Statistik Blog

Rabu, 27 Maret 2013

Always to Thanks


Berterima kasih memang banyak caranya. Namun pada hematnya, merujuk kaum spiritual dulu, cara berterima kasih itu cukup hanya melalui verbal language (bahasa lisan) maupun body language (bahasa tubuh). Konon pendekatan ini lebih bernilai dan bermanfaat banyak. Selain menyentuh ruang kesadaran love lifing atau kehidupan asmara, pendekatan ini sering bermuara pada kehidupan yang lebih bermakna dan inspirate to motivation tentunya. Inilah mungkin apa yang ingin dikatakan musisi klasik Ludwig van Beethoven, bahwa dunia estetika (seni) pada hakekatnya adalah sebuah jalan untuk membuka ruang antara dunia spiritual dan dunia sensualitas.  
 
Selanjutnya tentu saja tak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan kaum gender filosofis bahwa tanda-tanda alam makro (alam semesta) dan alam mikro (alam humanism) sungguh seperti halnya dua mata uang yang tak berjauhan. Semua terletak pada paradigm cara berpikir, bahwa ibarat sebuah langit dan bumi (alam makro), pun akal dan hati dunia humanism sering diterjemahan sebagai alam mikro diyakini sebagai sebuah cerminan yang selalu membuka ruang untuk no absolutism to think all.  Bahwa alam semesta beserta isinya dan alam humanism adalah dua instrument berharga untuk selalu diapresiasi kembali sebagai wujud berterima kasih yang tak berkesudahan. Maka tak mengherankan, dalam tingkatan tertentu atau maqamat, sering ada ungkapan ‘nyeleneh’ seperti: padaNya, dan aku katakan:, “Hai aku.”

Dunia humanism memang dunia yang tak pernah habis-habisnya untuk dibahas. Tidak seperti sebuah robot, dunia humanism adalah dunia itu sendiri. Bersifat kontemporer, dinamis progressif, dan tentu saja tradisional modern sebagai sebuah historis paradigm untuk selalu meredefinisikan ulang dan selalu tetap bersiaga menyambut ‘dunia baru’ seperti apa yang ingin dilukiskan para pembuka pintu-pintu science and technology. Kehidupan serba simple, rileks, mudah, terjangkau, dan tentunya mengasyikkan dan bernilai. (af).