Statistik Blog

Senin, 01 April 2013

Dunia Mimpi


The Underwater World memang cinema luar biasa. Dan Plato, memang cerdik. Meskipun ia hadir di kurun abad silam, karya-karyanya cukup monumental dan sering dijadikan referensi bagi mereka yang ‘kepepet’ gagasannya kurang sempurna. Andai tak salah, gurunya ternama Socratres, dikenal kemudian sebagai bapak logika yang tertib dan teratur dalam merangkai sejumlah tata tertib berpikir atau kaum filosof bilang sebagai dunianya logika. Baginya, kebahagiaan  sungguh berada pada kesempurnaan akal. Seperti halnya dalam dunia quantum, bahwa akal mempunyai logikanya sendiri seperti halnya menjelajahi dunia hati yang relative kondusif. 
 
Dialog Socrates, pustaka ‘diam-diam’ yang sempat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ini memang cukup inspiratif. Ukurannya tipis, meskipun mesti berbolak-balik lembar perlembar untuk memahami isi kandungannya, pesan Socrates itu memang cukup agak lincah dan agak ‘nakal’ kalau tak sekadar memberi kesempatan kepada pemerhatinya untuk menemukan hal-hal yang terkesan ‘lain’ dan memperkuat sejumlah argumennya. Terlepas dari hal-hal ambigu, alwasilah, seorang ahli bahasa bilang, hal penting lainnya, bahwa seorang pembahasa yang baik selalu mencari gagasan lain atau bentuk lain yang memperkuat dan menjelaskan sebuah kenyataan kekinian. Dan memang agak berbeda dengan ahli komunikasi kontemporer ternama, Bang Jalal, janganlah terlalu rumit dengan permasalahan bahasa, namun simaklah terus maksud dan tujuan keynote speaker. Pergi ke suatu tempat, memang selalu menemukan hal-hal yang istimewa.

Lalu lahirlah paradigm tentang dunia mimpi. Seperti halnya sebuah koin dua buah mata uang, ‘rada’  kaget masuk ke dalam tata dunia serba misteriusitas serba ambigu penuh kejutan-kejutan untuk membuka ruang sejumlah paradigm cara berpikir terhadap apapun itu adalah seperti apa yang dibayangkan, tentunya setelah bernegosiasi dengan abad tradisional dan abad modernitas, hal-hal bersifat pragmatis prioritas awal memang selalu menjadi bagian dari pola perilaku abad terkini. Maka inilah yang Clinton sebut, bahwa lompatan akal memang mahal dan cukup berputar-putar pada tata ruang dan waktu yang hampir sama disejajarkan dengan lompatan suara hati yang konon hampir sama-sama unggul dan cepat dalam menjelaskan apapun hingga dijadikan sebuah inspirasi dalam mengambil sebuah kebijakan. Cinema The Underwater World dengan background sebuah kehidupan pulau yang nyaman dan kehidupan bawah air penuh misteri, sebenarnya yang lebih menarik adalah menghadirkan gagasan-gagasan brilyan dalam ‘cpu’ otak dunia humanism atas kesepakatan dunia realitas kini dengan sejumlah rangkaian yang mengelilinginya, hingga sadar tak sadar, dunia off line, face to face, take and give, yes or no, smiles and what, memang sesuatu fenomenal. (AF)