Suze Orman, meskipun berpotensi menjadi penulis film Jurrasic Park, salah satu asuhan sutradara Spielberg, dimana pernah menggemparkan industri per-filman Hollywood kurun waktu 2000-an, agak sedikit mengagetkan, sembari terus mengisi ruang-ruang yang selalu terasa ‘kosong’ di industri perfilman pribumi, tentu saja tak sekadar meniru dunia historika yang dibalut sejumlah persepsi sana-sini. Namun
Suze, adalah sosok penulis kontemporer ternama yang selalu merenda paradigm kebijakan fiskal seraya sedikit mencubit manja dunianya spiritual. Tentu saja ini seperti suasana gerah mendera yang tiba-tiba muncul hujan teramat deras namun nyaman, meskipun tak selalu diiringi suara halilintar.
Menurut tradisi kuno dulu, sebenarnya belum pernah ada kabar, bahwa Suze
memiliki keajaiban pada tangannya. Garis-garis tangan pada telapak tangan pada
umumnya setiap individu hampir dipastikan memiliki kemiripan meskipun mutlak
tak seluruhnya sama. Namun Suze memang selalu
akrab dengan dunianya publishers,
suka menebar senyum, beberapa dekade terakhir ini akrab dengan dunianya Oprah
dan sempat menjadi tamu di sebuah acara Oprah
Winfrey Show, memang memiliki
karakteristik dan ciri khas tersendiri dalam beraudiensi dan menuangkan
beberapa karya tulisnya. Beberapa pembaca mungkin belum begitu mengenalnya
bahkan terasa asing. Namun bagi mereka yang akrab dengan dunianya pustaka,
sekitar tahun 2000-an, ibarat teman sejoli, mizan grup pernah menerbitkan
beberapa hasil karya popularnya hingga laris manis di pasaran. Tentu saja ini
hal-hal biasa saja, tak ada kekagetan sedikitpun. Namun di dunianya wacana,
dialektika, dan dunianya realita, paradigm darimana pun, dari siapapun, selagi
itu memperkaya ruang-ruang kosong dan memperkaya paradigm berpikir dalam hal
apapun terutama dunia hitung-menghitung dan dunia rasa, sungguh kehadiran karya
Suze menjadi sebuah bacaan yang selalu ditunggu-tunggu.
Dunia hitung-menghitung dan dunia rasa memang tak pernah lekang termakan
zaman dan waktu. Mereka selalu hadir di setiap ruang dan waktu seraya
terus-menerus meningkatkan ruang-ruang misteri ruang sadar siapapun. Para
peneliti otak pun pernah bercerita, sesungguhnya kehebatan Einsten, sebenarnya
hanya beberapa persen saja yang dipergunakan. Ibarat 100% persen otak tersedia,
hanya beberapa persen saja ia manfaatkan. Dan hanya dengan beberapa persen itu
saja ia manfaatkan, rumus E=mc2 terumuskan, energy atom pun cukup
mengagetkan Hiroshima dan Nagasaki. Einsten pun sadar kemudian, bahwa kehebatan
akal logika memang harus diikuti dengan keluwesan berspiritual. Anak-anak
sekolah dulu mengenalnya ilmu tanpa spiritual buta, spiritual tanpa ilmu terasa
pincang.
Kekosongan memang sebuah misteri. Akan tetapi siapapun tak pernah bisa
melupakan bahwa meskipun kiamat akan datang, aktivitas tanam menanam dan
menyiramnya sebaik-baiknya, memang aktivitas tak berkesudahan, lagi tak
mengenal waktu. (AF)