Statistik Blog

Senin, 01 April 2013

Bekal Berapresiasi Sastra


Tolstoy, seandainya tak salah, sastrawan terkemuka abad modern pun mempunyai kebiasaan khas dalam mengapresiasi berbagai gagasan yang berserakan di sekeliling kita. Dengan kemahirannya mendaur ulang sesuatu yang belum bernilai seni tinggi hingga menjadi karya sastra yang mendunia, kebiasaan Tolstoy sungguh cerdik dalam memanfaatkan daya fikirnya dalam menangkap fenomena alam sekitarnya, hingga seperti air mengalir saja karya sastranya menjadi buah bibir bagi kalangan dan pemerhati dunia novelis, fiksi, hingga non fiksi. 
 
Mungkin ini biasa saja. Namun siapa yang tidak ingin membayangkan, bahwa dalam sepanjang kehidupannya, gagasan dan hal-hal yang bermanfaat dan bernilai tinggi,  semakin terus menemani dan menyentuh dalam setiap sisi kehidupan. Kehidupan semakin lebih nyaman, karena beban materi spiritual semakin bisa dikendalikan, kehidupan semakin lebih terang, karena paradigm yang dibangun berdasarkan pada nilai-nilai luhur dan terus menjadi ruh dalam setiap gerak langkah kehidupan. Bang Dian, menyebutnya ini sebagai dasar-dasar dalam berapresiasi sastra.

Spiritualitas dan Religiusitas
Dalam berapresiasi sastra, menurut Bang Dian, siapapun harus memiliki orientasi yang bermakna. Pertama, setidaknya-tidaknya bahwa berapresiasi sastra semata-mata didorong karena nilai-nilai spiritual dan religiusitas yang dibangun atas dasar pemahaman, pendalaman, dan kontinyuitas yang terus menerus tanpa kenal menyerah terhadap nilai-nilai tersebut. Selain itu, ini membutuhkan juga empatisme yang luar biasa dalam memahami karakteristik kejiwaan humanism maupun non humanism sebagai bagian dari inspirasi dalam menuangkan gagasan hingga menjadi ibarat sebuah menu makanan siap saji yang sehat dan tentunya menyehatkan.



Pengabdian Pada Masyarakat
Kedua,  adalah nilai-nilai sosial. Pengabdian terhadap kemajuan peradaban masyarakat merupakan energy yang semestinya turut menjiwai dalam setiap karya sastra yang  hendak diciptakan. Masyarakat adalah ruang lingkup sosial dan media untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang hendak dibangun, setidak-tidaknya demikian informasi yang seringkali dilontarkan para petinggi negeri ini dari dulu hingga akhir-akhir ini.

Komersialitas
Dan ketiga, tentu saja nilai-nilai komersialitas. Nilai-nilai komersialitas sebenarnya bukan perkara yang susah dan tidak perlu disusah-susahkan meskipun kenyataannya terkadang memang agak susah. Selain karena komersialitas memasuki wilayah sensitifitas dan wilayah banyak sedikitnya angka-angka yang terkadang membutuhkan banyak pertimbangan moral dan bersifat kontemporer tidak tetap, nilai-nilai komersialitas memang membutuhkan kebijaksanaan luar biasa. Namun apapun alasannya itu, bahwa pada prinsipnya setiap perjuangan memang membutuhkan tenaga dan tentu saja membutuhkan juga sesuatu yang bersifat spiritual maupun bersifat materi angka-angka untuk kelangsungan berapresiasi sastra. Dan tentu saja teori tentang keserbabetulan selalu disejajarkan dengan teori tentang daun-daun yang berjatuhan. Jadi jangan sungkan-sungkan, terus berusaha dan terus produktif menangkap pesan-pesan, Bang Diponegoro menyebutnya ini ilham, yang terkadang seringkali terabaikan dalam setiap sisi kehidupan sebagai sebuah inspirasi yang turut membangun dalam mengkonfigurasikan ulang tentang sebuah konfigurasi bangunan masyarakat yang selayak-layaknya. Meskipun ini tugas seorang pekerja seni, namun di era demokratis ini, apapun tidak ada yang tidak mungkin asalkan sama-sama saling membahagiakan. (AF)