Statistik Blog

Jumat, 20 September 2013

Character Building Individual




Kalau berkunjung ke perpustakaan, setidak-tidaknya memang ada beberapa hal yang dapat diperoleh. Kalau tidak memperbanyak referensi dan sumber pembicaraan yang kuat dan menarik, tentu saja nuansa dan suasana terakhir yang akan lebih memperkaya sisi-sisi ‘greget’ yang orang tua dulu bilang, jika seseorang melakukan sebuah perjalanan, kalau tidak mendapat pengetahuan, pengalaman, pendapatan, siapapun berhak menilai, bahwa langkah yang paling berharga dalam kehidupan adalah saat langkah pertama kaki terangkat menuju singgasana kebaikan. Tradisi religiusitas menilai bahwa hanya dengan niat baik saja tanpa dilakukan, pahala akan mengalir begitu saja. Memang sisi luar biasa ini tidak jauh berbeda dengan ungkapan filosofi klasik konfutze, bahwa perjalanan jauh selalu diawali dengan satu langkah. Seperti halnya logika catur, serangan tak beraturan, tentu saja sangat brilian untuk siapapun jalankan termasuk seorang kasparov sekalipun.
Jauh dari hal-hal tersebut di atas, sedikit menyentuh dunia komunikasi, sebenarnya ada beberapa tipe yang sangat mengagumkan pada sisi character building individual, namun terkadang orang lupa untuk mensyukurinya. Pertama, mereka yang lihai dalam berverbal, namun sangat sulit dalam mengungkapkan pada apresiasi ‘insya’ atau dunianya tulis menulis. Kedua, mereka yang mahir seperti air mengalir dalam tulis menulis, namun sangat susah untuk mengungkapkannya dalam dunianya ‘muhadatsah’ atau dunianya komunikasi lisan. Dan yang terakhir, adalah mereka yang hebat  di komunikasi lisan, hebat juga di komunikasi tulisan. Yang terakhir ini memang sangat susah diketemukan. Selain karena faktor genesitas keturunan, faktor pendidikan dan lingkungan terdekat pun, termasuk lingkungan keluarga, disinyalir sangat berpengaruh  besar dalam membentuk sebuah character building individual yang diharapkan.
Dalam the education world, sebuah kemahiran terbentuk karena ilmu pengetahuan yang diperoleh, bukan hanya sebuah literatur yang tersimpan baik di sebuah pajangan menjadi sebuah barang yang berharga semata, namun ilmu pengetahuan tersebut sudah menjadi sebuah referensi dan kebiasaan yang terus menerus dilakukan, diulang-ulang, dan terus menerus dipelajari, termasuk sisi lebih dan sisi kurangnya. Untuk menjadi seorang pribadi yang bisa luwes dan mahir berjalan, tentu mereka dulu berawal dari seorang anak balita yang berusaha jatuh bangun, untuk sekadar ingin berdiri, berjalan, hingga berlari sekencang-kencangnya. Dan lagi-lagi, peranan dan bimbingan orang tua, lingkungan, termasuk referensi ilmu pengetahuan, sangat berpengaruh besar dalam membentuk character building individual. Dan ini, selain hanya sebuah wacana, asumsi, dan kenyataan semata, tinggi rendahnya kualitas character building individual, sangat sejajar dan sangat lurus dengan tinggi rendahnya kemauan, kemampuan, dan tentu saja sebuah motivasi dari berbagai pihak, termasuk pengawasan keluarga terdekat, dimana kebanyakan orang sering menyebutnya sebuah dorongan. [af, dbs]