Statistik Blog

Senin, 29 April 2013

Sabar

ALJAUZIYAH, seorang sufi klasik, yang banyak melahirkan karya tulis ternama, pernah mengibaratkan sabar seperti sebuah buah-buahan yang tumbuh dari pepohonan karena pengelola terus menerus tekun menanam dan merawat pepohonan tersebut dengan sebaik-baiknya. Pepatah yang sering teringat masa kanak-kanak hingga kini pun pernah mengingatkan: berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Sabar, memang memerlukan kesungguhan, rutinitas, pembiasaan, dan muhasabah atau selalu terus memperhitungkan apa yang telah diperbuat selama rentang waktu sehari, seminggu, sebulan, bahkan aktivitas selama tahunan.      

Buah kesabaran bukan hanya saja menguntungkan diri sendiri, namun buah kesabaran akan berdampak luar biasa pada lingkungan yang lebih luas lagi. Lingkungan rumah, lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah, maupun lingkungan pekerjaan.  Quantum learning menyebutnya ini sebagai upaya untuk memperluas zona nyaman. Kebahagiaan, cerdas mengelola tingkat kecerdasan pribadi, kemampuan mengatur waktu dan aktivitas seefektif mungkin, hingga memanfaatkan dan memberdayakan sumber daya yang ada di lingkungan terdekat, adalah sesuatu yang sangat berharga. Bahkan covey, seorang penulis produktif dan pengusaha sukses yang memiliki jaringan perusahaan terbesar pun mengibaratkan ini sebagai sebuah bagian dari 7 (tujuh) kebiasaan efektif manusia. Bahwa antara sisi internal (dalam) manusia dan sisi eksternal (luar) manusia atau lingkungan, terdapat kekuatan dan hubungan harmonis yang dapat dikembangkan dan dikelola sedemikian rupa. 

Sabar, identik dengan arrohim atau kasih sayang. Inilah sebenarnya kekuatan dasar,  seperti cahaya yang keluar perlahan hingga menyebar ke setiap penjuru tempat. Tidak ada apapun itu selain gelap menjadi terang, ilmu pengetahuan meluas, aktivitas semakin bermakna dan memaknai sisi kehidupan lainnya. (dari berbagai sumber)