AF)