Statistik Blog

Senin, 01 April 2013

Cerdas Berperan


Hebatnya menyelami dunia humanism itu adalah seperti halnya beraninya memerankan peran untuk tidak segan-segan melemparkan dua buah dadu, atau sederhananya mendeskripsikan ulang filosofi sebuah visi dan misi, sembari memahami estetika arsitektur,  becermin pada estetika dunia gerak dan berkolaborasi dengan tata ruang dunia yang sudah diatur sedemikian rupa, bahwasannya dunia memang teramat luas dan siapapun berhak bahkan berkewajiban untuk mengapresiasinya dan memanfaatkannya sesuai dengan kemampuan dan keinginan.
 
Seorang pekerja, memang harus memerankan diri sebagai pekerja sebaik-baiknya dengan memahami job description atau langkah-langkah kerja yang telah digariskan oleh seorang manager atau pimpinan, baik sebuah institusi social ataupun sebuah perusahaan. Seorang Freelance atau pekerja lepas memang harus turut lincah dan gesit untuk bersama-sama menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, nyaman, dan saling membangun serta mengisi hal-hal yang dianggap kurang baik dan tidak selaras dengan kebiasaan umum. Dan bagi mereka yang sudah ‘melampaui definisi’ tentang sebuah pekerjaan atau mereka yang bergerak di tataran atas, mereka yang sudah mapan dan nyaman, atau mereka yang sudah memiliki waktu, saat kebanyakan orang mengejar waktu, cara untuk berbagi memang teramat banyak caranya. Berbagi gagasan baik-baik, baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, melancarkan lahan untuk berusaha, atau cukup tersenyum apa adanya, rupanya sebuah jalan yang cukup bijaksana dan baik untuk terus menyambut kehidupan, yang bisa saja diketemukan di dunia nyata maupun dunia on air atau dunia tanpa batas.            

Memilah-milih peran pun memang penting. Aktivitas belajar dengan berbagai macam bentuk dan orientasinya memang teramat luas. Dan satu hal yang pasti, bahwa belajar itu memang tak pernah ada akhirnya, selama dunia terus berputar dan selama energy kebersamaan untuk terus bergerak maju masih terus tetap ada. Selebihnya memang harus terus pandai-pandai menata-ulang dan memelihara nilai-nilai yang sudah terbangun masa silam. Dunia humanism adalah seperti halnya fenomena cinema zathura tempo dulu. Berani melangkah, harus berani dan selalu siap siaga pula menghadapi warna-warni fenomena yang kelak muncul tanpa pernah terduga-duga sebelumnya. Dan sepertinya, Bang Putu, juga lebih mahir, cerdas dan akrab tentang hal-hal seperti ini. (AF)