Mungkin
ini biasa saja. Namun siapa yang tidak ingin membayangkan, bahwa dalam
sepanjang kehidupannya, gagasan dan hal-hal yang bermanfaat dan bernilai tinggi, semakin terus menemani dan menyentuh dalam
setiap sisi kehidupan. Kehidupan semakin lebih nyaman, karena beban materi
spiritual semakin bisa dikendalikan, kehidupan semakin lebih terang, karena
paradigm yang dibangun berdasarkan pada nilai-nilai luhur dan terus menjadi ruh
dalam setiap gerak langkah kehidupan. Bang Dian, menyebutnya ini sebagai
dasar-dasar dalam berapresiasi sastra.
Spiritualitas dan Religiusitas
Dalam
berapresiasi sastra, menurut Bang Dian, siapapun harus memiliki orientasi yang
bermakna. Pertama,
setidaknya-tidaknya bahwa berapresiasi sastra semata-mata didorong karena
nilai-nilai spiritual dan religiusitas yang dibangun atas dasar pemahaman,
pendalaman, dan kontinyuitas yang terus menerus tanpa kenal menyerah terhadap
nilai-nilai tersebut. Selain itu, ini membutuhkan juga empatisme yang luar
biasa dalam memahami karakteristik kejiwaan humanism maupun non humanism
sebagai bagian dari inspirasi dalam menuangkan gagasan hingga menjadi ibarat
sebuah menu makanan siap saji yang sehat dan tentunya menyehatkan.
Pengabdian Pada Masyarakat
Kedua, adalah nilai-nilai sosial.
Pengabdian terhadap kemajuan peradaban masyarakat merupakan energy yang
semestinya turut menjiwai dalam setiap karya sastra yang hendak diciptakan. Masyarakat adalah ruang
lingkup sosial dan media untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang hendak dibangun,
setidak-tidaknya demikian informasi yang seringkali dilontarkan para petinggi
negeri ini dari dulu hingga akhir-akhir ini.
Komersialitas
Dan ketiga, tentu saja nilai-nilai
komersialitas. Nilai-nilai komersialitas sebenarnya bukan perkara yang susah
dan tidak perlu disusah-susahkan meskipun kenyataannya terkadang memang agak
susah. Selain karena komersialitas memasuki wilayah sensitifitas dan wilayah banyak
sedikitnya angka-angka yang terkadang membutuhkan banyak pertimbangan moral dan
bersifat kontemporer tidak tetap, nilai-nilai komersialitas memang membutuhkan
kebijaksanaan luar biasa. Namun apapun alasannya itu, bahwa pada prinsipnya
setiap perjuangan memang membutuhkan tenaga dan tentu saja membutuhkan juga sesuatu
yang bersifat spiritual maupun bersifat materi angka-angka untuk kelangsungan
berapresiasi sastra. Dan tentu saja teori tentang keserbabetulan selalu
disejajarkan dengan teori tentang daun-daun yang berjatuhan. Jadi jangan
sungkan-sungkan, terus berusaha dan terus produktif menangkap pesan-pesan, Bang
Diponegoro menyebutnya ini ilham, yang terkadang seringkali terabaikan dalam
setiap sisi kehidupan sebagai sebuah inspirasi yang turut membangun dalam
mengkonfigurasikan ulang tentang sebuah konfigurasi bangunan masyarakat yang
selayak-layaknya. Meskipun ini tugas seorang pekerja seni, namun di era
demokratis ini, apapun tidak ada yang tidak mungkin asalkan sama-sama saling membahagiakan.
(AF)