Selanjutnya
tentu saja tak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan kaum gender filosofis
bahwa tanda-tanda alam makro (alam semesta) dan alam mikro (alam humanism)
sungguh seperti halnya dua mata uang yang tak berjauhan. Semua terletak pada
paradigm cara berpikir, bahwa ibarat sebuah langit dan bumi (alam makro), pun akal
dan hati dunia humanism sering diterjemahan sebagai alam mikro diyakini sebagai
sebuah cerminan yang selalu membuka ruang untuk no absolutism to think all. Bahwa
alam semesta beserta isinya dan alam humanism adalah dua instrument berharga untuk
selalu diapresiasi kembali sebagai wujud berterima kasih yang tak berkesudahan.
Maka tak mengherankan, dalam tingkatan tertentu atau maqamat, sering ada ungkapan ‘nyeleneh’ seperti: padaNya, dan aku katakan:, “Hai aku.”
Dunia
humanism memang dunia yang tak pernah habis-habisnya untuk dibahas. Tidak seperti
sebuah robot, dunia humanism adalah dunia itu sendiri. Bersifat kontemporer, dinamis
progressif, dan tentu saja tradisional modern sebagai sebuah historis paradigm
untuk selalu meredefinisikan ulang dan selalu tetap bersiaga menyambut ‘dunia
baru’ seperti apa yang ingin dilukiskan para pembuka pintu-pintu science and
technology. Kehidupan serba simple, rileks, mudah, terjangkau, dan tentunya
mengasyikkan dan bernilai. (af).