Jauh dari
hal-hal tersebut di atas, sedikit menyentuh dunia komunikasi, sebenarnya ada beberapa
tipe yang sangat mengagumkan pada sisi character
building individual, namun terkadang orang lupa untuk mensyukurinya. Pertama,
mereka yang lihai dalam berverbal, namun sangat sulit dalam mengungkapkan pada
apresiasi ‘insya’ atau dunianya tulis
menulis. Kedua, mereka yang mahir seperti air mengalir dalam tulis menulis,
namun sangat susah untuk mengungkapkannya dalam dunianya ‘muhadatsah’ atau dunianya komunikasi lisan. Dan yang terakhir, adalah
mereka yang hebat di komunikasi lisan, hebat
juga di komunikasi tulisan. Yang terakhir ini memang sangat susah diketemukan. Selain
karena faktor genesitas keturunan, faktor pendidikan dan lingkungan terdekat
pun, termasuk lingkungan keluarga, disinyalir sangat berpengaruh besar dalam membentuk sebuah character building individual yang
diharapkan.
Dalam the education world, sebuah kemahiran
terbentuk karena ilmu pengetahuan yang diperoleh, bukan hanya sebuah literatur
yang tersimpan baik di sebuah pajangan menjadi sebuah barang yang berharga semata,
namun ilmu pengetahuan tersebut sudah menjadi sebuah referensi dan kebiasaan
yang terus menerus dilakukan, diulang-ulang, dan terus menerus dipelajari, termasuk
sisi lebih dan sisi kurangnya. Untuk menjadi seorang pribadi yang bisa luwes dan
mahir berjalan, tentu mereka dulu berawal dari seorang anak balita yang
berusaha jatuh bangun, untuk sekadar ingin berdiri, berjalan, hingga berlari sekencang-kencangnya.
Dan lagi-lagi, peranan dan bimbingan orang tua, lingkungan, termasuk referensi
ilmu pengetahuan, sangat berpengaruh besar dalam membentuk character building individual. Dan ini, selain hanya sebuah wacana,
asumsi, dan kenyataan semata, tinggi rendahnya kualitas character building individual, sangat sejajar dan sangat lurus
dengan tinggi rendahnya kemauan, kemampuan, dan tentu saja sebuah motivasi dari
berbagai pihak, termasuk pengawasan keluarga terdekat, dimana kebanyakan orang sering
menyebutnya sebuah dorongan. [af,
dbs]