Berbagai bentuk binatang, entah darimana datangnya, tiba-tiba saling bermunculan berlarian entah
menuju kemana. Burung-burung, bebas menukik tajam seakan ingin memburu
mangsanya namun kemudian mereka sepertinya kaget melihat bayangannya sendiri.
Gajah, dengan the big foot-nya seolah miris tercubit segerombolan semut, lalu lari terbirit-birit mengisi komposisi
khas liar alam rimba pada town
environment yang sengaja ditampakkan begitu kontras oleh sutradara.
Konfigurasi visual, isi cerita, latar yang dibentuk dalam jumanji, memang tak jauh berbeda dengan zathura. Kemampuan menghadirkan the past of image, bukan saja menguatkan isi sebuah
cerita, namun tempo hingga alur sebuah cerita pun semakin membuat penikmat movies lover pada akhirnya tak takut memasukkan kedua
tangannya ke dalam saku baju mereka. Bahkan mereka membekali berbagai pilihan
dan paradigm, bahwa lagi-lagi
inspirasi tak hanya sekadar dapat ditemukan dalam kehidupan nyata. Image, yang kemudian sering dihubungkan
dengan the dream of reality terkadang
menjadi bahan pertimbangan dalam menciptakan gagasan-gagasan dan pengambilan
sebuah keputusan. Namun lagi-lagi tak sesederhana itu, realitas tercipta bukan
hanya karena perkenan the wise of God semata,
akan tetapi juga cerdas membaca konfigurasi system beserta rangkaiannya yang cenderung
bosan dengan iklim stagnasi namun cenderung ‘liar’ mencari dan menemukan
keseluruhan jati dirinya seiring dengan keseluruhan experience of life nya, education, dan anatomi biologis nya yang
cenderung tunduk, patuh, dan senantiasa proaktif beradaptasi dengan hukum alam.
Jumanji, Zathura, The God Must Be Crazy, meskipun dianggap not
update, akan tetapi mereka hampir bersamaan mencoba memfokuskan sebuah tema bahwa sebuah keajaiban, keluarbiasaan,
kemisteriusan, bukan hanya karena ilmu pengetahuan telah mendahului dan berdiri
pada tingkatan tertentu dimana dimensi kesadaran beserta anatomi biologisnya relative
dan cenderung seperti tangga nada dan serupa dengan arah perputaran jam yang
selalu kembali pada asalnya dengan nuansa yang terkadang berbeda, akan tetapi
hal-hal yang dianggap aneh pun terkadang lahir karena akal, memori, system biologis
cenderung menerima dan mengolah informasi yang dianggap wajar dan sudah umum.
Manakala informasi terbaru belum terekam dalam memori, keseluruhan biologis
perlahan-lahan mencoba
menyaring, beradaptasi, dan diam-diam menyimpan informasi
tersebut manakala informasi terbaru tersebut bermanfaat dan saling menguatkan
dengan informasi yang telah ada dalam memori. Ada pepatah lama mengingatkan bahwa
keahlian, kecerdasan, keluarbiasaan tercipta karena ilmu pengetahuan senantiasa
berulang-ulang dilakukan dan menjadi sebuah kebiasaan. Ilmu pengetahuan akan
hilang, manakala ilmu pengetahuan tersebut ditinggalkan lalu dilupakan. Dulu
ada seorang pianis timur dengan struktur anatomi yang kurang sempurna namun karena
kesungguhan, pola didik, lingkungan yang dibangun, dan motivasi yang
terus-menerus dibangun oleh teman dan orang tuanya, tidak lama beberapa tahun
kemudian kemampuannya bahkan hampir bisa disejajarkan dengan pianis senior seperti Stevie Wonder, Indra Lesmana, Idang Rasjidi, atau Jaya Suprana sekalipun.
Beberapa penghargaan dalam berbagai bentuk, dalam strategi quantum learning, meskipun seringkali dianggap not update, langkah-langkah tersebut dianggap menjadi sebuah
penghantar untuk keberhasilan-keberhasilan selanjutnya.
Tentu saja cerminan mereka yang sudah dianggap
berhasil dalam mengisi perjalanan sejarah bukan hanya semata terlahir di
belantara seni saja. Hampir serupa dengan imajinasi yang ditawarkan dalam Doraemon Movie, dalam diri apapun,
siapapun, dan kapanpun, memiliki keluarbiasaan tersembunyi yang hanya dapat
muncul dan menonjol kemampuannya manakala lingkungan sekitar senantiasa mempertanyakan,
menyatakan, dan senantiasa turut mempergunakan kemampuannya tersebut untuk
hal-hal yang bermanfaat. Kantung ajaib Doraemon
yang dapat mengeluarkan berbagai alat teknologi tercanggih wah, mungkin saja bisa dianalogikan pada apapun, siapapun dan
kapanpun karena lagi-lagi perkenan The
Wise of God, akal sehat transfer ilmu dan teknologi, atau selebihnya karena
perkenan system beserta komponen-komponennya. Diluar itu mungkin saja bisa dianggap
sebagai sebuah asumsi atau keluarbiasaan yang mesti dianalisis dan diuji hingga metamorfosa keadaannya.
[af]